PROBOLINGGO – Proyek pembangunan infrastruktur jalan dan saluran drainase di Jalan Lingkar Utara (JLU) Kota Probolinggo menuai kritik tajam dari publik.
Pekerjaan yang seharusnya menjadi solusi bagi kelancaran arus lalu lintas dan pengendalian air, justru dinilai menyimpan potensi masalah serius akibat teknis pengerjaan yang diduga serampangan.
Pantauan di lokasi menunjukkan pemasangan beton pracetak saluran air atau U-Ditch tampak lebih tinggi daripada permukaan aspal jalan. Padahal, secara teknis, elevasi pemasangan balok U-Ditch idealnya berada sekitar 5 persen lebih rendah dari permukaan jalan.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ketimpangan ini dikhawatirkan akan memicu genangan air di badan jalan saat hujan turun, yang secara perlahan akan mengikis kualitas aspal dan mempercepat kerusakan jalan.
Selain masalah teknis elevasi, aspek keselamatan di area proyek juga menjadi keluhan pengguna jalan. Minimnya rambu-rambu peringatan di sepanjang lokasi pengerjaan menimbulkan kekhawatiran bagi para pengguna jalan yang melintas, terutama pada malam hari atau saat cuaca buruk.
Namun, upaya untuk mendapatkan penjelasan dari pihak berwenang menemui jalan buntu. Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) dari Balai Besar Pelaksanaan Jalan Nasional (BBPJN) Jawa Timur-Bali (khususnya wilayah Gempol-Pasuruan-Probolinggo), Dwi Bagus, yang bertanggung jawab atas proyek ini terkesan enggan memberikan tanggapan.
Menurut informasi yang dihimpun, sikap tertutup ini bukan pertama kalinya terjadi. Oknum PPK tersebut dilaporkan kerap tidak merespons setiap kali dikonfirmasi oleh awak media terkait perkembangan maupun kendala proyek.
Sikap “bungkam” ini lantas memicu tanda tanya besar di tengah publik mengenai transparansi dan pengawasan proyek yang menggunakan anggaran negara dari uang rakyat tersebut.
Hingga berita ini diturunkan, pihak BBPJN maupun kontraktor pelaksana belum memberikan pernyataan resmi mengenai detail anggaran paket, realisasi progres fisik, serta evaluasi teknis terkait posisi saluran yang dinilai terlalu tinggi dari permukaan jalan tersebut.
Publik berharap instansi terkait segera turun tangan melakukan audit lapangan sebelum proyek diserahterimakan.
Menanggapi polemik proyek tersebut, Achmad dari Pusat Studi Supervisi dan Advokasi (PSSA) Probolinggo menyampaikan kritik terhadap pelaksanaan pekerjaan drainase yang dinilai perlu dievaluasi secara teknis.
Menurutnya, berdasarkan pengamatan di lapangan, terdapat indikasi perbedaan elevasi antara saluran U-Ditch dan permukaan jalan yang berpotensi mengganggu fungsi drainase.
“Secara teknis, drainase dirancang untuk mengalirkan air dari badan jalan. Apabila terdapat bagian saluran yang posisinya lebih tinggi dari permukaan jalan, maka kondisi tersebut patut dikaji dan dievaluasi lebih lanjut oleh pihak yang berwenang untuk memastikan kesesuaiannya dengan perencanaan,” ujar Achmad,sabtu (6/6/2026).
Ia juga menyoroti belum adanya tanggapan dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) terkait konfirmasi yang disampaikan sejumlah pihak. Menurutnya, keterbukaan informasi penting untuk menjawab berbagai pertanyaan publik mengenai proyek yang dibiayai oleh anggaran negara.
Achmad mendorong pihak terkait melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap hasil pekerjaan di lapangan serta menyampaikan penjelasan resmi kepada masyarakat guna memastikan proyek berjalan sesuai spesifikasi teknis dan prinsip akuntabilitas.
Penulis : Red








