PROBOLINGGO– Terik matahari di Alun-alun Kraksaan tidak menyurutkan derap langkah kaki 74 pelajar terbaik Kabupaten Probolinggo. Di bawah kepungan cuaca panas, mereka terus mematangkan formasi, mengasah ketepatan gerakan, dan memperkuat mental. Mereka adalah Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Probolinggo yang tengah memasuki fase akhir pemusatan latihan menuju upacara sakral Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Bukan sekadar baris-berbaris, derap langkah mereka membawa misi besar: mengibarkan Sang Merah Putih dengan sempurna. Sebanyak 74 putra-putri daerah ini merupakan delegasi terpilih dari jenjang SMA, SMK, dan MA yang menyebar di 24 kecamatan se-Kabupaten Probolinggo. Sejak 31 Juli hingga 14 Agustus 2026, kehidupan remaja mereka bertukar sementara dengan kedisiplinan semi-militer di bawah tempaan ketat tim gabungan Kodim 0802 Probolinggo, Polres Probolinggo, Bakesbangpol, serta Purna Paskibraka Indonesia (PPI) setempat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Melihat langsung peluh keringat para peserta, Kepala Bakesbangpol Kabupaten Probolinggo, Hari Kriswanto, turun ke lapangan pada Kamis (13/8/2026). Kehadirannya bukan sekadar peninjauan formal, melainkan untuk menyuntikkan energi pemikiran dan motivasi pembakar semangat kepada para anggota Paskibraka yang sedang diuji fisik dan mentalnya.
“Anak-anak kita terus berlatih untuk persiapan pelaksanaan tugas, mulai dari kedisiplinan, kemudian juga fisik. Selain itu, mereka berlatih tata upacara sehingga nantinya sesuai dengan perannya masing-masing, baik pasukan 17, 8 maupun 45,” ujar Hari tegas di sela-sela pemantauan latihan.
Bagi Hari, Paskibraka bukanlah mesin robot yang hanya bergerak seragam. Ada jiwa yang harus ditiupkan dalam setiap jengkal langkah kaki mereka. Setiap anggota wajib meresapi posisi dan tanggung jawabnya agar sinkronisasi di lapangan berjalan tanpa cela saat hari-H.“Disiplin harus mereka teguhkan, karena itu merupakan modal agar semua tahapan bisa dilalui dengan baik,” ungkap Hari menggarisbawahi modal utama yang harus dimiliki sang pengibar bendera.
Lebih jauh dari sekadar urusan teknis lapangan, Hari mengingatkan para pemuda ini tentang beratnya beban sejarah yang melekat pada pundak mereka. Menarik tali pengikat bendera dan membentangkan kain merah putih di puncak tiang tertinggi bukanlah seremonial visual belaka. Itu adalah simbol dari tetesan darah dan nyawa para pahlawan terdahulu.
“Saya juga menguatkan kepada adik-adik Paskibraka bahwa ini adalah simbol perjuangan bangsa. Kemerdekaan yang diraih para pendahulu kita, para pahlawan kemerdekaan, diperoleh melalui perjuangan yang tidak hanya mengorbankan harta dan benda, tetapi juga nyawa,” imbuhnya.
Melalui gemblengan intensif ini, 74 pelajar Probolinggo tersebut tidak hanya dipersiapkan untuk sukses tampil dalam durasi beberapa jam pada 17 Agustus nanti. Mereka sedang dicetak menjadi motor penggerak peradaban baru generasi muda yang memiliki rasa nasionalisme tinggi.
“Harus ditanamkan rasa kebangsaan kepada adik-adik Paskibraka, rasa memiliki dan rasa tanggung jawab atas tugas melanjutkan perjuangan dalam membangun bangsa Indonesia,” pungkas Hari.
Kini, waktu hitung mundur semakin dekat. Alun-alun Kraksaan menjadi saksi bisu lahirnya calon-calon pemimpin masa depan yang siap mengawal kibaran Sang Merah Putih agar tetap gagah membumbung di langit Kabupaten Probolinggo pada HUT ke-81 RI dengan khidmat, tertib, dan paripurna.
Penulis : Moch Solihin







