Pemalang – Seorang lelaki tua bernama Parikhin ( 87 ) warga kelurahan Bojongbata, kecamatan/kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, walaupun sudah uzur masih tetap menjalankan profesi yang digelutinya selama setengah abad lebih sebagai penarik becak.
Kakek dengan 8 anak dan belasan cucu ini telah menjalani profesinya sebagai tukang becak selama lebih dari setengah abad. Kisahnya yang penuh ketabahan dan keikhlasan patut menjadi inspirasi bagi anak muda yang masih mempunyai tenaga kuat dan fisik tegap
Ditemui di pangkalan becak Halte bis Jalan Gatot Subroto, Pemalang, pada rabu (17/9). Terlihat tubuhnya sudah uzur, akan tetapi semangatnya untuk mengais rejeki patut kita teladani tak mengenal kata lelah
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Saya kalau nganggur di rumah malah badan pada sakit, ini mangkal barangkali ada penumpang yang mau naik becak,” tutur Parikhin lirih
Meskipun harus mengayuh becak di cuaca panas yang membuat keringat bercucuran, Parikhin tetap tegar. Bunyi deritan pedal becak tuanya seolah menjadi saksi bisu perjuangannya mencari nafkah.
“Saya sudah narik becak sejak tahun 1960-an, sebelum peristiwa G30S/PKI. Kira-kira sudah 50 tahun lebih, sejak zaman Presiden Soekarno,” kenangnya.
*Penghasilan Pas-pasan, Tapi Tetap Bersyukur*
Parikhin mengaku penghasilan sebagai tukang becak di jaman sekarang tidak menentu. Setiap hari, ia mangkal di Halte Jalan Gatot Subroto atau di sebelah utara Pasar Bojongbata, Pemalang. Kadang, ia hanya membawa pulang Rp30 ribu hingga Rp50 ribu per hari, Bahkan, tak jarang ia pulang tanpa bawa uang sama sekali karena sepi penumpang.
“Saya biasa tidak narik penumpang seharian, untuk makan Alhamdulillah seadanya. Yang penting minum teh panas, makan nggak perlu banyak. Kalau ada anak-anak yang kirim makanan, ya syukur. Kalau nggak, ya ke warung,” pungkasnya sambil tersenyum.
Meski hidup pas-pasan, Parikhin tetap bersyukur bisa mencari nafkah secara halal. Baginya hidup itu harus disyukuri bukan untuk disesali,
“Saya sudah terbiasa puasa senin kamis dari muda. Meski kerja narik becak di jalanan kalau pingin puasa Senin-Kamis ya tetap dijalani. Semuanya tergantung niat,” ujarnya.
Kisah kakek Parikhin adalah bukti nyata bahwa hidup harus dijalani dan diperjuangkan bukan hanya diratapi, bekerja tak mengenal batas usia atau kondisi. Meski harus berjuang di jalanan, kakek tua ini tetap tegar menjalani hidup, Ketabahan dan keikhlasannya dalam menghadapi tantangan hidup patut menjadi teladan bagi generasi muda.
“Saya hanya ingin menjalani hidup dengan ikhlas. Puasa Senin kamis itu mengajarkan kita untuk sabar dan bersyukur,” tutur Parikhin dengan senyum yang menyejukkan. ( Ragil)
Penulis : Ragil







