Ketika Teori Kuliah Bertemu Sekat Triplek: Pelajaran Pendidikan dari SDN Panaongan III

Rabu, 7 Oktober 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP — Pendidikan tidak selalu berlangsung di ruang kelas yang luas, gedung yang megah, atau fasilitas pembelajaran yang serba lengkap. Kadang, pendidikan justru memperlihatkan makna terdalamnya di ruang yang sederhana di antara keterbatasan, kreativitas, dan kemauan untuk terus belajar.

Pemandangan itulah yang ditemui empat mahasiswa Universitas PGRI Sumenep ketika melakukan observasi pembelajaran Ilmu Pengetahuan Alam dan Sosial (IPAS) di SDN Panaongan III, Selasa (6/10/2026).

Keempat mahasiswa tersebut adalah Moh. Erik Yulianto, Mariana Afifah, Roviatul Jamilia, dan Moh. Danil. Mereka datang bukan sekadar untuk memenuhi tugas akademik, tetapi juga untuk melihat secara langsung bagaimana teori pendidikan yang selama ini mereka pelajari di bangku kuliah berhadapan dengan realitas sekolah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Mereka diterima langsung oleh Kepala SDN Panaongan III, Agus Sugianto, S.Pd., di ruang guru yang untuk sementara menggunakan ruang kelas I. Kantor dan ruang guru sekolah masih dalam proses rehabilitasi.

Agus bukan hanya kepala sekolah yang bergelut dengan dinamika pendidikan di satuan pendidikan. Ia juga dipercaya sebagai Sekretaris KKKS Kecamatan Pasongsongan dan Bendahara PGRI Cabang Pasongsongan.

Di kalangan pendidikan di Kecamatan Pasongsongan, sosok Agus juga cukup mudah dikenali karena selalu identik dengan blangkon yang dikenakannya.

Baginya, blangkon bukan sekadar pelengkap penampilan atau simbol budaya. Blangkon menjadi pengingat bahwa seorang pendidik harus mampu menjaga pikiran, ucapan, dan tindakannya.

Kepala boleh ditutup blangkon, tetapi pikiran seorang pendidik tidak boleh tertutup oleh keadaan.

Tidak Semua yang Ada di Buku Ada di Lapangan

Dalam suasana santai dan penuh kekeluargaan, Agus berdiskusi dengan keempat mahasiswa mengenai berbagai persoalan pendidikan.

Pembicaraan tidak berhenti pada bagaimana idealnya pembelajaran berlangsung, tetapi masuk pada persoalan yang sering kali tidak tertulis secara utuh dalam buku teks: keterbatasan fasilitas, karakter peserta didik, kondisi lingkungan sekolah, dinamika guru, hingga bagaimana sebuah sekolah mengambil keputusan ketika dihadapkan pada persoalan nyata.

Sebagai kepala sekolah sekaligus bagian dari organisasi profesi kepala sekolah dan guru, Agus melihat bahwa persoalan pendidikan tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan teoritis.

“Di bangku kuliah kita belajar banyak teori tentang bagaimana pendidikan seharusnya berjalan. Tetapi ketika berada di lapangan, kita akan menemukan kondisi yang tidak selalu sama dengan teori. Di situlah seorang guru dituntut tidak hanya pintar mengajar, tetapi juga mampu membaca situasi, beradaptasi, dan mengambil keputusan yang bijak,” kata Agus.

Menurutnya, kemampuan seorang guru tidak hanya diukur dari seberapa banyak teori yang dikuasai.

Guru juga harus mampu memahami anak, membaca lingkungan, membangun komunikasi, dan mencari jalan keluar ketika kondisi ideal belum dapat diwujudkan.

Sebab pendidikan bukan sekadar ilmu tentang mengajar, melainkan seni menghadirkan pembelajaran dalam situasi apa pun.

Kelas IV dan V Dipisahkan Sekat Triplek

Setelah berdiskusi, keempat mahasiswa kemudian melakukan observasi pembelajaran IPAS di kelas IV dan V.

Ada satu pemandangan yang mungkin tidak biasa bagi sebagian orang.

Kelas IV dan V berada dalam satu ruangan. Keduanya hanya dipisahkan oleh sekat papan triplek.

Namun keterbatasan ruang tersebut tidak membuat semangat belajar anak-anak ikut tersekat.

Ketika para mahasiswa memperkenalkan diri, suasana kelas langsung berubah menjadi lebih hidup. Anak-anak tampak antusias dan penuh rasa ingin tahu.

Ice breaking yang dilakukan mahasiswa membuat suasana semakin cair. Anak-anak tertawa, bergerak, dan mengikuti kegiatan dengan penuh semangat.

Para mahasiswa kemudian menyampaikan beberapa konsep IPAS dengan pendekatan yang komunikatif.

Interaksi antara mahasiswa dan siswa pun berlangsung hangat.

Di ruangan sederhana itu, terjadi sebuah proses yang sesungguhnya sangat penting dalam pendidikan: orang-orang yang sedang belajar bertemu dengan orang-orang yang kelak akan menjadi pendidik.

