Aroma Janggal Belanja Rp500 Juta di RSUD Waluyo Jati Kraksaan: Tanpa Rincian Volume, Diduga Pecah Paket dan Mark-Up

Jumat, 6 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO, Detikzone.id – Pengelolaan anggaran di sektor kesehatan kembali menjadi sorotan. Kali ini, belanja bahan penunjang pelayanan di RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Kabupaten Probolinggo, tahun anggaran 2025 senilai Rp500 juta memicu tanda tanya besar karena dinilai tidak transparan dan berpotensi menyalahi prinsip pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Sorotan muncul setelah ditemukan data belanja yang hanya mencantumkan nama barang, harga, serta penyedia, namun tidak menyertakan jumlah atau volume barang yang dibeli secara jelas.

Padahal, dalam sistem pengadaan barang pemerintah, rincian volume merupakan komponen penting untuk memastikan transparansi dan akuntabilitas penggunaan anggaran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan data yang dihimpun, belanja bahan penunjang pelayanan tersebut tercatat dilakukan melalui 233 transaksi berbeda oleh pihak rumah sakit. Pola transaksi dalam jumlah besar namun terbagi dalam banyak paket kecil ini memunculkan dugaan adanya praktik pecah paket, yaitu strategi memecah nilai pengadaan agar berada di bawah batas kewajiban tender terbuka.

Jika dugaan tersebut benar, maka praktik itu dapat mengarah pada pengadaan langsung tanpa kompetisi yang sehat, yang berpotensi membuka ruang penunjukan penyedia tertentu secara berulang.
Selain pola transaksi, sejumlah harga barang juga dinilai tidak wajar ketika dibandingkan dengan harga pasar.

Beberapa item yang menjadi sorotan antara lain:

Kuas 2 inch (kode RUP 59373302) tercatat dibeli dengan harga Rp250.000

Isi kuas roll (kode RUP 54335672) seharga Rp500.000

Scrup 3 dem (kode RUP 59373302) senilai Rp350.000

Harga-harga tersebut dinilai jauh di atas harga pasar pada umumnya, sehingga memunculkan dugaan adanya praktik mark-up atau penggelembungan harga.
Menanggapi temuan tersebut, Dierel, anggota Aliansi Madura Indonesia (AMI) Probolinggo, menilai pola belanja tersebut mengandung sejumlah kejanggalan yang perlu ditelusuri lebih jauh oleh aparat pengawas.

Menurutnya, ketiadaan informasi volume barang membuat publik sulit mengetahui apakah harga yang dibayarkan pemerintah benar-benar sesuai dengan jumlah barang yang diterima.

“Ini ada indikasi anomali. Ketika volume tidak dicantumkan, harga menjadi mustahil diverifikasi. Jika harga jauh di atas pasaran, itu mengarah pada dugaan mark-up. Apalagi penyedianya itu-itu saja, patut diduga ada potensi persekongkolan,” ujarnya, Jumat (6/3/2026).

Ia menegaskan bahwa praktik pecah paket dalam pengadaan barang kerap digunakan sebagai modus untuk menghindari proses tender terbuka. Dengan memecah nilai paket menjadi kecil-kecil, proses pengadaan dapat dilakukan melalui penunjukan langsung kepada penyedia tertentu.

Karena itu, pihaknya meminta Aparat Penegak Hukum (APH) serta Inspektorat daerah untuk melakukan audit investigatif guna memastikan tidak terjadi penyimpangan dalam penggunaan dana pelayanan kesehatan tersebut.

“Anggaran kesehatan adalah uang publik yang harus dikelola secara transparan. Jika benar terjadi mark-up atau pecah paket, tentu ini merugikan negara dan masyarakat,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, Direktur RSUD Waluyo Jati Kraksaan, Dr. Yessi Rahmawati, belum memberikan tanggapan terkait temuan tersebut. Upaya konfirmasi yang dilakukan melalui pesan WhatsApp belum mendapatkan jawaban.

Kasus ini menjadi pengingat bahwa pengelolaan anggaran di sektor pelayanan publik, khususnya kesehatan, harus dilakukan secara transparan, akuntabel, dan terbuka. Tanpa itu, kepercayaan masyarakat terhadap institusi pelayanan kesehatan milik pemerintah berpotensi terus tergerus.

Berita Terkait

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura
Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura
Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026
Diskominfo Sumenep Sukses Dorong Kampanye Digital Lewat Gerakan “Nongtong Bareng” di Festival Musik Tong-Tong
JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik
Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757
Hari Jadi Sumenep ke-757, Cak Fauzi Dorong Gotong Royong Jadi Kekuatan Pembangunan
Cari Tempat Nongkrong di Sumenep? M Cafe Hadir dengan Nuansa Estetik yang Bikin Pengunjung Betah

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:14 WIB

JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:27 WIB

TNI-POLRI

Polisi Ungkap Dugaan Kasus Sabu di Nonggunong Sumenep

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:51 WIB