SEMARANG, Detikzone.id – Majelis Hakim Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Semarang menjatuhkan putusan terhadap mantan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryanti Rahayu atau yang akrab disapa Mbak Ita, serta suaminya Alwin Basri, dalam perkara korupsi.
Sidang pembacaan putusan berlangsung pada Rabu (27/8/2025) dipimpin Ketua Majelis Hakim Gatot Sarwadi.
Persidangan dimulai pukul 09.18 WIB dan berakhir sekitar pukul 12.00 WIB. Dalam sidang tersebut, Mbak Ita hadir dengan pakaian bermotif garis merah dipadu kerudung pink, sementara Alwin mengenakan batik cokelat. Keduanya didampingi tim kuasa hukum masing-masing.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Dalam amar putusan, majelis hakim menyatakan keduanya terbukti melakukan tindak pidana korupsi secara bersama-sama.
“Menjatuhkan pidana kepada terdakwa I, Hevearita Gunaryanti Rahayu, dengan hukuman penjara lima tahun serta denda Rp300 juta. Apabila denda tidak dibayar, diganti kurungan empat bulan,” kata Hakim Gatot.
Selain itu, Mbak Ita diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp683 juta. Jika tidak dilunasi dalam tenggat waktu yang ditentukan, maka diganti dengan hukuman penjara enam bulan.
Adapun suaminya, Alwin Basri, yang pernah menjabat Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, dijatuhi hukuman lebih berat yakni tujuh tahun penjara.
Ia juga dikenakan denda Rp300 juta subsider empat bulan kurungan, serta wajib membayar uang pengganti Rp4 miliar. Bila tidak dibayar, maka diganti dengan enam bulan penjara.
Putusan tersebut lebih ringan dibandingkan tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) KPK yang sebelumnya meminta enam tahun penjara bagi Mbak Ita dan delapan tahun penjara untuk Alwin.
Majelis hakim menyatakan kedua terdakwa melanggar Pasal 12 huruf a, b, dan f Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan UU Nomor 20 Tahun 2001. Hakim juga menegaskan agar keduanya tetap berada di dalam tahanan.
Atas putusan tersebut, baik Hevearita maupun Alwin belum menyatakan menerima ataupun menolak. Keduanya memilih bersikap “pikir-pikir” untuk menentukan langkah hukum selanjutnya. (Mualim)
Penulis : Mualim







