SUMENEP, Senin, 23/3/2026– Nama Taman Jajanan Masyarakat (Tajamara) yang berlokasi strategis di pusat kota selama ini dielu-elukan sebagai ikon wisata kuliner di Kabupaten Sumenep. Namun di balik predikat tersebut, realita di lapangan justru menghadirkan ironi yang sulit diabaikan.
Sebagai kawasan yang dibangun dengan harapan besar menjadi pusat keramaian sekaligus penggerak ekonomi masyarakat, Tajamara seharusnya mampu hidup sepanjang waktu. Sayangnya, kondisi yang terlihat saat ini masih jauh dari harapan.
Berdasarkan pantauan di lokasi, hingga H+3 Hari Raya Idulfitri 1447 Hijriah/2026, yang seharusnya menjadi momentum puncak aktivitas masyarakat, kawasan Taman Tajamara justru tampak lengang pada pagi hingga sore hari. Nyaris tidak terlihat aktivitas berarti.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kawasan yang digadang-gadang sebagai pusat kuliner itu seolah kehilangan denyut kehidupan di waktu-waktu strategis.
Aktivitas baru mulai terlihat ketika sore menjelang malam. Pedagang perlahan membuka lapak, lampu-lampu mulai menyala, dan pengunjung mulai berdatangan. Namun kondisi ini memunculkan kritik mengapa Tajamara hanya hidup setengah hari, sementara potensi pagi hingga siang hari dibiarkan tidak tergarap? Padahal, jika dikelola secara optimal, Tajamara memiliki peluang besar menjadi ruang publik yang aktif sejak pagi.
Deretan kuliner sarapan khas, aktivitas masyarakat yang berolahraga lalu singgah menikmati hidangan, hingga wisatawan yang menghabiskan waktu santai sejak pagi hari, merupakan potensi nyata yang seharusnya bisa diwujudkan.
Kondisi ini pun memicu kritik terhadap pola pengelolaan yang dinilai stagnan. Tajamara terkesan hanya berjalan “apa adanya”, tanpa inovasi yang mampu menghidupkan kawasan secara menyeluruh. Padahal, sebagai ikon daerah, Tajamara semestinya menjadi wajah kemajuan, bukan sekadar tempat yang ramai di waktu tertentu saja.
Dorongan kepada dinas terkait pun semakin menguat. Inovasi kini bukan lagi sekadar pilihan, melainkan kebutuhan mendesak. Pengelolaan berbasis waktu penuh, dari pagi hingga malam, dinilai sebagai langkah konkret untuk mengoptimalkan potensi yang ada.
“Jangan hanya ramai saat sore. Kalau ingin serius menjadikan Tajamara sebagai ikon wisata kuliner, maka harus hidup dari pagi hingga malam,” menjadi suara yang kini berkembang di tengah masyarakat.
Lebih dari itu, Tajamara tidak hanya berbicara tentang tempat berkumpul, tetapi juga menyangkut potensi peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Jika dikelola secara maksimal, perputaran ekonomi bisa berlangsung sepanjang hari, memberikan keuntungan bagi pedagang, kenyamanan bagi pengunjung, serta manfaat nyata bagi daerah.
Namun jika kondisi ini terus dibiarkan, kekhawatiran pun muncul. Tajamara berpotensi berubah menjadi monumen kegagalan tata kelola ruang publik, megah dalam konsep, namun lemah dalam pelaksanaan.
Kini, semuanya kembali pada keseriusan pemerintah daerah. Apakah Tajamara akan benar-benar dihidupkan sebagai kebanggaan Sumenep dan pusat ekonomi baru ataukah dibiarkan berjalan setengah hati, menjadi simbol potensi yang terabaikan.







