JEMBER — Langkah baru dalam peta pengabdian masyarakat berbasis kerohanian dan keadilan sosial resmi ditancapkan di Kabupaten Jember. Organisasi sosial-spiritual Yakuza Maneges secara resmi melantik dan mendeklarasikan jajaran kepengurusan Cabang Jember. Prosesi khidmat tersebut berlangsung di Pendopo Wahyawibawagraha, Jember, Minggu (2/8/2026) malam.
Perhelatan deklarasi tersebut menjadi momentum krusial yang mempertemukan berbagai elemen strategis daerah. Hadir secara langsung Pendiri Yakuza Maneges, Den Gus Thuba Topo Broto Maneges, didampingi jajaran Dewan Pimpinan Pusat (DPP).
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Suasana pendopo kian terasa hangat dengan kehadiran Bupati Jember, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), para Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), perwakilan Lintas Organisasi Masyarakat (Ormas), Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), insan pers, serta deretan tokoh agama dan tokoh masyarakat dari berbagai pelosok Jember.
Dalam pidatonya, Ketua Yakuza Maneges Wilayah Jember, Eko Mulyadi, menegaskan bahwa kehadiran organisasi ini di tanah Jember berdiri di atas pijakan historis dan tanggung jawab moral yang kokoh. Deklarasi di Jember ini, lanjutnya, merupakan estafet dari deklarasi Yakuza pusat sebagai bukti nyata komitmen, loyalitas, totalitas, integritas, dan kesungguhan seluruh anggota di daerah.
Ia menggarisbawahi bahwa Yakuza Maneges dibentuk bukan sebagai panggung untuk gagah-gagahan, melainkan sebagai kawah candradimuka pembinaan jiwa dan ladang pengabdian nyata.
“Malam ini menjadi saksi sejarah berkumpulnya tokoh-tokoh penting dan berpengaruh di Kabupaten Jember. Perlu saya tegaskan sejak awal, Yakuza Maneges hadir di sini bukan sekadar wadah untuk berkumpul, berorganisasi tanpa arah, apalagi sekadar untuk bergaya. Ini adalah wadah pembinaan, ruang pembenahan diri, dan ladang pengabdian,” ujar Eko Mulyadi berapi-api di hadapan ratusan tamu undangan.
Di hadapan para tokoh yang hadir, Eko membedah secara mendalam makna filosofis di balik pemakaian nama “Yakuza Maneges”—sebuah nomenklatur yang kerap memantik rasa penasaran di tengah publik.
Secara etimologis dan kontekstual, kata Yakuza diletakkan sebagai cermin masa lalu. Yakuza menjadi simbol pengingat akan jejak perjalanan hidup yang mungkin pernah kelam atau berdebu, namun memiliki tekad membaja untuk mengakhiri lembaran hidup dalam kebaikan (Zuhud Abadi).
Adapun kata Maneges, selain merujuk pada sosok pimpinan tertinggi mereka, Den Gus Thuba, diserap dari perbendaharaan istilah Jawa kuno yang bermakna proses pasrah diri—sebuah kepasrahan total dengan memusatkan jiwa dan raga secara utuh kepada Sang Maha Pencipta.
“Yakuza Maneges membawa pesan fundamental bahwa tidak ada kata terlambat untuk berubah. Setiap manusia, seberapa pun kelam masa lalunya, berhak mendapatkan kesempatan kedua. Organisasi ini kami dedikasikan sebagai rumah hangat bagi saudara-saudara kita yang kerap dijuluki ‘santri jalur kiri’—mereka yang pernah tersesat di jalanan, namun memiliki tekad bulat untuk kembali ke jalan keridaan Tuhan dan memberi manfaat bagi sesama,” papar Eko.
Secara kultural dan spiritual, pergerakan Yakuza Maneges bertaut erat dengan tradisi Majelis Sema’an Al-Qur’an dan Dzikrul Ghofilin Moloekatan Gus Miek. Organisasi ini menyerap secara utuh falsafah dakwah almarhum KH. Hamim Tohari Djazuli (Gus Miek), yakni garis dakwah simpatik yang responsif merangkul kaum marjinal, masyarakat kelas bawah, serta kelompok-kelompok yang selama ini kerap tersisih dari struktur sosial formal.
Melengkapi visi kerohaniannya, Eko turut memaparkan sistem kerja dan doktrin organisasi yang menempatkan aksi nyata di atas wacana. Yakuza Maneges memposisikan diri sebagai wadah yang bergerak secara disiplin, taktis, dan terukur.
Eko merinci tujuh prinsip dasar yang menjadi pijakan gerakan seluruh kader Yakuza Maneges: Kesatria, Militan, Profesional, Diam, Senyap, Eksekutif, dan Tanggung Jawab.
