MALANG – Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Malang menerima kunjungan silaturahmi dari pengurus Organisasi Sosial Spiritual Yakuza Maneges Malang Pasuruan Raya (MPR). Pertemuan ini digelar dalam rangka menyelaraskan visi dan misi, sekaligus membuka ruang kerja sama strategis untuk memperkuat sistem kontrol, pengawasan, dan perlindungan di lingkungan pondok pesantren.
Sinergi antar-lembaga ini diharapkan dapat mendorong terwujudnya lingkungan pesantren yang aman, sehat, dan bermartabat. Di samping itu, kolaborasi ini bertujuan memberikan perlindungan optimal bagi para santri dan santriwati dari berbagai potensi tindakan melenceng, dengan tetap menghormati kewenangan formal Kemenag serta kemandirian internal tiap pondok pesantren.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Langkah bersama ini dipandang penting guna menjaga marwah institusi pesantren, memperkuat benteng perlindungan anak didik, dan melahirkan ekosistem pendidikan keagamaan yang berintegritas.
Sebagai organisasi sosial spiritual, Yakuza Maneges MPR berada di bawah naungan Pimpinan Pusat Den Gus Thuba Topo Broto Maneges (Den Gus Thuba). Organisasi ini mengusung visi sebagai “penjaga yang lemah, pembela yang benar, dan pembenah yang salah.”
Dalam pergerakannya, Yakuza Maneges berfokus pada misi kemanusiaan dan keadilan sosial, termasuk merangkul masyarakat awam, kaum marginal, hingga masyarakat lintas agama. Lembaga ini juga memberikan pendampingan bagi masyarakat yang menghadapi kendala hukum, nonhukum, fisik, maupun psikis.
Selain itu, Yakuza Maneges aktif memantau serta mengawal berbagai potensi pelanggaran sosial di tengah masyarakat, pejabat, hingga oknum yang menyimpang, khususnya terkait isu asusila dan kenakalan.
Berada di bawah garis ideologi Majelis Semaan Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin yang didirikan ulama kharismatik KH Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek), organisasi ini mengedepankan pendekatan kultural dan spiritual dalam menjalankan fungsinya di lapangan.
Melalui pertemuan ini, Kemenag Kabupaten Malang dan Yakuza Maneges MPR sepakat untuk terus menjalin komunikasi konstruktif demi memastikan pesantren tetap menjadi benteng moral dan tempat belajar yang aman bagi para santri.







