SUMENEP, Detikzone.id — Ragam produk unggulan masyarakat Sumenep mendapat ruang dalam Pameran Pembangunan Madura Night Vaganza (MNV) 2026. Tidak hanya menampilkan produk UMKM, stan Dinas Koperasi, Usaha Kecil dan Menengah, Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kabupaten Sumenep juga menyuguhkan informasi mengenai berbagai program dan capaian pembangunan di sektor koperasi, UMKM, industri dan perdagangan.
Kehadiran Diskoperindag Sumenep di ajang tersebut dipimpin langsung Kepala Diskoperindag Sumenep, Moh. Ramli. Bersama jajaran, ia turut melihat langsung berbagai produk yang ditampilkan sekaligus memperkenalkan potensi usaha masyarakat kepada pengunjung.
Stan Diskoperindag menyajikan beragam produk lokal, mulai dari batik, produk herbal, kacang mente, jagung, kue kering, klemben jadul, keripik singkong, aneka sambal, petis, kuping gajah hingga keripik tempe.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Tidak berhenti pada produk makanan, sejumlah minuman tradisional juga ikut ditampilkan, seperti poka’, kunyit asam dan sinom.
Berbagai produk jamu juga menjadi bagian dari tampilan stan, di antaranya jamu kuat, jamu empot-empot, jamu galian singset hingga jamu galian montok.
Sementara untuk produk kerajinan, pengunjung dapat melihat sejumlah suvenir khas berupa gantungan kunci dan tempelan kulkas.
Beragam produk tersebut menjadi gambaran potensi usaha masyarakat Sumenep yang tumbuh dari berbagai sektor. Mulai dari produk pangan, kerajinan, minuman tradisional hingga olahan herbal dan jamu.
Kepala Diskoperindag Kabupaten Sumenep, Moh. Ramli, mengatakan keikutsertaan dalam Pameran Pembangunan MNV 2026 menjadi momentum untuk memperkenalkan produk lokal sekaligus menunjukkan perkembangan sektor yang menjadi tanggung jawab instansinya.
“Melalui pameran ini, kami ingin masyarakat dapat melihat secara langsung berbagai potensi produk yang dihasilkan pelaku usaha di Sumenep. Ini sekaligus menjadi ruang untuk memperkenalkan dan mendorong produk lokal agar semakin dikenal,” kata Ramli.
Menurutnya, promosi menjadi salah satu bagian penting dalam membantu produk lokal menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, promosi perlu berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas dan inovasi produk.
Karena itu, Diskoperindag terus mendorong pelaku usaha agar mampu mempertahankan kualitas, mengembangkan kemasan serta menciptakan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan pasar.
“Kami berharap keikutsertaan ini tidak berhenti pada kegiatan pameran, tetapi dapat menjadi bagian dari upaya memperluas pemasaran produk lokal dan mendorong pelaku usaha untuk terus berinovasi,” ujarnya.
Selain memamerkan produk unggulan, Diskoperindag Sumenep juga membawa informasi mengenai berbagai capaian pembangunan. Hal tersebut menjadi bagian dari upaya memberikan gambaran kepada masyarakat mengenai program pemerintah dalam pengembangan koperasi, UMKM, industri dan perdagangan.
Dengan demikian, kehadiran Diskoperindag di Pameran Pembangunan tidak hanya menjadi ruang promosi produk, tetapi juga menjadi media untuk memperkenalkan hasil kerja dan program yang telah dilakukan pemerintah daerah dalam mendukung pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pameran Pembangunan MNV 2026 sendiri menjadi bagian dari rangkaian Madura Culture Festival (MCF) #4. Kegiatan tersebut berlangsung mulai 26 Agustus hingga 4 September 2026 dengan melibatkan berbagai unsur dan menghadirkan beragam agenda.
Madura Night Vaganza menjadi ruang pertemuan antara pemerintah, pelaku usaha, UMKM, ekonomi kreatif dan masyarakat. Melalui kegiatan tersebut, produk lokal mendapat kesempatan untuk lebih dikenal, sementara masyarakat dapat melihat secara langsung beragam potensi yang dimiliki Kabupaten Sumenep.

Bagi Kepala Diskoperindag Sumenep Moh. Ramli, keikutsertaan dalam kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat promosi produk lokal sekaligus mendorong pelaku usaha agar semakin berkembang dan memiliki daya saing.
Dengan beragam produk yang ditampilkan, stan Diskoperindag Sumenep memperlihatkan bahwa potensi ekonomi daerah tidak hanya terletak pada sumber daya yang dimiliki, tetapi juga pada kreativitas masyarakat dalam mengolahnya menjadi produk bernilai ekonomi.
Penulis : Red








