SUMENEP — Di tengah meningkatnya tantangan sosial, arus informasi digital, dan potensi polarisasi di tingkat lokal, Kabupaten Sumenep justru menunjukkan bahwa stabilitas daerah tidak selalu dibangun melalui pendekatan keamanan semata.
Sepanjang tahun 2025, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Bakesbangpol) Sumenep menempatkan pendidikan kebangsaan, dialog sosial, dan penguatan toleransi sebagai fondasi utama menjaga keharmonisan masyarakat.
Pendekatan ini menjadi pembelajaran penting bahwa ketahanan sosial berawal dari kesadaran warga, bukan semata dari regulasi atau penindakan. Melalui berbagai program edukatif, Bakesbangpol berupaya menanamkan nilai Pancasila sebagai etika hidup bersama, bukan sekadar simbol kenegaraan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Kepala Bakesbangpol Sumenep, Drs. Achmad Dzulkarnain, menyampaikan bahwa pembangunan kesadaran kebangsaan harus menyentuh cara berpikir dan bersikap masyarakat sehari-hari.
Menurutnya, stabilitas yang kokoh lahir dari masyarakat yang memahami perbedaan sebagai keniscayaan, bukan ancaman.
“Ketika masyarakat terbiasa berdialog dan saling menghargai, potensi konflik bisa dicegah sejak dini. Inilah yang kami dorong sepanjang 2025,” ujarnya.
Pendidikan Kebangsaan sebagai Investasi Sosial
Alih-alih sekadar kegiatan seremonial, sosialisasi wawasan kebangsaan di Sumenep dirancang dengan metode partisipatif. Pelajar, pemuda, tokoh masyarakat, hingga aparatur desa dilibatkan dalam diskusi terbuka mengenai Pancasila, konstitusi, dan tantangan kebangsaan di era modern.
Model ini dinilai efektif karena mengajak masyarakat berpikir kritis sekaligus reflektif. Nilai kebangsaan tidak diajarkan sebagai doktrin, melainkan sebagai alat membaca realitas sosial dan menyelesaikan persoalan bersama.
Merawat Kerukunan Lewat Kolaborasi
Dalam masyarakat yang majemuk, isu keagamaan menjadi salah satu aspek krusial. Bakesbangpol Sumenep memperkuat sinergi dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) sebagai ruang komunikasi lintas iman. Dialog rutin, mediasi persuasif, dan keterlibatan tokoh agama terbukti mampu menjaga suasana damai di tengah perbedaan keyakinan.
Ketua FKUB Sumenep, KHR. Achmad Qusyairi Zaini, menilai bahwa komunikasi yang terbuka menjadi kunci utama. Ia menegaskan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan kebiasaan sosial yang terus dipelihara.
Demokrasi yang Sehat Dimulai dari Literasi Politik
Selain itu, pembinaan organisasi kemasyarakatan dan pendidikan politik masyarakat menjadi bagian penting dari agenda Bakesbangpol. Pendekatan edukatif diterapkan untuk mendorong demokrasi yang beretika, rasional, dan bertanggung jawab.
Ormas dan partai politik diarahkan menjadi mitra pembangunan, bukan sekadar aktor kontestasi. Dengan pemahaman politik yang sehat, masyarakat diharapkan tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang berpotensi memecah belah.
Deteksi Dini sebagai Upaya Pencegahan
Melalui Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM), Bakesbangpol mengembangkan sistem pemantauan sosial berbasis partisipasi warga.
Informasi dari akar rumput menjadi bahan analisis untuk mengantisipasi potensi konflik sebelum membesar.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa keamanan daerah bukan hanya tugas aparat, melainkan hasil kerja kolektif antara pemerintah dan masyarakat.
Refleksi Menuju Tahun Berikutnya
Pengalaman Sumenep sepanjang 2025 memberikan pelajaran penting bahwa stabilitas daerah dapat dibangun melalui jalur pendidikan sosial, dialog, dan kolaborasi lintas sektor. Tantangan ke depan tentu semakin kompleks, namun fondasi kesadaran kebangsaan yang telah ditanamkan menjadi modal berharga.
Dengan terus menempatkan toleransi, persatuan, dan literasi kebangsaan sebagai prioritas, Sumenep memberi contoh bahwa harmoni sosial adalah hasil dari proses panjang yang dirawat bersama, bukan sesuatu yang hadir secara instan.
Penulis : Redaksi







