SUMENEP — Bukan orang Sumenep jika belum pernah mengecap rasa Kopi Peceng. Lebih dari sekadar minuman, Kopi Peceng telah menjelma menjadi identitas rasa dan ruang sosial masyarakat Madura, khususnya di Kabupaten Sumenep.
Berdiri sejak tahun 2012, Kopi Peceng telah melewati belasan tahun perjalanan dengan tetap mempertahankan cita rasa kopi tradisional yang konsisten. Berlokasi di sebuah warung pojok sederhana di depan Hotel Myze Sumenep, tempat ini justru menjadi magnet bagi berbagai kalangan, mulai dari warga lokal, pelajar, pekerja, hingga tamu luar daerah.
Meski tampil apa adanya, Kopi Peceng dikenal luas tidak hanya di Sumenep, tetapi juga merambah hingga Pamekasan dan Sampang. Popularitas tersebut tumbuh secara alami, dari cerita ke cerita, dari cangkir ke cangkir, tanpa kehilangan akar tradisinya.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Owner Kopi Peceng, Sumiati (kelahiran 1984), menuturkan bahwa konsistensi rasa dan kesederhanaan menjadi kunci bertahannya usaha ini di tengah gempuran kopi modern.
“Kami sejak awal tidak ingin mengubah jati diri kopi tradisional. Yang penting rasa tetap sama, cara menyeduh tetap dijaga, dan pelanggan merasa nyaman,” ujar Sumiati.
Ia menambahkan, Kopi Peceng bukan hanya soal kopi, tetapi juga tentang kebiasaan dan kebersamaan. Banyak pelanggan yang datang bukan semata untuk minum kopi, melainkan untuk berbincang, bertukar cerita, dan melepas penat.
Sementara itu, suaminya, Fauzan, yang akrab disapa Pak Peceng, menyebut bahwa Kopi Peceng lahir dari kesederhanaan dan ketekunan.
“Kami tidak pernah berpikir besar di awal. Yang penting jujur dalam rasa dan pelayanan. Kalau kopi enak dan orang merasa betah, mereka akan kembali sendiri,” tuturnya.
Keberadaan Kopi Peceng menjadi contoh bahwa usaha kecil berbasis kearifan lokal mampu bertahan dan berkembang tanpa kehilangan karakter. Di tengah maraknya tren kedai kopi modern, Kopi Peceng tetap berdiri sebagai simbol konsistensi, kesahajaan, dan kekuatan rasa kopi Madura.
Bagi masyarakat Sumenep, Kopi Peceng bukan hanya minuman, melainkan bagian dari perjalanan hidup tempat kenangan diracik bersama aroma kopi yang tak pernah berubah.
Penulis : Redaksi







