Kenapa Mas Fauzi Suka Pakai Blangkon?

Kamis, 21 November 2024

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Achmad Fauzi Wongsojudo

Foto: Achmad Fauzi Wongsojudo

Kenapa Mas Fauzi Suka Pakai Blangkon?

“Ini adalah blangkon khas Sumenep, yang dipakai raja-raja terdahulu, Bapak Presiden,” kata Bupati Fauzi, menjelaskan kepada Presiden Jokowi dan para Menteri, saat melakukan kunjungan kerja ke Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, Rabu (20/4/2022.

Itulah Blangkon khas Sumenep yang diwarisi para raja terdahulu. Mas Doktor Fauzi punya tanggungjawab untuk merawat dan melestarikannya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Langkah yang ditempuh Bupati Fauzi adalah mewajibkan para ASN pria di Sumenep untuk memakai blangkon dan batik tulis khas Sumenep. Maka, pada hari Kamis dan Jumat. Para ASN memakainya.

Bupati Fauzi emang lama membuat kebijakan menghidupkan nuansa Keraton Sumenep. Sebab, Keraton itu aset berharga Di Jawa Timur hanya di Sumenep yang masih berdiri kokoh Keraton warisan kerajaan tempo dulu. Usianya 260 tahunan.

Makanya,usai dilantik akhir Februari 2021.

Sejak itu. Bupati Fauzi menerapkan kebijakan. Setiap tamu yang hendak berkunjung ke Rumah Dinas Bupati-yang berada di lingkungan Keraton Sumenep. Salah satu kewajiban si tamu adalah memakai blangkon.

Tujuan Bupati Fauzi semata menghidupkan nuansa Keraton Sumenep. Salah satu aset berharga warisan leluhur. Katanya perlu dirawat dan dilestarikan.

Tapi efek dari wacana itu belum terasa. Baru tampak efek dominonya-ketika Bupati Fauzi memberlakukan semua ASN di Sumenep memakai blangkon. Dilengkapi batik tulis khas Sumenep.

Tapi kenapa. Saat debat ketiga di Pilkada Sumenep Rabu malam. Sumenep tak mengenal blangkon?

Berikut tanggapan,budayan senior Sumenep Tadjul Arifin:

Tadjul Arifien R menilai komentar Paslon FiNal yang menyebut Sumenep tak me mengenal blangkon disebut kurang mendalam memahami budaya Sumenep.

“Mungkin mereka kurang jauh pikniknya. Kalau mau memimpin Sumenep, mereka harus memahami sejarah dan budaya daerah ini, bukan sekadar mendengar kata orang,” sindir penulis buku ‘Adat Keraton Sumenep’ itu, seperti dikutip dimadura.id.

Tadjul memyebut blangkon Sumenep memiliku filosofi.

Tadjul menegaskan bahwa blangkon memiliki akar budaya di Sumenep dengan filosofi mendalam. “Blangkon Sumenep memiliki filosofi abhâlângajâ ngembhân pakon—berupaya maksimal melaksanakan amanah. Ini berbeda dengan blangkon Solo,” jelasnya.

Kata Tadjul, meski ada kemiripan bentuk dengan blangkon dari daerah lain seperti Solo atau Yogyakarta, blangkon Sumenep memiliki ciri khas tersendiri. Perbedaan itu terlihat pada motif, jenis, dan lipatan yang penuh makna.

“Setiap daerah, seperti Sumenep, Bangkalan, dan Pamekasan, memiliki blangkon dengan karakter unik yang harus dipahami, bukan dipukul rata,” tegasnya.

Ada Tiga Jenis Blangkon Sumenep

Tadjul menjelaskan tiga jenis utama blangkon khas Sumenep:

1. Blângkon Pasonḍhân

Blangkon Sultan Abdurrahman (Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura)

Digunakan oleh bupati atau adipati sebagai pengganti mahkota, dengan sompèng (ekor) kanan sepanjang 9 cm dan kiri 6 cm. Blangkon ini dipengaruhi tradisi Pasundan karena banyak tokoh Sumenep memiliki hubungan sejarah dengan daerah tersebut.

