SANGKAPURA – Menjelang panen padi, warga Dusun Tampo, Desa Pudakitbarat, Kecamatan Sangkapura, Pulau Bawean, memilih tidak hanya bergantung pada kerja keras di sawah. Mereka juga menempuh ikhtiar batin: berkumpul, berdoa, dan memohon berkah di makam Jujuk Tampo, Kamis (26/3/2026) pagi.
Sejak pukul 06.30 WIB, warga berdatangan membawa hidangan sederhana. Mereka duduk bersama, melangitkan doa, lalu berbagi makanan dalam suasana guyub yang kental. Tradisi ini dikenal sebagai bagian dari anyean, penanda penting dalam siklus tanam hingga panen masyarakat Bawean.
Tokoh masyarakat setempat, Moh. Nursyamsi, menegaskan bahwa ritual ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan warisan yang terus dijaga.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ini tradisi tahunan, dilakukan saat mulai turun ke sawah hingga menjelang panen,” ujarnya.
Bagi warga, doa bersama menjadi penyeimbang antara usaha lahir dan harapan batin—memohon hasil panen yang berkah sekaligus keselamatan selama proses bertani.
Menariknya, kegiatan ini tidak hanya diikuti warga Dusun Tampo. Masyarakat dari dusun lain di Desa Pudakit Barat turut hadir, mempertegas bahwa tradisi ini telah menjadi ruang kebersamaan lintas komunitas.

“Bukan hanya warga Tampo, dari dusun lain juga ikut serta,” tambahnya.
Di tengah perubahan zaman, tradisi ini tetap bertahan. Ia bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga perekat sosial—menghidupkan gotong royong, memperkuat solidaritas, dan menjaga identitas masyarakat agraris Bawean.
Di makam Jujuk Tampo, doa-doa itu kembali dipanjatkan. Bukan sekadar harapan panen melimpah, tetapi juga upaya menjaga warisan agar tetap hidup di tengah arus modernitas.
Penulis : Abd Hamid







