PROBOLINGGO – Proyek rehabilitasi sekolah tingkat SD dan SMP di Kabupaten Probolinggo gencar dilaksanakan, meliputi perbaikan atap, dinding, hingga lantai bangunan. Namun, sorotan tajam kini tertuju pada SD Negeri Tamansari IV, Kecamatan Dringu.
Sekolah yang berdiri di atas lahan rawan fenomena tanah gerak ini kedapatan menerima dua paket anggaran rehabilitasi sekaligus pada tahun 2026.
Paket pertama bersumber dari APBN melalui Bantuan Pemerintah Program Revitalisasi sebesar Rp 773.190.821,00 yang dikerjakan secara swakelola.
Sementara paket kedua disokong oleh APBD 2026 senilai Rp 204.535.000,00 untuk Konstruksi Rehabilitasi Ruang Kelas yang dipihakketigakan kepada CV Bina Mitra Sedjati.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rehabilitasi kali ini menggunakan kombinasi atap genteng dan kerangka baja ringan. Pemilihan material dan metode ini langsung memicu pertanyaan besar dari masyarakat. Pasalnya, publik belum lupa atas insiden ambruknya atap sekolah di wilayah Tongas dan Maron pada tahun-tahun lalu. Kala itu, Dinas Pendidikan berdalih bahwa bencana tersebut murni akibat faktor cuaca ekstrem dan pergeseran tanah gerak.
Kekhawatiran publik ini langsung ditepis oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Probolinggo, Hary Tjahjono. Ia menegaskan bahwa pemasangan kerangka atap baja ringan di SDN Tamansari IV sudah sesuai dengan spesifikasi teknis yang ketat.
“Baja ringan itu kokoh, dan telah dipasang dengan benar. Tim teknis yang melakukan pemasangan adalah tim ahli,” ujar Hari saat dikonfirmasi,Jum at (9/10/2026).
Ia juga menambahkan bahwa seluruh perencanaan hingga pelaksanaan proyek di lapangan sudah disesuaikan secara matang dengan kondisi geografis dan struktur tanah setempat.
Kini, publik tinggal menunggu pembuktian di lapangan. Apakah proyek miliaran rupiah di atas tanah gerak ini mampu bertahan kokoh, atau justru mengulang rapor merah kegagalan infrastruktur pendidikan masa lalu.
Penulis : Moch Solihin







