Salurkan Saprodi, BUM Desa Sina Rua Bersinar Berikan Edukasi Teknis Budidaya Jagung Kepada Kelompok Tani

Minggu, 15 Maret 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

MAUMERE – Pada Jumat, 13 Maret 2026, di Dusun Umatawu, Desa Natakoli, Kecamatan Mapitara, BUM Desa Sina Rua Bersinar Natakoli resmi menyalurkan sarana produksi pertanian (saprodi) kepada Kelompok Tani Popowolot, Kajowair, dan Maju Bersama. Kegiatan ini merupakan realisasi kerja sama ketahanan pangan dalam budidaya jagung hibrida.

Dalam sambutan pembukaannya, Direktur BUM Desa Sina Rua Bersinar, Epilius Dasentis, SP, menyampaikan bahwa kelompok tani bukan sekadar berkumpul, melainkan menyatukan potensi sebagai wadah bertukar pikiran terkait teknologi, akses pupuk, permodalan, hingga pemasaran.

“Saya mengajak mengubah paradigma berpikir menjadi lebih produktif, misalnya memilih varietas unggul dan kompak merencanakan tanam. Dengan gotong royong, kita pasti bisa mengatasi hambatan dan meningkatkan kesejahteraan,” ujar Epilius.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sementara itu, Ketua BPD Desa Natakoli, Antonius Kreator, menegaskan bahwa kelompok tani di desa ini adalah kelompok petani jagung yang diharapkan berjuang menghasilkan panen terbaik.

“Kelompok ini kita sebut menuju akuntansi karena ini adalah sebuah bisnis. Berjuanglah sampai menghasilkan hoang (uang),” tambahnya.

Antonius juga mengingatkan agar menjaga kekompakan mengingat 20 persen dana desa telah disalurkan, yang merupakan tanggung jawab bersama.

“Jangan berpisah. Beban dan tanggung jawab ini harus dipikul bersama dalam susah maupun senang,” tegasnya.

Pendamping Desa Kecamatan Mapitara, Silvester Moan Nurak, menyatakan kunci keberhasilan program ada pada kerja sama BUM Desa dan kelompok tani, dengan penekanan pada sikap proaktif.

“Proaktif artinya bekerja tidak perlu menunggu disuruh dan punya inisiatif bertanya jika bingung. Lawannya adalah reaktif, di mana ada aksi dulu baru memberikan reaksi, atau disuruh dulu baru mau bekerja,” jelasnya.

Silvester juga menekankan bahwa di BUM Desa, petani menggaji diri sendiri dari hasil panen yang diperoleh, sementara pemerintah hanya menyediakan modal, aturan, dan pendampingan untuk dikembangkan.

Silvester juga menyampaikan rencana kegiatan yang akan dilakukan setelah proses penanaman selesai nanti.

“Setelah selesai penanaman, kami bersama BUM Desa akan berkoordinasi dengan pemerintah desa terkait beberapa agenda penting. Agenda tersebut meliputi pelantikan pengurus BUM Desa, pelatihan bagi pengurus, serta penyusunan laporan pertanggungjawaban tiga bulanan,” ujar Silvester.

Acara dilanjutkan sesi edukasi teknis oleh PPL Pertanian, Martinus Meong, SP, yang memaparkan langkah budidaya jagung.

“Pertama persiapan lahan: bisa dibajak/dicangkul, atau sistem TOT (Tanpa Olah Tanah) untuk tanah yang sudah gembur. Kedua, penyiapan benih berlabel resmi. Selanjutnya tahap tanam yang memperhatikan jarak tanam dan kaidah pemupukan tepat waktu serta dosis,” ujar Martinus.

Materi kemudian dilengkapi oleh Yoseph Lavanto, Ketua Kelompok Tani Maju Bersama, yang juga dipercayakan oleh BPP Pertanian sebagai petani kunci di Desa Natakoli. Yoseph berbagi pengetahuan dan pengalaman praktis mengenai pemupukan.

Yoseph memaparkan jenis-jenis pupuk yang diterima serta frekuensi pemakaian yang disesuaikan dengan kondisi lokal.

“Pupuk yang kita dapat hanya tiga macam, yaitu yang pertama NPK Ponska, yang kedua urea, dan yang ketiga KCL. Bagaimana cara dan dosis pemakaiannya itu, mengingat kondisi kita tidak usah sampai tiga kali, paling banyak dua kali,” ujar Yoseph.

Yoseph juga menjelaskan dua sistem pemupukan yang bisa dipilih, yang penentuannya disesuaikan dengan kondisi cuaca dan udara.

“Bisa menggunakan dua sistem, yaitu yang pertama sistem tabur dan yang kedua sistem kocor, tergantung cuaca dan keadaan udara seperti apa. Kalau banyak hujan lebih baik kita pakai tabur, sebaiknya kalau banyak panas kita pakai kocor,” tambahnya.

Dalam kegiatan juga disepakati jadwal penanaman mulai minggu ketiga Maret sampai minggu pertama April 2026 setelah diselesaikannya pengolahan lahan.

Penyaluran saprodi berupa bibit, pupuk, pestisida, dan sarana pendukung diawali penyerahan simbolik oleh Direktur BUM Desa, Ketua BPD, PPL Pertanian, dan Pendamping Desa, lalu diserahkan resmi dan dicatat dalam berita acara demi transparansi.

Saat ini, ketiga kelompok tani telah selesai membersihkan lahan dan akan segera melanjutkan pengolahan sesuai jadwal. Program ini diharapkan meningkatkan produksi jagung hibrida dan memperkuat ketahanan pangan desa.

Berita Terkait

Upaya Penyelundupan Handphone oleh Pengunjung Rutan Kelas 1 Jakpus Berhasil Digagalkan Petugas
Desak Transparasi RAT Puluhan Anggota Koperasi UKP DLH Pemalang Gandeng Pengacara 
Pembangunan Koperasi Merah Putih di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok Menuai Penolakan Ahli Waris
Ziarah HUT ke-81 TNI, Kodim 0827/Sumenep Kenang Jasa Pahlawan dan Teguhkan Pengabdian
Pondasi Koperasi Merah Putih Berdiri di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok, Keturunan Keberatan
Bos CV Ayunda Menikahi Dian Mariana di Banyuwangi, Ribuan Tamu Dikejutkan Hadiah Umrah, 10 Oktober Resepsi Berlanjut di Pamekasan
Dugaan Kelalaian Medis di RSUD Waluyo Jati Kraksaan: Kuasa Hukum Soroti ‘Misteri’ 33 Jam Tanpa Visite Dokter Spesialis
SELESAI, TUNAI, TUNTAS

Berita Terkait

Selasa, 29 September 2026 - 18:10 WIB

Upaya Penyelundupan Handphone oleh Pengunjung Rutan Kelas 1 Jakpus Berhasil Digagalkan Petugas

Selasa, 29 September 2026 - 18:08 WIB

Desak Transparasi RAT Puluhan Anggota Koperasi UKP DLH Pemalang Gandeng Pengacara 

Selasa, 29 September 2026 - 17:09 WIB

Pembangunan Koperasi Merah Putih di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok Menuai Penolakan Ahli Waris

Selasa, 29 September 2026 - 14:06 WIB

Ziarah HUT ke-81 TNI, Kodim 0827/Sumenep Kenang Jasa Pahlawan dan Teguhkan Pengabdian

Selasa, 29 September 2026 - 13:31 WIB

Pondasi Koperasi Merah Putih Berdiri di Kompleks Makam Kuna Sutan Nasinok, Keturunan Keberatan

Berita Terbaru