SUMENEP, Minggu, 4/1/2026- Konser amal bertajuk kemanusiaan untuk Aceh–Sumatera yang digelar megah dan penuh sorak-sorai di Kabupaten Sumenep pada Jumat, 2 Januari 2026, justru meninggalkan aroma janggal.
Di balik gemerlap panggung dan artis nasional, hasil donasi yang terkumpul hanya Rp70.607.000, angka yang dinilai mengenaskan dan jauh dari kata masuk akal.
Yang lebih mengundang kecurigaan, nama-nama donatur yang sebelumnya terpampang di papan dan diumumkan ke publik tiba-tiba lenyap tanpa jejak.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Siapa saja penyumbang dari kalangan pejabat, pengusaha, atau donatur besar yang konon menyumbang jutaan hingga puluhan juta rupiah kini berubah menjadi misteri gelap.
Publik pun dibuat mengernyitkan dahi. Sumenep bukan daerah miskin dermawan.
Kabupaten ini dikenal memiliki banyak pejabat, pengusaha sukses, hingga orang-orang berada yang selama ini kerap tampil di panggung sosial dan kemanusiaan.
Namun hasil konser amal ini justru bertolak belakang dengan ekspektasi publik.
Data penggalangan dana menunjukkan, relawan yang berkeliling menyasar penonton hanya mampu menghimpun Rp49.357.000, sementara donasi dari atas panggung tercatat Rp21.250.000.
Total keseluruhan berhenti di angka Rp70.607.000. Ironisnya, tak satu pun nama donatur, perusahaan, atau lembaga yang dirinci secara terbuka.
Aktivis Jawa Timur, Nurul Qomar, secara terbuka menyebut kondisi ini menciptakan kesan bahwa konser megah tersebut lebih sibuk membangun panggung hiburan ketimbang menghadirkan empati nyata.
“Mustahil konser semegah itu, artis nasional, panggung besar, tamu elite—hanya menghasilkan donasi puluhan juta. Ini patut dicurigai. Jangan-jangan ada drama ketidakberesan di balik konser kemanusiaan ini,” tegas Nurul.
Ia juga menyoroti minimnya transparansi penyelenggara yang dinilai mencederai semangat kemanusiaan.
“Donaturnya siapa? Dari mana saja? Nilainya berapa? Tidak ada kejelasan. Padahal sebelumnya nama-nama donatur sudah ditulis dan diketahui publik. Ini bukan sekadar soal angka, tapi soal kejujuran,” katanya.
Menurut Nurul, tanpa keterbukaan, publik berhak curiga bahwa misi sosial hanya dijadikan bungkus legitimasi bagi sebuah hiburan mahal.
Kecurigaan publik makin menguat ketika hasil konser di Sumenep dibandingkan dengan daerah lain. Di Pamekasan, konser serupa justru berhasil menghimpun donasi fantastis hingga Rp1,112 miliar, dengan daftar donatur diumumkan secara terbuka, mulai dari pejabat, pengusaha, hingga komunitas masyarakat.
“Apakah para pengusaha di Sumenep menutup mata? Atau jangan-jangan ada yang bermain di balik konser yang mengatasnamakan panggung kemanusiaan ini?” tandas Nurul.
Kasus ini menjadi tamparan keras bagi penyelenggaraan konser amal di Sumenep.
Tanpa transparansi, tanpa hasil signifikan, dan tanpa keberanian membuka identitas donatur, konser kemanusiaan berisiko berubah menjadi panggung hiburan mewah yang miskin empati.
Hingga kini, pertanyaan besar masih menggantung di ruang publik,
Rp70 juta itu sebenarnya untuk siapa, dan siapa yang sesungguhnya menyumbangkannya?
Penulis : **







