Sumenep – Di sebuah ruang kelas sederhana di SDN Campor Barat II, seorang guru honorer bernama Sovi Kurnia Dewi, S.Pd menorehkan jejak yang jauh melampaui papan tulis dan bangku murid. Bagi banyak orang, ia adalah guru yang sabar dan tekun. Namun bagi ribuan guru honorer di seluruh Indonesia, namanya kini menjelma sebagai simbol keberanian, ketulusan, dan pengabdian tanpa pamrih.
Perjalanan panjang itu bermula dari keresahan yang sederhana: ketidakpastian nasib guru honorer. Di Kabupaten Sumenep, Sovi melihat sendiri bagaimana para pendidik yang mengabdi puluhan tahun masih harus hidup dalam bayang-bayang status yang tak kunjung jelas. Dari situlah ia mulai menggerakkan rekan-rekannya, satu per satu, dari sekolah ke sekolah, membangun jejaring komunikasi dan solidaritas.
Tak butuh waktu lama hingga gerakan itu membesar. Sovi kemudian dipercaya menjadi koordinator guru honorer se-Kabupaten Sumenep, sebuah tanggung jawab besar yang ia emban tanpa lelah. Di tengah keterbatasan, ia menyatukan suara-suara kecil menjadi satu gema perjuangan yang kuat.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Puncak dari ikhtiar itu terjadi ketika Sovi ikut mengoordinir dan menggerakkan unjuk rasa damai di Badan Kepegawaian Negara (BKN). Aksi tersebut bukan sekadar demonstrasi, melainkan jeritan kolektif dari para guru honorer seluruh Indonesia yang menuntut keadilan. Ribuan guru dari berbagai daerah datang dengan satu tujuan: memperjuangkan masa depan yang lebih pasti.
Dan perjuangan itu tidak sia-sia. Dari tekanan moral dan persatuan itulah lahir sebuah kebijakan penting: PPPK Paruh Waktu, sebuah skema yang membuka harapan baru bagi guru honorer untuk mendapatkan pengakuan dan kepastian status dalam sistem kepegawaian negara.
Namun, bagi Sovi, kemenangan itu bukanlah garis akhir.
Ia kembali ke Sumenep dengan satu misi baru: memastikan bahwa kebijakan tersebut benar-benar bisa dirasakan manfaatnya oleh para guru. Maka dibentuklah Korcam (Koordinator Kecamatan) PPPK Paruh Waktu se-Kabupaten Sumenep, sebuah struktur yang rapi dan solid, yang bertugas mendampingi para guru mulai dari proses pemberkasan hingga pengambilan sumpah dan Surat Keputusan (SK).
Hasilnya terasa nyata. Pada proses pemberkasan, pengambilan sumpah, hingga penerbitan SK tahun lalu, ribuan PPPK Paruh Waktu di Sumenep merasakan kemudahan, keteraturan, dan pendampingan yang sebelumnya tak pernah ada. Banyak guru mengakui bahwa tanpa Korcam yang dikoordinir oleh Sovi, proses tersebut akan jauh lebih rumit dan melelahkan.
Di tengah apresiasi yang terus mengalir, Sovi tetap menunjukkan kerendahan hati. Ia menegaskan bahwa perjuangannya tidak pernah berdiri sendiri.
“Saya menyampaikan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada Bupati Sumenep, Kepala BKPSDM Kabupaten Sumenep, dan Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sumenep. Tanpa dukungan, arahan, dan kebijakan beliau-beliau, usaha dan ikhtiar yang kami lakukan tidak akan berarti apa-apa. Perjuangan ini adalah kerja bersama demi masa depan guru honorer,” ujar Sovi.
Sovi Kurnia Dewi bukan pejabat, bukan pula tokoh politik. Ia hanyalah seorang guru honorer dari sebuah sekolah dasar di pelosok. Namun dari ketulusan dan keberaniannya, lahir perubahan yang berdampak nasional.
Dalam diam dan kesederhanaannya, ia telah membuktikan satu hal:
bahwa satu orang dengan niat tulus bisa mengguncang sistem, dan satu guru dengan keberanian bisa mengubah masa depan ribuan guru lainnya.
Penulis : AS







