BALI – Dinamika ekonomi global yang bertransisi menuju era Masyarakat 5.0 menuntut pemahaman mendalam mengenai fondasi ilmunya, terutama ekonomi mikro. Fenomena ini menjadi sorotan utama dalam sebuah diskusi podcast yang disiarkan di kanal YouTube NusantaraMurni.com pada Jumat, 11 Desember 2025, pukul 19.00 WITA.
Acara yang berlangsung di Rantang Mama, Indonesian Speciality Restaurant, ini menampilkan akademisi terkemuka, Prof. Dr. Drs. I Nyoman Tingkes, M.M., Guru Besar Ilmu Ekonomi, sebagai narasumber utama. Diskusi dipandu secara lugas oleh Mujiardi Santoso, Pemimpin Redaksi NusantaraMurni.com, dan berhasil mengupas tuntas isu-isu fundamental ekonomi mikro dalam konteks disrupsi teknologi terkini.
Konseptualisasi Ekonomi Mikro di Jantung Masyarakat 5.0
Mengawali perbincangan, Prof. Tingkes memberikan definisi yang komprehensif mengenai ilmu ekonomi mikro dalam bingkai Masyarakat 5.0—sebuah konsep sosiologis yang mengintegrasikan ruang siber dan ruang fisik secara harmonis untuk memecahkan masalah sosial.
“Secara esensial, ekonomi mikro adalah studi yang menganalisis perilaku unit-unit ekonomi individual, seperti konsumen, produsen, dan pasar tertentu. Ia berfokus pada bagaimana entitas ini membuat keputusan alokatif dalam kondisi kelangkaan (scarcity),” jelas Prof. Tingkes.
Dalam konteks Masyarakat 5.0, beliau menekankan bahwa fokus ekonomi mikro tidak berubah, tetapi lingkup penerapannya meluas secara dramatis.
Perilaku Konsumen: Analisis tidak lagi terbatas pada preferensi fisik, melainkan mencakup Big Data untuk memprediksi permintaan dan utility maximization melalui platform digital.
Perilaku Produsen:Keputusan produksi didorong oleh efisiensi yang dicapai melalui IoT (Internet of Things) dan AI (Artificial Intelligence), yang meminimalkan marginal cost dan mengoptimalkan kurva penawaran.
“Ekonomi mikro di era ini bertransformasi menjadi ekonomi mikro digital,” tegas beliau.
Kelangkaan dan Permasalahan Ekonomi
Pakar ekonomi tersebut kemudian beralih membahas kelangkaan, sebuah konsep yang ia sebut sebagai “problem sentral” dari seluruh ilmu ekonomi.
“Kelangkaan adalah kondisi fundamental di mana kebutuhan (wants) manusia tidak terbatas, sementara sumber daya (resources) yang tersedia bersifat terbatas atau langka,” urai Prof. Tingkes.
Kelangkaan inilah yang menjadi motor penggerak bagi ilmu ekonomi, memaksa individu dan masyarakat untuk melakukan pilihan (choice) dan pengorbanan (trade-off). Tanpa kelangkaan, tidak akan ada studi ekonomi, karena setiap kebutuhan dapat dipenuhi secara instan.
Lebih lanjut, kelangkaan memunculkan tiga permasalahan pokok ekonomi yang harus dijawab oleh setiap sistem perekonomian:
-Apa (What) yang harus diproduksi? (Jenis dan kuantitas barang/jasa).
-Bagaimana (How) cara memproduksinya? (Teknik dan kombinasi input yang paling efisien).
-Untuk siapa (For Whom) barang/jasa tersebut diproduksi? (Distribusi output).
Permasalahan ini, menurut Prof. Tingkes, tetap relevan meskipun teknologi telah maju pesat. Bahkan, teknologi Masyarakat 5.0 menciptakan kelangkaan baru, seperti kelangkaan data berkualitas tinggi dan kelangkaan talenta digital yang mampu mengelola otomatisasi.
Menutup sesi diskusi yang insightful, Prof. Tingkes memberikan panduan bagi audiens yang ingin mendalami ilmu ekonomi, baik mikro maupun makro.
“Titik awal fundamental untuk mempelajari ilmu ekonomi bukanlah matematika yang rumit, melainkan pemikiran kritis dan logis tentang pilihan,” sarannya.
Beliau menyarankan untuk memulai dengan memahami sepuluh prinsip ekonomi, yang diringkas dalam beberapa poin kunci:
Orang Menghadapi Trade-off: Prinsip bahwa untuk mendapatkan sesuatu, kita harus mengorbankan hal lain.
Biaya adalah Apa yang Anda Korbankan (Opportunity Cost): Memahami nilai dari kesempatan terbaik yang dilepaskan.
Orang Rasional Berpikir pada Batas (Marginal): Keputusan dibuat dengan membandingkan manfaat marjinal dan biaya marjinal.
“Setelah menguasai logika ini, baru kita lanjutkan dengan memahami kurva permintaan dan penawaran sebagai model dasar bekerjanya pasar. Inilah abjad dari literasi ekonomi,” tutup Prof. Tingkes, memberikan penekanan pada pentingnya kerangka berpikir yang analitis.
Diskusi di Rantang Mama ini tidak hanya mengukuhkan relevansi ilmu ekonomi mikro di tengah Masyarakat 5.0, tetapi juga menegaskan bahwa tantangan kelangkaan, meskipun bermetamorfosis, akan selalu menjadi variabel konstan dalam persamaan perekonomian manusia.
Penulis : AR







