PAMEKASAN, Detikzone.id – Setiap perjalanan memiliki awal dan akhir. Namun tidak semua akhir berarti hilangnya sebuah jejak. Ada perjalanan yang selesai secara kelembagaan, tetapi nilai-nilai yang ditinggalkannya tetap hidup dalam doa, kenangan, dan manfaat yang terus dirasakan banyak orang.
Kabar itu datang pada Rabu (15/7/2026). Founder Bani Insan Peduli (BIP) Foundation, H. Ali Zainal Abidin, mengumumkan bahwa yayasan yang didirikannya pada 23 Desember 2023 resmi dibubarkan berdasarkan hasil musyawarah bersama jajaran pengurus dan keputusan pimpinan pusat.
Melalui pernyataan yang disampaikan kepada relawan dan masyarakat, Ali Zainal Abidin memohon maaf atas segala kekhilafan selama yayasan berdiri.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Dengan segala kerendahan hati kami menyampaikan permohonan maaf kepada relawan dan seluruh masyarakat Madura maupun Indonesia. Terhitung mulai 15 Juli 2026, BIP Foundation resmi dibubarkan. Semoga seluruh sumbangsih, peluh, dan kebaikan yang telah kita ukir bersama menjadi amal jariyah yang terus mengalir di sisi Allah SWT,” tulisnya.
Kabar tersebut mengejutkan banyak pihak. Sebab, dalam waktu yang relatif singkat, BIP Foundation berkembang menjadi salah satu gerakan sosial yang dikenal luas melalui berbagai aksi kemanusiaan berskala besar di Jawa Timur.
Selama perjalanan pengabdiannya, BIP Foundation berhasil menorehkan dua Rekor Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI), yakni belanja gratis terbanyak serta pembagian set pakaian terbanyak dan santunan bagi anak yatim di Indonesia. Namun bagi BIP, penghargaan itu bukanlah tujuan utama, melainkan pengingat agar semangat berbagi terus dijaga.
Jejak pengabdian BIP tidak hanya tercatat dalam penghargaan, tetapi juga melalui ribuan penerima manfaat yang merasakan langsung berbagai program kemanusiaannya.
Semangat fastabiqul khairat atau berlomba-lomba dalam kebaikan menjadi ruh dari setiap kegiatan yang dijalankan sejak yayasan berdiri.
Di Kabupaten Sumenep, BIP Foundation menggelar santunan akbar bagi ribuan anak yatim dan kaum dhuafa. Ribuan penerima manfaat memperoleh santunan, bantuan pendidikan, paket sembako, serta doa bersama yang berlangsung penuh haru.
Dalam salah satu kesempatan, H. Ali Zainal Abidin berpesan bahwa memuliakan anak yatim merupakan bagian dari ajaran Islam.
“Jika ingin dicintai Rasulullah SAW, maka cintailah anak yatim. Jika ingin dekat dengan Rasulullah di akhirat, maka muliakan mereka dan jangan biarkan mereka merasa sendirian,” pesannya.
Tidak lama berselang, BIP kembali menghadirkan program kemanusiaan di Lapas Kelas IIA Pamekasan dengan nilai mencapai sekitar Rp2 miliar. Program tersebut meliputi penyaluran ribuan mushaf Al-Qur’an, 700 kasur, bantuan sosial, bantuan tunai, hingga peluncuran BIP Farm, berupa pengembangan peternakan ayam petelur, pelatihan kewirausahaan, dan pembekalan keterampilan kerja bagi warga binaan.
Di bulan Muharram, BIP juga menggelar Khitanan Massal 1.000 Anak yang diikuti peserta dari berbagai daerah di Madura. Program itu menjadi wujud kepedulian terhadap kesehatan anak sekaligus membantu meringankan beban ekonomi keluarga.
Rangkaian Muharram kemudian ditutup melalui kegiatan “Bakti Anak Nurani Ibu” di kawasan Pantai Badur, Kecamatan Batuputih, Kabupaten Sumenep. Mengusung tema “Indahnya Kebersamaan, Berkahnya Muharram”, kegiatan tersebut menjadi simbol bahwa dakwah, kepedulian sosial, dan kebersamaan dapat berjalan beriringan dalam satu gerakan kemanusiaan.
Perjalanan BIP Foundation juga menjangkau berbagai daerah di Jawa Timur melalui BIP Tour D’Jatim.
Di Kabupaten Lamongan, yayasan ini menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai lebih dari Rp1 miliar, meliputi pembangunan masjid, pengadaan ambulans, bantuan ternak produktif, penguatan aset yayasan, hingga pemberdayaan penyintas Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) yang telah pulih.
Di Kabupaten Malang, BIP Foundation membangun Asrama Umar Syarif di lingkungan Pondok Pesantren Rimba Wonoagung, Kecamatan Kasembon. Selain peletakan batu pertama pembangunan asrama, BIP juga menyantuni ratusan anak yatim dan kaum dhuafa.
Nama Umar Syarif diabadikan sebagai bentuk bakti H. Ali Zainal Abidin kepada almarhum ayahandanya. Harapannya, setiap ayat Al-Qur’an yang dibaca, ilmu yang diajarkan, dan amal saleh yang lahir dari asrama tersebut menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.
Pada hari pertama BIP Tour D’Jatim Part II di Kecamatan Pakis, Kabupaten Malang, BIP Foundation juga menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai ratusan juta rupiah kepada sekitar 1.000 anak yatim, kaum dhuafa, dan penyandang disabilitas. Bantuan tersebut meliputi rehabilitasi madrasah, bantuan laptop dan printer untuk yayasan, ratusan tas sekolah, hingga bantuan biaya kontrakan rumah selama tiga tahun bagi seorang ibu bernama Yuliatin yang kehilangan suaminya setelah menjalani operasi.
Sebelumnya, melalui Gebyar Fastabiqul Khairat di Kabupaten Sumenep, momentum resepsi pernikahan keluarga Founder BIP dipadukan dengan kegiatan sosial yang menghadirkan ribuan anak yatim dan kaum dhuafa. Dalam kegiatan itu dibagikan santunan, paket sembako, hadiah uang tunai, hingga tiga paket umrah gratis.
Tak hanya itu, BIP Foundation juga dikenal aktif membangun rumah layak huni bagi keluarga penyandang disabilitas, membangun sumur bor untuk masyarakat yang kesulitan air bersih, membantu pondok pesantren, masjid, madrasah, membagikan ribuan seragam sekolah, memberikan santunan kepada lansia, penyandang disabilitas, hingga berbagai bantuan sosial di sejumlah daerah.
Selama berdiri, BIP Foundation menjadikan prinsip “Fastabiqul Khairat” sebagai arah setiap gerakan.
Bagi H. Ali Zainal Abidin, kebahagiaan sejati bukanlah ketika harta berhasil dikumpulkan, melainkan ketika harta tersebut mampu menghapus air mata, menghidupkan harapan, dan menghadirkan senyum bagi mereka yang sedang berada dalam kesulitan.
Kini, secara resmi BIP Foundation memang telah mengakhiri perjalanan organisasinya. Namun berbagai program yang pernah dijalankan telah meninggalkan jejak yang sulit dilupakan.
Sebuah yayasan boleh dibubarkan. Sebuah organisasi boleh berhenti berjalan. Namun kepedulian yang pernah ditanamkan, doa dari anak yatim, senyum kaum dhuafa, harapan para lansia, dan manfaat yang telah dirasakan ribuan masyarakat akan tetap menjadi warisan kemanusiaan yang tidak mudah terhapus oleh waktu.
Penulis : Red







