Fadli Zon: Ziarah Gunung Kawi Adalah Mozaik Tradisi Lama dan Penggerak Ekonomi Rakyat

Rabu, 8 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Menteri Kebudayaan meminta publik melihat fenomena budaya secara objektif di tengah ramainya narasi mistis di media sosial. Foto: istimewa)

Menteri Kebudayaan meminta publik melihat fenomena budaya secara objektif di tengah ramainya narasi mistis di media sosial. Foto: istimewa)

JAKARTA — Menteri Kebudayaan Fadli Zon memberikan tanggapan resmi terkait dinamika sosial yang berkembang di masyarakat mengenai aktivitas ziarah di Gunung Kawi, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Belakangan ini, kawasan wisata religi tersebut ramai diperbincangkan di berbagai platform media sosial menyusul beredarnya konten digital yang mengaitkan praktik ritual setempat dengan narasi pesugihan dan mistisisme negatif.

 

Menurut Fadli Zon, fenomena kultural di Gunung Kawi semestinya dipandang melalui perspektif yang lebih luas dan bijaksana, yakni sebagai bagian integral dari keberagaman tradisi serta warisan budaya lama yang telah lama hidup bersanding bersama masyarakat Indonesia.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Gunung Kawi ya, itu kan kita keberagaman kita di dalam memahami termasuk apa yang terjadi tidak hanya di Gunung Kawi dan di berbagai tempat, itu satu hal yang merupakan mozaik dari tradisi dan budaya lama,” ujar Fadli Zon saat memberikan keterangan pers kepada awak media di Jakarta, Senin (6/7).

Lebih lanjut, Fadli menegaskan bahwa pemerintah memandang positif setiap ekspresi budaya sepanjang kegiatan tersebut mampu memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat setempat serta tidak membawa dampak yang merusak tatanan sosial maupun lingkungan fisik sekitarnya.

 

“Saya kira selama itu bisa memberikan kebaikan, terutama mendatangkan ekonomi budaya bagi masyarakat setempat, dan tidak mengganggu dan tidak merusak, tentu itu kita anggap sebagai realitas kehidupan kita.”— Fadli Zon, Menteri Kebudayaan

 

Fadli juga menambahkan bahwa fenomena ini merupakan bentuk nyata dari “ekonomi budaya”, di mana adat istiadat mampu berdikari secara finansial dan menopang hajat hidup orang banyak melalui sektor pariwisata lokal.

 

*Kisah Sejarah di Balik Kabut Mistis*

 

Terlepas dari maraknya stigma dan simplifikasi yang kerap diamplifikasi oleh algoritma media sosial, kompleks Pesarean Gunung Kawi sesungguhnya menyimpan rekam jejak sejarah perjuangan dan akulturasi budaya yang mendalam. Tempat yang diselimuti udara sejuk ini merupakan kompleks pemakaman dari dua tokoh religius terhormat abad ke-19, yaitu Raden Mas Soeryo Koesoemo (Kiai Zakaria II) yang akrab disebut Eyang Djoego, serta Raden Mas Iman Soedjono.

Berdasarkan catatan sejarah daerah, kedua tokoh tersebut merupakan bangsawan sekaligus bagian dari sisa laskar pejuang Pangeran Diponegoro. Pasca-berakhirnya Perang Jawa, mereka memilih jalur kultural-spiritual dengan membuka lahan di lereng Gunung Kawi, mengajarkan teknik pertanian, pengobatan alternatif, serta nilai-nilai luhur keagamaan kepada masyarakat tanpa memandang sekat etnisitas maupun agama.

*Harmoni Tradisi Suro*

Kompleks makam ini secara rutin dikunjungi oleh ribuan peziarah dari berbagai penjuru tanah air, khususnya pada momentum perayaan Tahun Baru Hijriah. Setiap tanggal 1 Muharam, atau yang dikenal luas oleh masyarakat Jawa sebagai malam 1 Suro, lingkungan Pesarean Gunung Kawi menyelenggarakan prosesi budaya yang agung.

Rangkaian ritual tahunan tersebut meliputi kegiatan kirab budaya warga, arak-arakan gunungan hasil bumi, hingga prosesi tabur bunga di makam suci. Menariknya, prosesi ini juga dihadiri secara masif oleh warga keturunan Tionghoa, yang merefleksikan kuatnya akulturasi budaya dan keharmonisan sosial yang telah mengakar selama ratusan tahun di lereng Gunung Kawi.

Bagi masyarakat sekitar, menjaga eksistensi Pesarean bukan sekadar merawat ritus kuno, melainkan menghidupkan urat nadi ekonomi lokal—mulai dari penginapan, pedagang bunga mawar, perajin dupa, hingga sektor UMKM makanan tradisional. (BG17/Red)

Berita Terkait

Upaya Penyelundupan Handphone oleh Pengunjung Rutan Kelas 1 Jakpus Berhasil Digagalkan Petugas
Desak Transparasi RAT Puluhan Anggota Koperasi UKP DLH Pemalang Gandeng Pengacara 
Pembangunan Koperasi Merah Putih di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok Menuai Penolakan Ahli Waris
Ziarah HUT ke-81 TNI, Kodim 0827/Sumenep Kenang Jasa Pahlawan dan Teguhkan Pengabdian
Pondasi Koperasi Merah Putih Berdiri di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok, Keturunan Keberatan
Bos CV Ayunda Menikahi Dian Mariana di Banyuwangi, Ribuan Tamu Dikejutkan Hadiah Umrah, 10 Oktober Resepsi Berlanjut di Pamekasan
Dugaan Kelalaian Medis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan: Kuasa Hukum Soroti ‘Misteri’ 33 Jam Tanpa Visite Dokter Spesialis
SELESAI, TUNAI, TUNTAS

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 18:10 WIB

Upaya Penyelundupan Handphone oleh Pengunjung Rutan Kelas 1 Jakpus Berhasil Digagalkan Petugas

Selasa, 29 September 2026 - 18:08 WIB

Desak Transparasi RAT Puluhan Anggota Koperasi UKP DLH Pemalang Gandeng Pengacara 

Selasa, 29 September 2026 - 17:09 WIB

Pembangunan Koperasi Merah Putih di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok Menuai Penolakan Ahli Waris

Selasa, 29 September 2026 - 14:06 WIB

Ziarah HUT ke-81 TNI, Kodim 0827/Sumenep Kenang Jasa Pahlawan dan Teguhkan Pengabdian

Selasa, 29 September 2026 - 13:31 WIB

Pondasi Koperasi Merah Putih Berdiri di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok, Keturunan Keberatan

Berita Terbaru