SUMENEP, Jumat, 20/3/2026 — Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah kembali hadir sebagai momentum suci yang dinanti umat Muslim. Bukan sekadar perayaan, Lebaran menjadi ruang untuk kembali ke fitrah, membersihkan hati, serta mempererat ikatan kemanusiaan yang kerap tergerus oleh kesibukan dunia.
Dalam nuansa kemenangan ini, Bani Insan Peduli (BIP) Foundation menyampaikan ucapan: “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin.” Sebuah kalimat sederhana yang sarat makna, menggambarkan harapan akan kedamaian, keikhlasan, dan kebersamaan.
Founder BIP Foundation, Ali Zainal Abidin, memandang Idul Fitri sebagai titik balik perjalanan spiritual. Lebaran bukan hanya tentang pakaian baru atau hidangan istimewa, tetapi tentang bagaimana manusia kembali menyadari hakikat hidup bahwa setiap rezeki yang dimiliki sejatinya adalah titipan yang harus memberi manfaat bagi sesama.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Ketika kita menerima amanah rezeki dari Allah, hakikat terima kasih itu adalah dengan mengasihkannya kembali kepada mereka yang membutuhkan,” ungkapnya.
Lebaran, dalam pandangannya, adalah tentang menghadirkan kebahagiaan yang merata. Tidak ada arti kemenangan jika masih ada saudara yang merasakan kesulitan tanpa uluran tangan.
Di tengah gemuruh takbir yang menggema, Idul Fitri sejatinya menyimpan pesan yang lebih dalam dari sekadar tradisi tahunan. Ia mengajarkan tentang kepekaan, tentang bagaimana hati yang telah ditempa selama Ramadan seharusnya menjadi lebih lembut dan peduli.
Apa yang dilakukan BIP Foundation menjadi gambaran bahwa makna Lebaran tidak berhenti pada ucapan, tetapi menemukan wujudnya dalam tindakan nyata. Ribuan masyarakat yang merasakan sentuhan kepedulian menjelang Idul Fitri menjadi cermin bahwa kebahagiaan bisa diciptakan bukan hanya dirayakan.
Di Sumenep, ribuan orang dari berbagai latar belakang berkumpul dalam satu ruang harapan. Mereka datang dengan cerita masing-masing, namun pulang dengan rasa yang sama: dihargai dan diperhatikan.
Sementara di Pamekasan, senyum anak-anak yatim yang bisa memilih kebutuhan Lebaran mereka sendiri menjadi potret kehangatan yang sulit dilupakan.
Lebaran akhirnya menemukan makna sejatinya bukan hanya tentang kembali suci secara pribadi, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan kebahagiaan bagi orang lain. Sebab di balik setiap senyum yang tercipta, ada nilai kemanusiaan yang terus hidup dan tumbuh.
Penulis : Redaksi








