Green Economy: Saatnya Anak Muda Ikut Turun Tangan

Senin, 17 November 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Muhammad Zulfan Firdaus – STMIK TAZKIA, Sistem Informasi, Semester Ganjil 2025/2026

Nasional – Pergeseran besar sedang terjadi di dunia bisnis. Kalau dulu inovasi identik dengan teknologi serba cepat, sekarang arah pembicaraan mulai menyentuh hal yang lebih mendasar: bagaimana bisnis tetap tumbuh tanpa merusak masa depan. Dari kampus sampai ruang rapat, dari UMKM sampai perusahaan besar, istilah green economy makin sering terdengar bukan sekadar tren, tapi kebutuhan.

Kenapa Green Economy Makin Relevan Buat Kita?

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Perubahan iklim bukan lagi isu jauh di luar sana. Cuaca makin ekstrem, biaya energi makin naik, dan kelangkaan bahan baku sudah mulai terasa. Kondisi ini bikin cara lama berbisnis perlahan kehilangan daya tahan. Konsumen, terutama generasi muda juga lebih kritis. Produk ramah lingkungan, transparansi bahan produksi, sampai jejak karbon jadi pertimbangan sebelum membeli.
Artinya? Pasar sedang berubah, dan bisnis harus ikut menyesuaikan.

Masalahnya di Mana?

Sebagian pelaku usaha masih menganggap green economy ribet dan mahal. Butuh alat baru, biaya tambahan, atau proses yang lebih panjang. Sementara di sisi lain, banyak bisnis terjebak pola lama: buang banyak energi, sampah menumpuk, dan penggunaan bahan baku boros. Padahal model seperti ini cepat atau lambat akan tergerus.

Di tengah kondisi itu, muncul kesenjangan: semua orang tahu perlu berubah, tapi tidak semua paham bagaimana memulainya.

Green Economy Bisa Jadi Peluang Besar
Justru di sinilah pintu peluang terbuka.

Ekonomi hijau bukan cuma soal “menyelamatkan bumi”.

Ia menawarkan model bisnis yang:
• lebih hemat biaya jangka panjang (karena energi dan bahan baku terpakai lebih efisien),
• lebih mudah diterima pasar, dan
• punya nilai jual lebih tinggi karena membawa misi keberlanjutan.
Banyak brand besar dunia sudah membuktikan ini. Perusahaan yang menerapkan praktik hijau rata-rata mencatat peningkatan kepercayaan konsumen dan loyalitas yang lebih kuat. Bahkan investor kini mulai memprioritaskan bisnis yang punya komitmen lingkungan.

Kenapa Kita Perlu Mulai Mencoba Bisnis Hijau?

Pertama, karena arah ekonomi dunia bergerak ke sana. Negara-negara besar berlomba mengurangi emisi, mengembangkan energi bersih, dan mendorong industri ramah lingkungan. Kalau Indonesia tidak ikut beradaptasi, kita bisa tertinggal.

Kedua, pasar anak muda sedang memilih. Konsumen generasi sekarang lebih menghargai produk yang punya nilai. Mereka rela pindah ke brand lain hanya karena isu etika produksi atau keberlanjutan.

Ketiga, dampaknya nyata untuk masa depan. Praktik hijau berarti sumber daya lebih terjaga, kota lebih nyaman ditinggali, dan peluang usaha baru bermunculan. Dari energi terbarukan, daur ulang, pertanian organik modern, teknologi efisiensi, hingga bisnis kreatif berbasis keberlanjutan—semuanya tumbuh pesat.

Dampak Jangka Panjang: Investasi untuk Generasi Berikutnya

Green economy membantu membangun pola hidup dan pola usaha yang tidak merusak lingkungan. Dengan konsumsi energi lebih bersih dan produksi yang tidak boros, beban bumi jadi lebih ringan. Kalau diterapkan luas, kita bisa menikmati:

• udara dan lingkungan yang lebih sehat,
• biaya energi yang lebih stabil,
• sumber daya alam yang lebih awet untuk generasi mendatang.
Ini bukan sekadar “gaya hidup hijau” ini strategi bertahan hidup.

Arah Baru yang Layak Kita Ikuti
Pada akhirnya, green economy bukan cuma wacana pemerintah atau aktivis lingkungan. Ini kesempatan besar buat pelaku bisnis, mahasiswa, dan anak muda yang ingin membangun masa depan lebih solid. Dunia sedang membuka ruang untuk ide-ide baru yang lebih ramah bumi. Kita tinggal memutuskan: mau jadi penonton, atau ikut terjun lebih awal?

Berita Terkait

Diskominfo Sumenep Siapkan Layanan Informasi Publik Terintegrasi hingga Tingkat Desa
DUOMAMA Resmi Diluncurkan! SDN Panaongan III Jadi Pelopor Kebangkitan Bahasa dan Budaya Madura di Pasongsongan Sumenep
Bongkar Sindikat Buzzer Penyebar Hoaks, FORKOGAKUM Apresiasi Ketegasan Ditreskrimum Polda Metro Jaya
Polusi Debu PG Pesantren Baru Memicu Kemarahan Warga, Produksi Diminta Dihentikan Jika Tak Ada Solusi
Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani Apresiasi Dhoho Night Carnival 2026, Mbak Wali Dorong Wisata Berbasis Budaya dan Kreativitas
Tuai Pujian Utusan Khusus Presiden, Ini Fakta Unik Tentang Busana DNC Wali Kota Kediri
Porprov XII NTB Dinilai Beri Dampak Ekonomi Besar, KAMMI NTB Dorong Persiapan PON 2028
KSR PMI Unit PPGI Gelar Donor Darah, Wujud Kepedulian dalam Dies Natalis ke-24 Politeknik Piksi Ganesha Indonesia

Berita Terkait

Kamis, 30 Juli 2026 - 17:51 WIB

Diskominfo Sumenep Siapkan Layanan Informasi Publik Terintegrasi hingga Tingkat Desa

Kamis, 30 Juli 2026 - 13:47 WIB

DUOMAMA Resmi Diluncurkan! SDN Panaongan III Jadi Pelopor Kebangkitan Bahasa dan Budaya Madura di Pasongsongan Sumenep

Selasa, 28 Juli 2026 - 18:19 WIB

Bongkar Sindikat Buzzer Penyebar Hoaks, FORKOGAKUM Apresiasi Ketegasan Ditreskrimum Polda Metro Jaya

Senin, 27 Juli 2026 - 17:59 WIB

Polusi Debu PG Pesantren Baru Memicu Kemarahan Warga, Produksi Diminta Dihentikan Jika Tak Ada Solusi

Senin, 27 Juli 2026 - 09:35 WIB

Utusan Khusus Presiden Bidang Pariwisata Zita Anjani Apresiasi Dhoho Night Carnival 2026, Mbak Wali Dorong Wisata Berbasis Budaya dan Kreativitas

Berita Terbaru