Bogor – Warga dua kecamatan, Citeureup dan Sukamakmur, Kabupaten Bogor, diguncang rasa geram yang memuncak akibat kondisi jalan penghubung antarkecamatan yang rusak parah. Ribuan lubang besar dan kecil menghiasi badan jalan, menjadikannya bagaikan “ladang ranjau” yang mengancam keselamatan pengendara setiap hari.
Puncak kekesalan warga pun terwujud dalam aksi mengejutkan: sebuah boneka pocong ditanam di tengah jalan pada siang bolong, menyindir keras para pejabat yang dianggap “mati rasa” terhadap penderitaan rakyat. Foto-foto dan video penampakan pocong tersebut langsung viral di media sosial, memancing gelombang komentar pedas netizen.
“Ribuan lubang di jalan, tapi pejabat ke mana? Apa harus ada korban dulu baru diperbaiki?” seru warga dalam unggahan mereka.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO RESUME CONTENT
Aksi tanam pocong ini bukan tanpa alasan. Jalur utama penghubung Citeureup dan Sukamakmur tersebut sering dilalui pejabat, baik dari eksekutif maupun legislatif. Namun miris, kehadiran mereka hanya “menyusuri jalan rusak” tanpa pernah menyentuh solusi.
“Kami bosan dengan janji politik. Seratus hari kerja bupati sudah lewat, tapi jalan kami masih seperti kubangan maut,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang memilih tak disebutkan namanya.
“Kalau cuma numpang lewat dan pasang baliho, lebih baik jangan jadi pemimpin. Kami tidak butuh pencitraan, kami butuh perbaikan,” imbuhnya.
Kondisi jalan semakin membahayakan saat musim hujan tiba. Air yang menggenang menutupi lubang-lubang dalam, menjebak pengendara sepeda motor dan mobil kecil. Tak sedikit yang terjatuh dan mengalami luka.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada tanda-tanda perbaikan dari dinas terkait maupun respon konkret dari DPRD Kabupaten Bogor. Warga berharap, pesan simbolik lewat pocong ini bisa mengguncang hati para pemimpin, khususnya Bupati Bogor dan Kepala Dinas terkait, termasuk sosok Pak KDM yang namanya sering disebut-sebut namun belum terlihat aksinya.
Masyarakat tetap mendukung pembangunan dan kepemimpinan yang pro-rakyat. Tapi jika jalan rusak bertahun-tahun saja tak mampu diperbaiki, bagaimana bisa berbicara tentang kemajuan daerah.