Dengan turunan visi yang sangat spesifik: menjaga yang lemah, membela yang benar, dan membenahi yang salah, gerakan ini memilih untuk konsisten hadir di tengah sunyi, namun dampaknya ditargetkan terpatri langsung di tengah masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, Eko meluruskan persepsi publik terkait jargon populer organisasi mereka, “Gasss Tanpa Ampun”, agar tidak ditafsirkan secara keliru. Slogan tersebut merupakan dorongan doktrinal bagi seluruh anggota untuk bertindak cepat, tegas, dan tanpa ragu dalam urusan kebajikan.
“Ketika ada masyarakat lemah yang butuh pertolongan, atau ada ketidakadilan yang perlu dibenahi, di situlah semangat ‘Gasss Tanpa Ampun’ kami jalankan. Tidak ada penundaan untuk aksi kemanusiaan,” tegas Eko, disambut tepuk tangan riuh.
Tidak berhenti pada gerakan kerohanian, Yakuza Maneges menasbihkan diri sebagai benteng perlindungan bagi masyarakat yang sedang dihantam krisis, baik masalah hukum maupun non-hukum, hingga pemulihan fisik maupun psikis/mental.
Eko menegaskan bahwa organisasi yang dipimpinnya tidak ragu untuk memantau dan menindak berbagai kasus penyimpangan yang terjadi di tengah masyarakat, pejabat, bahkan oknum ulama sekalipun. Langkah ini diambil sebagai perwujudan prinsip keagamaan yang kuat: amar ma’ruf nahi munkar (mengajak kepada kebaikan, mencegah kemungkaran).
Meski bertindak tegas, Eko menekankan bahwa Yakuza Maneges mengedepankan pendekatan restorative justice (keadilan restoratif) yang proporsional.
“Kami bergerak mengedepankan restorative justice on the track, tidak langsung menempuh jalur pidana yang kaku, tetapi memastikan adanya pertanggungjawaban pelaku kepada korban secara langsung. Semangat kami selaras dengan prinsip amar ma’ruf nahi munkar,” terangnya.
Guna memastikan misi sosial ini berjalan efektif dan objektif, Eko menegaskan bahwa Yakuza Maneges adalah organisasi non-partisan yang berdiri di atas semua golongan dan bebas dari kepentingan politik praktis. Untuk mengawal keamanan, ketertiban, serta keadilan di tengah masyarakat umum maupun lingkungan pondok pesantren, Yakuza Maneges telah membangun jejaring kemitraan yang solid dengan pelbagai pemangku kepentingan (stakeholders).
“Kami bermitra dengan TNI, Polri, lembaga negara, tim pengacara sebagai konsultan hukum, serta berkolaborasi dengan berbagai ormas, LSM, pengurus lembaga, hingga insan pers dan media. Kami berharap semua yang hadir malam ini menjadi perekat untuk bersama-sama menjalankan visi dan misi mulia ini,” tutur Eko.
Demi menjaga marwah organisasi agar tidak disalahgunakan, Eko Mulyadi secara terbuka membacakan 7 Kode Etik Organisasi Yakuza Maneges yang wajib dipatuhi oleh seluruh kader tanpa terkecuali:
1. Menjaga nama baik Yakuza Maneges di mana pun berada.
2. Menjunjung tinggi loyalitas dan solidaritas antaranggota dan masyarakat.
3. Dilarang keras membawa nama Yakuza Maneges untuk kepentingan pribadi, tindak kriminal, dan unsur politik.
4. Dilarang menggunakan nama Yakuza Maneges dalam bergabung dengan organisasi/LSM lain, serta dilarang untuk aksi demonstrasi dan kampanye politik.
5. Dilarang melakukan tindakan melanggar hukum dan asusila apa pun, termasuk Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT).
6. Totalitas dalam membantu kaum lemah dan terzalimi.
7. Siap menerima sanksi tegas apabila terbukti melanggar kode etik organisasi.
Mengakhiri pidatunya, Eko menyampaikan harapan besar agar seluruh elemen yang hadir dapat memberikan dukungan moral dan sinergi yang berkelanjutan demi tegaknya misi kemanusiaan ini di Kabupaten Jember.
“Akhir kata, atas nama Yakuza Maneges Jember, kami berharap dukungan dari seluruh pihak yang hadir agar organisasi ini dapat berjalan sesuai dengan visi dan misi. Semoga apa yang kita lakukan malam ini dan ke depan menjadi kebaikan serta ladang pahala bagi kita semua,” pangkas Eko menutup pidatonya.
Rangkaian acara deklarasi yang berlangsung hangat dan penuh kekhidmatan tersebut kemudian diakhiri dengan doa bersama dan sesi ramah tamah antar-pimpinan daerah, tokoh agama, dan pengurus Yakuza Maneges.(red/BG17)