Pendidikan Tidak Menunggu Semuanya Sempurna

Kunjungan tersebut memberikan sebuah pelajaran sederhana tetapi mendalam.

Bahwa pendidikan tidak boleh menunggu semuanya sempurna.

Sekolah tidak harus menunggu gedung selesai direhabilitasi untuk menghadirkan pembelajaran. Guru tidak harus menunggu fasilitas lengkap untuk membuat anak-anak antusias belajar. Dan calon guru tidak harus menunggu menjadi guru sepenuhnya untuk mulai memahami realitas pendidikan.

Justru pengalaman di lapangan seperti inilah yang dapat membentuk cara pandang seorang calon pendidik.

“Sekolah yang hebat bukan selalu sekolah yang memiliki fasilitas paling lengkap. Sekolah yang hebat adalah sekolah yang mampu mengubah keterbatasan menjadi alasan untuk berinovasi dan menjadikan setiap persoalan sebagai kesempatan untuk belajar,” ujar Agus.

Ia menambahkan, mahasiswa calon guru perlu diberi kesempatan untuk melihat pendidikan dari dekat.

Sebab, menurutnya, ada perbedaan besar antara mengetahui teori pendidikan dan memahami bagaimana teori itu diterapkan ketika berhadapan dengan manusia, lingkungan, serta berbagai persoalan nyata.

Kampus dan Sekolah Harus Saling Belajar

Kunjungan empat mahasiswa Universitas PGRI Sumenep tersebut pada akhirnya bukan hanya tentang observasi pembelajaran IPAS.

Lebih jauh, kegiatan itu menjadi ruang perjumpaan antara kampus dan sekolah.

Kampus memberikan teori, konsep, dan perspektif akademik. Sementara sekolah memberikan pengalaman nyata tentang bagaimana pendidikan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari.

Keduanya tidak seharusnya berjalan sendiri-sendiri.

Calon guru membutuhkan sekolah untuk memahami realitas. Sekolah juga membutuhkan energi baru, gagasan, dan perspektif akademik dari perguruan tinggi.

Dari pertemuan sederhana di SDN Panaongan III itu, ada sebuah pesan penting bagi dunia pendidikan:

Jangan sampai kita melahirkan calon guru yang sangat memahami teori pendidikan, tetapi gagap ketika berhadapan dengan kenyataan pendidikan.

Sebab menjadi guru bukan hanya soal mampu menjelaskan materi.

Menjadi guru adalah kemampuan untuk tetap hadir ketika keadaan tidak ideal, tetap kreatif ketika fasilitas terbatas, tetap sabar ketika menghadapi persoalan, dan tetap percaya bahwa setiap anak berhak mendapatkan kesempatan untuk tumbuh.

Dan mungkin, pelajaran paling berharga bagi empat mahasiswa Universitas PGRI Sumenep hari itu bukanlah apa yang mereka temukan di dalam buku.

Melainkan apa yang mereka temukan di balik sekat triplek sebuah ruang kelas sederhana: bahwa pendidikan selalu punya cara untuk tetap hidup ketika orang-orang di dalamnya memilih untuk tidak menyerah.

Berita Terkait

60 Pil “Y” Terungkap di Gapura, Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan Pemuda 20 Tahun
JSI-AJS Sumenep Satukan Langkah, UKW Jadi Upaya Perkuat Kompetensi dan Profesionalitas Wartawan
65 Warga Binaan Rutan Jakarta Pusat Jalani Asesmen Program Rehabilitasi dan Reedukasi
Inovasi SIPRAKA Damkar Sumenep Diverifikasi Tim JAWARA Jatim
DBHCHT 2026 di Kabupaten Blitar, Satpol PP Fokus Berantas Rokok Ilegal dan Sosialisasi Cukai
PKC PMII Jatim Menuju Kehancuran: Terjerat Ranjang Kekuasaan Politik Transaksional
Semarak Hari Santri 2026, Bupati Sumenep Ajak Masyarakat Hadiri Santri Bershalawat
Konfercab PMII Surabaya Ricuh, Kader Unair Diduga Jadi Korban Pemukulan

Berita Terkait

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:39 WIB

60 Pil “Y” Terungkap di Gapura, Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan Pemuda 20 Tahun

Rabu, 7 Oktober 2026 - 22:17 WIB

JSI-AJS Sumenep Satukan Langkah, UKW Jadi Upaya Perkuat Kompetensi dan Profesionalitas Wartawan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 21:40 WIB

65 Warga Binaan Rutan Jakarta Pusat Jalani Asesmen Program Rehabilitasi dan Reedukasi

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:06 WIB

Inovasi SIPRAKA Damkar Sumenep Diverifikasi Tim JAWARA Jatim

Rabu, 7 Oktober 2026 - 09:57 WIB

DBHCHT 2026 di Kabupaten Blitar, Satpol PP Fokus Berantas Rokok Ilegal dan Sosialisasi Cukai

Berita Terbaru