KEDIRI — Penampilan eksentrik yang dipadu dengan gerakan sosial-spiritual kerap menarik perhatian publik. Sosok Den GT— (yang dikenal publik sebagai Den Gus Thuba Topo Broto Maneges) —merupakan salah satu figur yang konsisten mengusung penampilan perlente dengan pembawaan enigmatik sejak memasuki usia 18 tahun.
Berdasarkan fakta di lapangan, hobi dan ciri khas penampilan Den GT ini tidak sekadar menjadi gaya personal, melainkan melekat pada identitas tugas dan misinya.
Beliau kerap tampil dengan setelan busana rapi, formal, dan elegan, bak seorang Mafia Perlente, yang dipadukan dengan gaya bahasa terukur serta kehadiran di ruang publik yang tidak kurang akan nuansa spiritualitas.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Gaya khas tersebut turut mewarnai pendirian Yakuza Maneges, sebuah organisasi sosial dan spiritual yang dideklarasikan di Kediri, Jawa Timur.
Nama “Yakuza” dalam wadah ini difungsikan sebagai akronim filosofis penuh Ilusi, (Yang Awalnya Kotor Ujungnya Zuhud Abadi), melanjutkan tugas Gus Miek sang kakek merangkul kaum marjinal dan masyarakat yang ingin melakukan pembinaan diri tanpa stigma.
“Pantesan selama ini saya perhatikan Den GT selalu nyentrik elegan, menggunakan baju gelap dan nyetrik rapi. Penampilan yang cenderung misterius. Dalam konteks gerakan sosial, pendekatan ini dapat memicu rasa penasaran publik sekaligus membedakan karakter kepemimpinannya dari figur lainnya,” ujar salah seorang murid beliau serta anggota Yakuza Maneges.
Penulis : Bimo







