Pemalang – Harapan membuka akses transportasi yang lebih cepat bagi masyarakat Pemalang selatan mulai menemukan jalan. Usulan pembangunan pintu tol baru di kawasan Paduraksa–Sewaka, Kabupaten Pemalang, kini memasuki pembahasan di tingkat pemerintah pusat. Jika terealisasi, akses ini berpotensi memperlancar distribusi logistik sekaligus memperkuat konektivitas menuju Banyumas Raya dan sejumlah daerah di sekitarnya.
Usulan pembukaan gerbang tol di KM 306–307 tersebut dibawa langsung Anggota Komisi VI DPR RI Fraksi PKS, H. Rizal Bawazier, dalam rapat koordinasi strategis bersama Direktorat Jenderal Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU).
Langkah ini menjadi upaya menjawab persoalan aksesibilitas yang selama ini dirasakan masyarakat Pemalang selatan. Jarak menuju gerbang tol eksisting dinilai masih menjadi kendala, terutama bagi mobilitas warga, perjalanan antardaerah, serta distribusi barang dan kebutuhan logistik.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Rizal Bawazier menegaskan, usulan pintu tol Paduraksa bukan semata-mata pembangunan infrastruktur fisik. Lebih dari itu, akses baru tersebut diharapkan mampu memangkas hambatan perjalanan dan membuka peluang pertumbuhan ekonomi yang lebih luas.
*“Ini bukan sekadar membangun fisik pintu tol, melainkan membongkar keterisolasian akses. Kehadiran gerbang baru ini diharapkan memberi nilai efisiensi nyata, memperlancar lalu lintas barang maupun penumpang secara lebih luas,”* tegas Rizal,pada Minggu ( 25/10 ).
Apabila terealisasi, gerbang tol di kawasan Paduraksa–Sewaka diproyeksikan memberikan manfaat yang melampaui wilayah Kabupaten Pemalang. Konektivitas tersebut berpotensi mendukung mobilitas masyarakat dan distribusi logistik menuju Purbalingga, Banyumas, Tegal bagian selatan, hingga Cilacap.
Bagi pelaku usaha, akses yang lebih dekat ke jaringan Tol Trans Jawa berpotensi menekan waktu perjalanan dan meningkatkan efisiensi pengiriman barang. Sementara bagi masyarakat, keberadaan gerbang tol baru diharapkan mempermudah perjalanan antardaerah serta membuka peluang ekonomi baru.
Efek berantai inilah yang menjadi salah satu alasan pentingnya usulan tersebut diperjuangkan. Infrastruktur yang terhubung dengan baik dapat menjadi penopang aktivitas perdagangan, pergerakan tenaga kerja, dan pertumbuhan pusat-pusat ekonomi di kawasan selatan Jawa Tengah.
Meski membuka harapan baru, realisasi pintu tol Paduraksa belum dapat dipastikan. Usulan tersebut masih harus melewati tahapan evaluasi dan kajian sesuai mekanisme pembangunan jalan tol nasional.
Pemerintah melalui kementerian dan instansi terkait perlu mengkaji sejumlah aspek, mulai dari kelayakan teknis dan konstruksi, keselamatan lalu lintas, potensi bangkitan kendaraan, kepastian status lahan, hingga dampak lingkungan dan sosial terhadap jaringan jalan di sekitarnya.
Seluruh kajian tersebut menjadi bagian penting untuk menentukan apakah pembangunan gerbang tol baru layak dilaksanakan dan dapat memberikan manfaat optimal bagi masyarakat.
Pertemuan bersama Ditjen Bina Marga menjadi langkah awal untuk membawa aspirasi masyarakat ke dalam pembahasan infrastruktur di tingkat pusat.
Keputusan akhir tetap bergantung pada hasil evaluasi pemerintah, kesesuaian dengan rencana jaringan jalan tol, serta kelayakan teknis dan ekonomi.
Kini, masyarakat Pemalang selatan menanti kelanjutan proses tersebut. Harapannya, usulan pintu tol KM 306–307 Paduraksa tidak berhenti sebagai wacana, tetapi dapat berkembang menjadi solusi nyata untuk mempercepat konektivitas, memperlancar arus logistik, dan mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah.
Jika terealisasi, pintu tol Paduraksa berpotensi menjadi akses strategis yang mendekatkan Pemalang selatan dengan pusat-pusat aktivitas ekonomi di Banyumas Raya dan kawasan sekitarnya. *( Ragil)*
Penulis : Red







