Kediri, Detikzone.id — Pandangan bahwa jurnalis harus bersikap netral kerap digaungkan di ruang publik. Namun bagi Bimo Gunawan, wartawan Detikzone, anggapan itu keliru dan menyesatkan. Menurutnya, tidak ada satu pun pedoman jurnalisme yang mewajibkan netralitas. Yang ada dan mutlak adalah: independensi.
“Tidak ada perintah jurnalis harus netral. Yang ada adalah perintah agar jurnalis independen,” tegas Bimo dalam sebuah diskusi WhatsApp Grup Redaksi Detikzone yang digelar secara daring, Sabtu (17/5/2025) malam.
Bimo menjelaskan, banyak orang salah kaprah memahami netralitas. Dalam konteks jurnalisme, netral bukan berarti diam atau berada di tengah tanpa sikap. Jurnalis, kata dia, justru dituntut untuk berpihak—namun berpihak pada fakta, keadilan, dan kepentingan publik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kalau ada kejahatan, kita tidak boleh netral antara pelaku dan korban. Kalau ada pungli, kita tidak netral antara yang melakukan pungli dan yang dirugikan. Justru kita harus tegas menunjukkan siapa yang melakukan pelanggaran berdasarkan data dan verifikasi,” ujarnya.
Independensi yang dimaksud Bimo bukan berarti jurnalis bebas semaunya, melainkan bebas dari intervensi politik, ekonomi, maupun tekanan ideologis. Kebebasan ini harus dibarengi dengan tanggung jawab untuk menyampaikan kebenaran yang faktual, tidak berpihak pada kekuasaan, dan tidak tunduk pada pemilik modal.
“Netralitas sering jadi tameng untuk menghindari keberanian bersikap. Tapi jurnalisme bukan soal takut disalahkan. Ini soal keberpihakan pada yang benar,” tambahnya.
Dalam praktiknya, Bimo menilai terlalu banyak media justru terjebak dalam ilusi “berimbang” yang menyamakan kebenaran dengan kebohongan. Ketika seorang pejabat menyebar disinformasi, media hanya mencatat tanpa mengklarifikasi, demi terlihat netral.
“Begitu banyak berita sekarang hanya jadi corong, bukan kontrol. Seolah tugas jurnalis cuma menyampaikan apa yang dikatakan A, lalu dibantah B. Padahal tugas utama kita adalah memverifikasi, menyaring, dan menyampaikan mana yang benar,” kata Bimo.
Ia menegaskan, tugas jurnalis bukan menjadi penengah, tetapi menjadi pelapor kebenaran. Dalam situasi krisis, konflik agraria, pelanggaran HAM, atau ketimpangan ekonomi, netralitas justru bisa menjadi bentuk pembiaran. Yang dibutuhkan adalah keberanian untuk berpihak kepada mereka yang tertindas, pada suara yang dibungkam, dan pada kebenaran yang bisa dipertanggungjawabkan.
“Jurnalis adalah alat publik untuk melihat terang. Kalau kita netral saat ada ketidakadilan, kita ikut memadamkan cahaya,” tutup Bimo.
Pernyataan Bimo Gunawan ini menggemakan satu pesan penting: bahwa jurnalisme bukan tentang berdiri di tengah, tapi berdiri tegak—di sisi kebenaran.
Penulis : **







