Sumenep – Tradisi dan warisan budaya kembali hidup dalam Festival Tete Masa 2025 yang digelar meriah di desa Juluk, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Selasa (15/7).
Festival ini menjadi ajang yang selalu dinantikan masyarakat, sebagai bentuk pelestarian budaya leluhur sekaligus pengikat nilai-nilai spiritual dan kebersamaan.
Festival Tete Masa 2025 dihadiri ribuan warga dari berbagai desa, pelaku budaya, tokoh masyarakat, serta tamu undangan dari kalangan akademisi dan pegiat seni-budaya nasional.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Tete Masa sendiri merupakan tradisi turun-temurun yang erat kaitannya dengan ritus tolak bala dan ungkapan syukur atas hasil laut dan pertanian.
Dalam festival ini, warga membawa sesaji, hasil bumi, serta hiasan khas daerah, sebagai simbol penghormatan terhadap alam dan leluhur.
Wakil Bupati Sumenep, KH Imam Hasyim, yang hadir dalam acara tersebut, menyatakan bahwa Festival Tete Masa bukan hanya acara budaya, tetapi juga sarana memperkuat identitas daerah.
“Tete Masa adalah cermin bagaimana masyarakat kita hidup berdampingan dengan alam dan nilai-nilai spiritual. Kita harus terus jaga dan wariskan ini kepada generasi muda,” ujarnya dalam sambutannya.
Serangkaian kegiatan turut memeriahkan festival, antara lain: kirab budaya, lomba perahu hias, pertunjukan musik tradisional, bazar UMKM, dan pameran kerajinan lokal. Tak hanya menjadi daya tarik budaya, festival ini juga menggairahkan sektor ekonomi masyarakat lokal.
Salah satu pengunjung dari luar daerah, Dewi (34), mengaku terkesan dengan kekayaan nilai budaya yang ditampilkan.
“Ini pengalaman yang luar biasa. Saya baru tahu bahwa Sumenep punya tradisi sekuat ini. Banyak pelajaran dan makna dari setiap prosesi,” katanya.
Festival Tete Masa 2025 juga mendapat dukungan dari Dinas Pertanian Kabupaten Sumenep, serta berbagai komunitas budaya. Harapannya, tradisi ini tidak hanya menjadi tontonan tahunan, tetapi juga menjadi alat edukasi dan diplomasi budaya bagi daerah.
Sebagai salah satu aset budaya non-bendawi yang hidup dan berkembang di tengah masyarakat, Tete Masa membuktikan bahwa kearifan lokal mampu bertahan di tengah arus modernitas.
Festival ini bukan hanya selebrasi, melainkan juga manifestasi cinta masyarakat pada akar budayanya sendiri.
Sementara itu, tokoh masyarakat Camar Saronggi menyampaikan bahwa lebih dari 300 peserta ikut memeriahkan festival, mulai dari tokoh masyarakat, kelompok tani, hingga warga umum.
Festival ini juga dimeriahkan dengan pameran budaya, diskusi pertanian, pameran produk kelompok tani, serta ditutup dengan pengajian akbar yang terbuka untuk masyarakat.
Ketua Karang Taruna Ipades Juluk, Ahmad Fairurrosi, menjelaskan bahwa festival ini juga dirancang sebagai ajang edukasi bagi para petani tembakau, terutama dalam memahami musim tanam yang ideal dan pencegahan serangan hama.
“Kami ingin memberikan wawasan kepada para petani agar kualitas panen tembakau semakin meningkat,” terangnya.
Menurutnya, sektor pertanian di Sumenep memiliki peran vital dalam menopang perekonomian masyarakat, dan kegiatan seperti ini adalah bagian dari langkah nyata untuk terus mendorong kemajuan pertanian lokal.
Festival Tete Masa dijadwalkan berlangsung selama dua hari, mulai 15 hingga 16 Juli 2025, dan dipusatkan di lapangan sepak bola Desa Juluk.
Penulis : Redaksi







