Sumenep Tak Butuh Sekda Bermuka Dua

Rabu, 25 Februari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Saat banyak yang sibuk berdiri paling depan dan bersuara paling keras, kepemimpinan justru diuji dari kemampuan duduk, mendengar, dan memilih dengan kepala dingin.

Saat banyak yang sibuk berdiri paling depan dan bersuara paling keras, kepemimpinan justru diuji dari kemampuan duduk, mendengar, dan memilih dengan kepala dingin.

SUMENEP — Di balik senyapnya proses seleksi Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Sumenep 2026, sesungguhnya sedang berlangsung penyaringan yang jauh lebih keras dari sekadar ujian administrasi. Ini bukan hanya soal kepandaian berbicara atau kelihaian tampil sebagai “pahlawan birokrasi”, melainkan tentang karakter: siapa yang tulus bekerja dan siapa yang diam-diam bermain dua wajah.

Pengamat birokrasi Abu Jamal menilai, figur licik justru kerap menyamar paling rapi. Mereka pandai melempar batu sembunyi tangan, menciptakan konflik secara halus, lalu tampil paling depan seolah penyelamat keadaan.

“Pejabat yang licik sering terlihat tenang, tapi di belakang justru gemar mengaduk. Kadang sok jadi pahlawan, padahal api justru dinyalakan sendiri,” ujar Abu Jamal, Senin (23/2/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Menurutnya, ada satu tipe calon Sekda yang hampir pasti tak cocok untuk Sumenep: mereka yang keras, meledak-ledak, gemar mendominasi ruang, dan menjadikan birokrasi sebagai panggung pembuktian ego. Karakter seperti ini, kata dia, tak ubahnya musik rock metal, keras, menghentak, dan memaksa semua orang mengikuti iramanya.

“Bupati Sumenep tidak sedang mencari Sekda dengan hentakan. Pemerintahan bukan panggung konser,” tegasnya.

Abu Jamal menegaskan, dalam struktur pemerintahan, Sekda bukan pemilik visi-misi. Visi dan arah pembangunan sepenuhnya milik kepala daerah. Sekda adalah pengendali ritme, bukan pengemudi yang bebas memutar setir.

“Kalau Sekda merasa dirinya pusat gravitasi, di situlah masalah dimulai. Perintah berubah jadi tekanan, koordinasi jadi benturan,” katanya.

Ia mengibaratkan birokrasi sebagai perjalanan panjang. Bupati adalah penentu arah, sementara Sekda penjaga kecepatan. Bila penjaga kecepatan lupa membaca medan dan memacu kendaraan sesuka hati, yang terjadi bukan percepatan, melainkan kecelakaan kebijakan.

Dalam konteks Kabupaten Sumenep, stabilitas birokrasi bukan kemewahan, melainkan kebutuhan mendesak. Wilayah luas, persoalan sosial berlapis, dan tuntutan publik yang terus meningkat membutuhkan ketenangan berpikir, bukan kepemimpinan yang gemar menghentak.

Secara administratif, seleksi telah mengerucut pada tiga pejabat yang lolos ke tahap akhir calon Sekda Sumenep 2026, yakni Agus Dwi Saputra, Chainur Rasyid, dan R. Abd. Rahman Riadi. Ketiganya berasal dari dinas strategis di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sumenep.

Namun Abu Jamal menilai, fase paling menentukan justru bukan di atas kertas, melainkan pada kecakapan membaca situasi, kemampuan menempatkan diri, serta kejujuran dalam bekerja, tanpa intrik dan manuver tersembunyi.

Keputusan akhir, kata dia, sepenuhnya berada di tangan Achmad Fauzi Wongsojudo.

Bukan hanya berdasarkan skor administrasi, tetapi juga pertimbangan kepemimpinan yang terasa secara emosional dan etis.

Arah seleksi ini dinilai sejalan dengan gaya kepemimpinan Achmad Fauzi yang dikenal menjaga ritme kerja tanpa kegaduhan. Ia disebut lebih menyukai birokrasi yang berjalan tenang, stabil, dan saling memahami, bukan yang dipenuhi ketegangan struktural.

“Sekda yang baik itu bukan yang bikin OPD tegang, tapi yang bikin OPD paham apa yang harus dikerjakan,” ujar Abu Jamal.

Ia mengingatkan, gaya keras sering tampak tegas di permukaan, namun rapuh di dalam. Dentumannya mungkin terdengar kuat sesaat, tetapi meninggalkan retakan panjang dalam tubuh birokrasi.

Kini, publik Sumenep hanya bisa membaca isyarat. Dan isyarat itu cukup jelas: siapa pun yang terpilih nanti, bukanlah figur licik, egoistis, atau gemar bermain peran, melainkan sosok yang mampu menenangkan ruangan dan menjaga harmoni.

“Sumenep tidak butuh Sekda yang suaranya paling keras. Yang dibutuhkan adalah Sekda yang langkahnya paling tepat,” pungkas Abu Jamal.

 

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

Menara Gading Pemkab Probolinggo Saat Birokrasi Sibuk “Kecanduan” Rapat, Atap Pelayanan Publik Bocor Ditampung Ember
Opening Training Raya HMI Nasional di Kediri, Mbak Wali Tekankan Kolaborasi Pemuda Bangun Daerah
Ngampel dan Jamsaren Juara Wali Kota Kediri Cup 2026, Mbak Wali Tegaskan: Menang Kalah Tetap Bersaudara
Nakhoda Baru KONI Probolinggo,Reno Handoyo Siap Gandeng Sektor Industri dan Kawinkan Olahraga-Pariwisata
Langkah Berani Anak Istimewa, Unjuk Bakat di Atas Catwalk Fashion Show Probolinggo
Sambut HUT RI ke-81, Gubernur Khofifah Gulirkan Program Pembebasan Pajak Daerah se-Jawa Timur
Menepis Sekat di Ruang Tengger,Musda KNPI Probolinggo Rapatkan Barisan Menuju Indonesia Emas
Merawat Ibu dalam Gelap,Kisah Ernawati Siswi SMKN yang Bertahan di Tengah Impitan Hidup

Berita Terkait

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:21 WIB

Menara Gading Pemkab Probolinggo Saat Birokrasi Sibuk “Kecanduan” Rapat, Atap Pelayanan Publik Bocor Ditampung Ember

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:12 WIB

Opening Training Raya HMI Nasional di Kediri, Mbak Wali Tekankan Kolaborasi Pemuda Bangun Daerah

Minggu, 2 Agustus 2026 - 11:09 WIB

Ngampel dan Jamsaren Juara Wali Kota Kediri Cup 2026, Mbak Wali Tegaskan: Menang Kalah Tetap Bersaudara

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 22:46 WIB

Nakhoda Baru KONI Probolinggo,Reno Handoyo Siap Gandeng Sektor Industri dan Kawinkan Olahraga-Pariwisata

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Sambut HUT RI ke-81, Gubernur Khofifah Gulirkan Program Pembebasan Pajak Daerah se-Jawa Timur

Berita Terbaru