RSUD Sumenep Tunjukkan IGD yang Sigap dan Empatik, Trauma Pasien Jadi Tenang

Jumat, 3 April 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto : Tenaga medis RSUD Sumenep sigap menangani pasien di IGD, sambil tetap menjaga komunikasi yang hangat dengan keluarga (kiri), Dirut RSUD Sumenep, dr. Erliyati, M.Kes

Foto : Tenaga medis RSUD Sumenep sigap menangani pasien di IGD, sambil tetap menjaga komunikasi yang hangat dengan keluarga (kiri), Dirut RSUD Sumenep, dr. Erliyati, M.Kes

SUMENEP, Jumat, 3/4/2026 — Dalam dunia kesehatan, waktu bukan sekadar angka. Setiap detik bisa menentukan keselamatan pasien. Karena itu, pelayanan yang cepat, jelas, dan manusiawi menjadi kebutuhan utama, terutama di Instalasi Gawat Darurat (IGD).

Perubahan kualitas layanan ini mulai dirasakan langsung oleh masyarakat di RSUD Sumenep. Sejumlah keluarga pasien mengaku mengalami perbedaan signifikan, terutama dalam hal kecepatan penanganan dan komunikasi tenaga medis.

Mursid, salah satu keluarga pasien, menceritakan pengalamannya saat mendampingi anggota keluarganya di IGD. Dalam situasi yang penuh kepanikan, ia justru merasakan pelayanan yang sigap dan menenangkan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Alhamdulillah, pelayanannya sangat baik. Petugasnya cepat dan selalu memberikan penjelasan yang jelas kepada kami. Kami jadi tidak bingung,” ungkapnya.

Menurutnya, yang paling terasa bukan hanya tindakan medis, tetapi cara tenaga kesehatan berkomunikasi dan menunjukkan empati kepada keluarga pasien.

“Kami tidak hanya dilayani, tapi juga ditenangkan. Itu yang penting saat kondisi darurat,” tambahnya.

Cerita lain datang dari SR, keluarga pasien kritis asal Kecamatan Rubaru. Ia mengaku sempat mengalami pengalaman yang membuatnya trauma saat anggota keluarganya dirawat di fasilitas kesehatan lain.

“Kami seperti tidak punya arah. Untuk koordinasi saja sulit, kami dibiarkan terlunta-lunta,” ujarnya.

Namun keadaan berubah saat pasien dirujuk ke RSUD Sumenep. Ia merasakan pelayanan yang lebih terstruktur, cepat, dan komunikatif.

“Alhamdulillah, sekarang kondisi keluarga saya di ICU sudah mulai membaik. Kami merasa lebih tenang karena semuanya jelas dan tidak membingungkan,” tuturnya.

Dari dua pengalaman tersebut, terlihat bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya soal alat dan fasilitas, tetapi juga tentang sistem yang rapi dan komunikasi yang manusiawi.

Dalam kondisi kritis, keluarga pasien tidak hanya membutuhkan tindakan medis, tetapi juga kepastian informasi dan rasa tenang. Ketika komunikasi berjalan baik, tingkat kepercayaan pun meningkat.

SR juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh opini yang belum tentu sesuai fakta.

“Lebih baik melihat langsung dan merasakan sendiri. Karena saat kondisi genting, yang dibutuhkan adalah pelayanan nyata, bukan sekadar cerita,” tegasnya.

Pengalaman ini menjadi pelajaran penting bahwa memilih layanan kesehatan harus berdasarkan pengalaman dan kualitas pelayanan yang dirasakan, bukan sekadar persepsi.

Di sisi lain, penerapan aturan yang disiplin seperti pembatasan kunjungan, pengaturan penunggu, hingga kawasan tanpa rokok juga menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan yang aman bagi pasien.

Semua itu menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan yang baik adalah kombinasi antara kecepatan, ketepatan, dan kepedulian.

Pada akhirnya, dalam situasi darurat, masyarakat tidak mencari yang paling terkenal, tetapi yang paling siap, paling jelas, dan paling peduli.

Dan dari pengalaman para keluarga pasien ini, satu hal menjadi jelas: pelayanan yang baik akan selalu berbicara melalui kenyataan.

Penulis : Redaksi

Berita Terkait

DBHCHT Jadi Penopang Layanan Kesehatan, Pemkab Situbondo Gelontorkan Rp26,24 Miliar untuk Jaminan Kesehatan dan Kader Posyandu
Tak Sekadar Berobat, RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Buktikan Lompatan Mutu Layanan, Kepuasan dan Keselamatan Pasien Jadi Prioritas
Koperasi Kebanggaan RSUD Sumenep Raih Predikat Sehat, Bukti Profesionalisme Tak Sekadar Slogan
27 Dokter di Probolinggo ‘Digembleng’ 10 Hari di Lawang, Targetkan Eliminasi Total Malaria
Bupati Fauzi: Kepercayaan Kemenkes Harus Dijawab dengan Kerja Nyata, dr. Erliyati Matangkan Layanan KJSU di RSUD Sumenep
Telah Hadir Layanan Neurorestorasi di Bali
Tak Memandang Jabatan, Dirut RSUD Sumenep dr. Erliyati Beri Penghormatan kepada Pegawai Purna Tugas, Bukti Budaya Saling Menghargai
Tekan Stunting Sejak Remaja, TPPS dan Puskesmas Gending Probolinggo Gelar Edukasi Kesehatan di Pesantren

Berita Terkait

Senin, 20 Juli 2026 - 16:24 WIB

DBHCHT Jadi Penopang Layanan Kesehatan, Pemkab Situbondo Gelontorkan Rp26,24 Miliar untuk Jaminan Kesehatan dan Kader Posyandu

Senin, 20 Juli 2026 - 15:56 WIB

Tak Sekadar Berobat, RSUD dr. Moh. Anwar Sumenep Buktikan Lompatan Mutu Layanan, Kepuasan dan Keselamatan Pasien Jadi Prioritas

Minggu, 19 Juli 2026 - 15:22 WIB

Koperasi Kebanggaan RSUD Sumenep Raih Predikat Sehat, Bukti Profesionalisme Tak Sekadar Slogan

Minggu, 12 Juli 2026 - 21:06 WIB

27 Dokter di Probolinggo ‘Digembleng’ 10 Hari di Lawang, Targetkan Eliminasi Total Malaria

Jumat, 10 Juli 2026 - 22:54 WIB

Bupati Fauzi: Kepercayaan Kemenkes Harus Dijawab dengan Kerja Nyata, dr. Erliyati Matangkan Layanan KJSU di RSUD Sumenep

Berita Terbaru