PACITAN — Ketika krisis air bersih melanda, air tidak lagi sekadar urusan memutar keran. Bagi warga terdampak kekeringan di Dusun Krajan, Desa Kalibukal, Kabupaten Pacitan, air bersih adalah barang langka yang menuntut perhitungan ketat dalam setiap pemakaiannya, sembari berharap armada bantuan segera tiba.
Kondisi memprihatinkan ini direspons langsung oleh Yakuza Maneges Wilayah Pacitan—organisasi sosial dan spiritual di bawah naungan pimpinan pusat Den Gus Thuba Topo Broto Maneges. Sebagai bentuk kepedulian sosial, Yakuza Maneges turun ke lapangan menyalurkan bantuan air bersih guna meringankan beban harian masyarakat.
Penanggung Jawab Yakuza Maneges Wilayah Pacitan, Jhon Vera, hadir secara langsung menyerahkan bantuan tangki air tersebut. Ia menegaskan bahwa aksi ini merupakan manifestasi dari komitmen kemanusiaan yang ditanamkan oleh pendiri organisasi, Gus Thuba.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Meski keberadaan organisasi ini terbilang baru di Kabupaten Pacitan, Yakuza Maneges mulai mengambil peran aktif dalam merespons persoalan mendasar warga. Bagi organisasi ini, aksi sosial tidak sebatas kegiatan seremonial, melainkan wujud nyata kehadiran di tengah masyarakat yang sedang membutuhkan tanggap darurat.
Di sela-sela penyaluran bantuan pada Selasa (15/9/2026), Jhon Vera menyoroti perlunya langkah taktis sekaligus strategis dalam menangani krisis tahunan ini.
“Semoga pemerintah juga semakin memperhatikan kondisi kekeringan ini. Banyak masyarakat yang kesulitan mendapatkan air bersih, sehingga bantuan seperti ini sangat dibutuhkan,” ujar Jhon Vera.
Ia menambahkan bahwa kendati distribusi air darurat mampu menopang kebutuhan warga dalam jangka pendek, penyelesaian akar masalah tetap memerlukan komitmen penataan sumber daya air dari pemerintah daerah.
Untuk diketahui, dampak krisis air di lapangan terasa nyata. Kepala Dusun Krajan, Turos Subagio, mengungkapkan bahwa keterbatasan air bersih telah menghimpit warga RT 02/RW 02 sejak pertengahan Agustus. Lingkungan yang dihuni sekitar 23 Kepala Keluarga (KK) atau 90 jiwa tersebut terpaksa memangkas aktivitas harian dasar.
“Kalau tidak ada bantuan air bersih, warga terpaksa menghemat air. Untuk mandi saja hanya satu kali sehari,” tutur Turos Subagio.
Kondisi tersebut menunjukkan bagaimana kekeringan tidak sekadar mengeringkan mata air, tetapi juga mengubah ritme hidup dan sanitasi dasar masyarakat. Turos berharap penanganan dampak kekeringan ke depan tidak berhenti pada pembagian air bersih berkala.
“Harapannya ke depan ada solusi permanen, misalnya dibuatkan sumur atau sarana air bersih permanen. Jadi ketika kemarau panjang, masyarakat tidak selalu kekurangan air,” pintanya.
Catatan Editorial: Mengakhiri Siklus Krisis Tahunan
Langkah responsif Yakuza Maneges di bawah kepemimpinan Den Gus Thuba Topo Broto Maneges membuktikan vitalnya peran elemen masyarakat dalam menutup celah penanganan darurat. Bantuan satu per satu tangki air hadir sebagai penyambung napas bagi warga Dusun Krajan.
Namun, sebagaimana disuarakan oleh para relawan di lapangan, bantuan darurat adalah penawar sementara. Pemerintah daerah dan instansi terkait dituntut untuk segera mengeksekusi solusi infrastruktur jangka panjang—seperti pembangunan sumur dalam dan instalasi pemipaan permanen—agar siklus kelangkaan air bersih tidak terus berulang setiap musim kemarau tiba.
(Redaksi Yakuza Maneges Pusat)







