Bawean – Pembukaan Pelatihan Kepemimpinan Perempuan Berbasis Nilai Damai dengan tema “Menguatkan Kepemimpinan Perempuan Pesisir untuk Mendorong Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Keluarga” digelar di Alun-alun Sangkapura, Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, Jumat (25/9/2026).
Kegiatan yang berlangsung pada 25–27 September 2026 tersebut menjadi ruang penguatan kapasitas perempuan, khususnya dalam kepemimpinan, kemandirian ekonomi, penguatan jejaring, serta pengembangan potensi lokal.
Kegiatan penyambutan turut dimeriahkan sejumlah penampilan, di antaranya drumband SMP Muhammadiyah ’Aisyiyah, pencak silat, senam massal ’Aisyiyah Ceria Bawean, penampilan siswa penyandang disabilitas SD MUTU dan binaan Gerakan ’Aisyiyah Layani Disabilitas (GALA), serta pertunjukan seni dari TK ’Aisyiyah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Ketua Panitia, Nyimas Muthmainnah, S.Keb., menyebut kehadiran Pimpinan Pusat (PP) ’Aisyiyah di Bawean menjadi momentum bersejarah bagi gerakan ’Aisyiyah di wilayah kepulauan tersebut. Menurutnya, kunjungan ini menjadi kesempatan untuk memperkuat berbagai program pemberdayaan dan pelayanan masyarakat.
“Setelah kurang lebih 60 tahun, Pimpinan Pusat (PP) ’Aisyiyah kembali melakukan kunjungan ke Pulau Bawean,” tutur Nyimas dalam sambutannya.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, sejumlah kegiatan turut dilaksanakan, termasuk pelatihan kepemimpinan perempuan serta penguatan program pelayanan masyarakat.
Salah satu agenda utama adalah peluncuran tiga pusat layanan ’Aisyiyah, yakni Rumah Kader ’Aisyiyah Tunas Tangkas, Rumah Lansia Sehat Sakinah Berkarya Berdaya ’Aisyiyah, serta Rumah Layanan Intervensi Gerakan ’Aisyiyah Layani Disabilitas (GALA) PCA Sangkapura Bawean.
Rumah Kader diarahkan sebagai ruang pembinaan dan regenerasi kader. Sementara Rumah Lansia dan Rumah Layanan Intervensi menjadi bagian dari upaya memperkuat pelayanan kepada masyarakat, khususnya kelompok lansia dan penyandang disabilitas.
Camat Sangkapura, Umar Juned, menyambut baik peluncuran ketiga layanan tersebut. Ia menilai perhatian terhadap kelompok disabilitas menjadi hal penting, terutama di tengah kondisi masyarakat kepulauan yang memiliki tantangan tersendiri dalam memperoleh akses pelayanan.
“Kami terus terang di sini berbangga sekali bahwa kegiatan-kegiatan, mulai dari kader, mulai juga rumah lansia, ada juga terkait dengan masalah disabilitas,” ungkapnya.
Umar juga menyinggung prestasi penyandang disabilitas asal Bawean yang berhasil mengharumkan nama daerah ke kancah internasional melalui cabang olahraga sepak takraw. Ia berharap program ’Aisyiyah dapat terus berjalan dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Mudah-mudahan apa yang sudah hari ini dicanangkan oleh Pimpinan Pusat ’Aisyiyah, ke depan bisa terus bergerak untuk memanusiakan manusia, terutama dalam rangka mengangkat harkat dan martabat rekan, teman, sahabat, saudara kita yang disabilitas,” harapnya.
Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah Jawa Timur, Dra. Siti Dalilah Candrawati, M.Ag., turut mengapresiasi PCA Sangkapura yang menjadi tuan rumah kegiatan tersebut. Ia menegaskan bahwa ’Aisyiyah merupakan mitra Muhammadiyah dalam menjalankan dakwah sekaligus pemberdayaan masyarakat.
“Inilah kami, Bapak/Ibu yang saya hormati, ’Aisyiyah sebagai mitra organisasi Muhammadiyah. Kita bukan organisasi konco wingking (pelengkap di belakang), melainkan organisasi mitra yang bersama-sama Muhammadiyah berdakwah menyebarkan Islam, memberikan pencerahan, pembebasan, pemberdayaan, dan kemajuan di masyarakat,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua Majelis Pembinaan Kader (MPK) PP ’Aisyiyah, Prof. Dr. Mami Hajarah, menekankan pentingnya kaderisasi sebagai bagian dari keberlanjutan gerakan ’Aisyiyah. Menurutnya, organisasi yang besar dan memiliki banyak program tetap membutuhkan kader yang siap meneruskan dan mengembangkan gerakan.
“Kita boleh memiliki organisasi yang besar, struktur yang lengkap, amal usaha yang banyak, dan program yang beragam, tetapi semua itu tidak akan memiliki keberlanjutan apabila kita tidak mempunyai kader yang siap melanjutkan, mengembangkan, dan menyempurnakan gerakan,” jelasnya.
Ia menambahkan, penguatan kader perlu berjalan beriringan dengan pelayanan yang menyentuh kebutuhan nyata masyarakat. Karena itu, Rumah Kader, Rumah Lansia, dan Rumah Layanan Intervensi diharapkan saling terhubung dalam memperkuat gerakan ’Aisyiyah di Bawean.
“Ketiga itu diharapkan menjadi satu ekosistem dakwah dan pelayanan ’Aisyiyah di Bawean,” ungkapnya.
Salmah: Dakwah Harus Diwujudkan dalam Amal Nyata
Ketua Umum PP ’Aisyiyah, Dr. Apt. Salmah Orbayinah, M.Kes., menekankan pentingnya menjadikan dakwah sebagai gerakan yang diwujudkan melalui tindakan nyata untuk menjawab persoalan masyarakat.
Salmah mengatakan, dakwah tidak semata-mata dilakukan melalui mimbar maupun pengajaran, tetapi harus diterjemahkan dalam bentuk amal nyata yang menjawab kebutuhan masyarakat.
“Dakwah tidak hanya sekadar di mimbar ataupun pengajaran, tetapi dakwahnya Pak Kiai Dahlan yang kemudian kita teruskan sampai saat ini adalah diwujudkan dalam amal nyata untuk menjawab persoalan-persoalan yang ada dalam bentuk amal usaha,” tegasnya.
Menurutnya, semangat tersebut merupakan bagian dari warisan perjuangan K.H. Ahmad Dahlan dan Siti Walidah Dahlan dalam mengembangkan pendidikan, dakwah, pemberdayaan, serta kepedulian sosial.
Dalam konteks pemberdayaan perempuan, Salmah menekankan pentingnya melanjutkan semangat Siti Walidah Dahlan dalam mendorong perempuan berpengetahuan, mandiri, dan berperan di tengah masyarakat.
Semangat tersebut sejalan dengan penguatan kepemimpinan perempuan di Bawean agar mampu menjadi kader sekaligus penggerak pemberdayaan dan pelayanan masyarakat.
Penulis : Abd Hamid







