MOJOKERTO, Detikzone.id – Di saat sebuah keluarga di Mojokerto menjadi sorotan publik akibat dugaan mengambil tas, sepatu, dan buku demi memenuhi kebutuhan anak-anaknya, secercah harapan justru datang dari gerakan kemanusiaan. Bani Insan Peduli (BIP) Foundation bersama Ipda Purnomo memilih mengedepankan empati dibanding penghakiman dengan memberikan bantuan langsung kepada keluarga tersebut.
Bantuan berupa tas sekolah, sepatu, buku, perlengkapan belajar, kebutuhan pokok, hingga berbagai kebutuhan lainnya diserahkan sebagai bentuk kepedulian agar anak-anak tetap dapat bersekolah dan keluarga tersebut memiliki semangat baru untuk bangkit dari keterpurukan.
Aksi sosial tersebut membawa pesan sederhana namun sangat mendalam, “Kepedulian kecil hari ini, berarti besar untuk kehidupan mereka.”
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Bagi BIP Foundation, setiap manusia berhak mendapatkan kesempatan untuk bangkit. Karena itu, di balik sebuah persoalan yang ramai diperbincangkan, lembaga kemanusiaan ini memilih hadir membawa solusi, bukan sekadar menghakimi.
Kolaborasi bersama Ipda Purnomo juga menjadi bukti bahwa nilai-nilai kemanusiaan mampu menyatukan berbagai pihak demi mengembalikan harapan bagi masyarakat yang sedang menghadapi ujian hidup.
Di bawah kepemimpinan Founder BIP Foundation H. Ali Zainal Abidin, gerakan Fastabiqul Khairat terus berkembang menjadi salah satu gerakan sosial yang konsisten menjangkau kelompok masyarakat yang selama ini sering terpinggirkan.
Dalam rangkaian BIP Tour D’Jatim Part II, misalnya, BIP Foundation menyalurkan bantuan kemanusiaan senilai ratusan juta rupiah kepada sekitar 1.000 anak yatim, kaum dhuafa, dan penyandang disabilitas di Kabupaten Malang.
Bantuan tersebut meliputi rehabilitasi madrasah senilai Rp100 juta, bantuan laptop dan printer, ratusan tas sekolah, hingga bantuan biaya kontrakan rumah selama tiga tahun kepada Yuliatin, seorang ibu yang baru menjalani operasi dan ditinggal wafat suaminya.
Tangis haru ribuan masyarakat pecah ketika H. Ali Zainal Abidin secara spontan menyatakan siap menanggung biaya kontrakan rumah keluarga tersebut agar ketiga anaknya tetap memiliki tempat tinggal dan masa depan yang lebih baik.
Tidak berhenti di Malang, BIP Foundation juga melanjutkan safari kemanusiaannya dengan membantu pembangunan Asrama Umar Syarif di Pondok Pesantren Rimba Wonoagung sebagai investasi amal jariyah bagi lahirnya generasi Qurani.
Sebelumnya, BIP juga menggelar Gebyar Fastabiqul Khairat di Kabupaten Sumenep yang menghadirkan ribuan anak yatim dan kaum dhuafa dalam santunan akbar yang dipadukan dengan pembagian sembako, bantuan pendidikan, hingga paket umrah.
Gerakan kemanusiaan BIP Foundation bahkan terus bergulir tanpa mengenal batas momentum.
Pada Muharram 1448 Hijriah, setelah sukses menggelar santunan akbar bersama ribuan anak yatim di Rumah Induk BIP Foundation, Kabupaten Sumenep, lembaga tersebut kembali bergerak menuju Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIA Pamekasan untuk menyapa ribuan warga binaan melalui doa bersama, tausiyah, dan santunan.
“Setelah bersama anak-anak yatim, hari ini kami ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara kita di Lapas Pamekasan. Mereka juga bagian dari masyarakat yang membutuhkan perhatian, dukungan, dan harapan untuk masa depan yang lebih baik,” ujar H. Ali Zainal Abidin.
Tak hanya itu, jejak kepedulian BIP Foundation juga pernah diwujudkan melalui BIP Tour Jatim di Yayasan Berkas Bersinar Abadi, Kabupaten Lamongan.
Dalam kegiatan tersebut, BIP Foundation menyalurkan bantuan kemanusiaan dengan nilai lebih dari Rp1 miliar, berupa pembangunan masjid, ambulans, bantuan ternak, hingga bantuan penyelesaian pembelian aset yayasan yang menjadi tempat rehabilitasi penyintas Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).
Di lokasi itu pula, Ipda Purnomo menjadi salah satu sosok yang selama ini aktif mendampingi proses pembinaan para penyintas ODGJ. Bersama BIP Foundation, ia membangun suasana kekeluargaan tanpa sekat dengan para pasien, relawan, dan masyarakat.
Salah satu program yang mendapat apresiasi luas adalah komitmen BIP Foundation memberikan uang saku Rp2 juta kepada setiap penyintas ODGJ yang dinyatakan sembuh sebagai modal awal untuk kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.
Sejak berdiri pada tahun 2023, BIP Foundation memang dikenal konsisten menjalankan berbagai program sosial, mulai dari santunan anak yatim dan dhuafa, bantuan kesehatan, bantuan penyandang disabilitas, bedah rumah, pembangunan rumah tahfidz, pembangunan masjid, sumur bor, bantuan pendidikan, khitan gratis ribuan anak, pembagian ribuan tas sekolah, hingga berbagai aksi sosial di berbagai daerah di Jawa Timur.
Menurut H. Ali Zainal Abidin, seluruh gerakan tersebut lahir dari keyakinan bahwa kemuliaan seseorang tidak diukur dari banyaknya harta yang dimiliki, tetapi dari seberapa besar manfaat yang mampu diberikan kepada sesama.
“Kami percaya kemuliaan sebuah bangsa tidak hanya diukur dari pembangunan fisiknya, tetapi juga dari bagaimana masyarakatnya memperlakukan anak yatim, kaum dhuafa, penyandang disabilitas, lansia, warga binaan, dan siapa pun yang membutuhkan pertolongan. Karena itu kami akan terus bergerak, terus berbagi, dan terus menghadirkan harapan,” tegasnya.
Kolaborasi kemanusiaan antara BIP Foundation dan Ipda Purnomo di Mojokerto kembali mempertegas satu pesan yang selama ini menjadi ruh gerakan Fastabiqul Khairat, yakni bahwa kemanusiaan tidak boleh memilih siapa yang akan ditolong.
Dari ribuan anak yatim di Sumenep, warga binaan di Pamekasan, penyintas ODGJ di Lamongan, hingga keluarga yang sedang menghadapi ujian hidup di Mojokerto, BIP Foundation terus mengirimkan pesan yang sama: tidak seorang pun boleh merasa sendirian menghadapi kehidupan, selama masih ada kepedulian yang terus menyala.