2. Blângkon Tongkosan

Blangkon Pangeran Pakunataningrat (Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura)

Dipakai oleh pejabat dan kerabat keraton, blangkon ini memiliki ekor kanan dan kiri sepanjang 6 cm.

3. Blângkon Ghântong Rè’-kèrè’

Blangkon Panembahan Moh Saleh (Sumber Foto: Tadjul Arifien R. for dimadura)

Digunakan sehari-hari, terutama dengan busana sorjan billabanten. Ekor blangkon ini lebih panjang, sekitar 12 cm, dan memiliki sedikit kemiripan dengan odheng Ponorogo.

Budaya Lokal sebagai Simbol Kepemimpinan

Tadjul mengingatkan bahwa perdebatan tentang blangkon dan odheng seharusnya bukan untuk mempertegas perbedaan, tetapi untuk memahami kekayaan budaya Sumenep.

“Blangkon dan odheng adalah bagian dari identitas kita. Keduanya mencerminkan nilai lokal yang harus dijaga,” katanya.

Ia juga mengkritik pemahaman budaya yang dangkal dari para calon pemimpin. Menurutnya, simbol budaya seperti blangkon tidak bisa dianggap hanya sebagai aksesori, tetapi mencerminkan tanggung jawab dan amanah pemakainya.

“Kalau tidak paham maknanya, bagaimana bisa memimpin dengan bijak?” ujarnya.

FaHam?

Penulis : Relawan

Berita Terkait

BEM PTMAI Zona V Jatim–Bali Geruduk DPRD Jatim, Suarakan Tolak Impunitas
Achmad Fauzi Wongsojudo Pimpin Pembagian Zakat Mal PDI Perjuangan Sumenep
Oknum Anggota DPRD PDIP Kebumen Divonis Dua Tahun Penjara
PPP Situbondo Rayakan Harlah ke-53 dengan Fokus Kaderisasi dan Bantuan Sosial
Aktivis HMI UNIBA Madura Kecam Wacana Pilkada Lewat DPRD: Negara Ini Berkedaulatan Rakyat, Bukan Milik Tirani Mayoritas
Aliansi BEM Pasuruan Raya Tolak Wacana Pilkada Lewat DPRD, Tegaskan Kedaulatan di Tangan Rakyat
HUT ke-53 PDI Perjuangan, Ratusan Anggota DPRD Jatim Serentak Laporkan Kinerja ke Rakyat
Rakernas I 2026, PDI Perjuangan Jatim Membuka Tiga Kartu Strategis sebagai Penegasan Arah Politik Nasional

Berita Terkait

Jumat, 10 April 2026 - 20:00 WIB

BEM PTMAI Zona V Jatim–Bali Geruduk DPRD Jatim, Suarakan Tolak Impunitas

Kamis, 19 Februari 2026 - 14:48 WIB

Achmad Fauzi Wongsojudo Pimpin Pembagian Zakat Mal PDI Perjuangan Sumenep

Jumat, 6 Februari 2026 - 19:34 WIB

Oknum Anggota DPRD PDIP Kebumen Divonis Dua Tahun Penjara

Jumat, 30 Januari 2026 - 11:29 WIB

PPP Situbondo Rayakan Harlah ke-53 dengan Fokus Kaderisasi dan Bantuan Sosial

Kamis, 15 Januari 2026 - 10:07 WIB

Aktivis HMI UNIBA Madura Kecam Wacana Pilkada Lewat DPRD: Negara Ini Berkedaulatan Rakyat, Bukan Milik Tirani Mayoritas

Berita Terbaru

Haji Khairul Umam (Haji Her) Pamekasan saat menghadiri undangan silaturahmi Presiden Prabowo Subianto bersama para kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di Istana Kepresidenan Jakarta.

EKONOMI

Pemeriksaan KPK Warnai Upaya Realisasi KEK Tembakau Madura

Rabu, 15 Apr 2026 - 22:50 WIB