Achsanul Qosasi: Saatnya Madura Punya Kedaulatan Ekonomi Lewat KEK Tembakau

Rabu, 3 Juni 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SUMENEP–  Di tengah derasnya arus kebijakan nasional terkait perubahan struktur tarif Cukai Hasil Tembakau (CHT), suara lantang dari Madura kembali menggema. Tokoh Madura, Prof. Dr. Achsanul Qosasi, menilai momentum “layer baru” CHT bukanlah akhir, melainkan pintu awal menuju perubahan yang jauh lebih besar dan mendasar.

Bagi Achsanul, kebijakan tersebut memang membuka harapan baru bagi pelaku usaha kecil agar bisa masuk ke sistem ekonomi yang lebih legal dan tertata. Namun di balik itu, ia menegaskan bahwa problem utama tembakau Madura jauh lebih dalam—mengakar pada ketimpangan tata niaga yang telah berlangsung bertahun-tahun.

“Ini bukan sekadar soal tarif cukai. Ini soal keadilan ekonomi,” tegasnya dalam pernyataan yang beredar di media sosial, Rabu (3/6/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia menyoroti kondisi petani tembakau Madura yang selama ini berada di posisi paling lemah dalam rantai ekonomi. Mereka hanya menjadi pemasok bahan baku, sementara nilai tambah terbesar justru mengalir keluar dari Pulau Madura.

“Petani kita terlalu lama hanya menjadi penonton di tanah sendiri,” ujarnya dengan nada prihatin.

Situasi inilah yang mendorong lahirnya gagasan besar: percepatan pembentukan Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Tembakau Madura. Sebuah konsep yang tidak lagi dipandang sebagai wacana akademik, melainkan sebagai kebutuhan strategis untuk menyelamatkan masa depan ekonomi rakyat Madura.

Gagasan tersebut lahir dari proses panjang. Selama enam bulan, tim lintas perguruan tinggi di Surabaya dan Madura melakukan kajian mendalam, mulai dari FGD, survei lapangan, hingga pemetaan kekuatan ekonomi daerah.

Hasilnya tegas: tanpa pembenahan menyeluruh, sektor tembakau akan terus berjalan timpang dan tidak memberikan dampak maksimal bagi kesejahteraan masyarakat.

Dalam konsepnya, KEK Tembakau Madura dirancang bukan sekadar kawasan industri, tetapi sebuah ekosistem ekonomi terpadu dari hulu hingga hilir. Mulai dari petani, gudang, industri rakyat, pembiayaan, logistik, hingga sistem pengawasan cukai akan disatukan dalam satu rantai yang lebih tertib dan adil.

Lebih dari itu, KEK ini diharapkan mampu mengubah posisi petani—dari pihak yang lemah menjadi aktor utama dalam penentuan nilai ekonomi tembakau.

Dukungan politik pun mulai menguat. Empat kepala daerah di Madura dikabarkan telah satu suara menyetujui percepatan pembentukan KEK Tembakau Madura. Kesepakatan ini dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Madura kini bergerak dalam satu visi: membangun ekonomi yang lebih legal, modern, dan berpihak kepada rakyat kecil.

“Layer baru CHT memang langkah awal. Tapi sejarah Madura tidak boleh berhenti di sini,” tegas Achsanul.

Pernyataan itu menjadi penutup yang menggema, bahwa masa depan tembakau Madura tidak cukup hanya dengan perubahan regulasi, tetapi membutuhkan lompatan besar yang mampu mengubah struktur ekonomi secara menyeluruh.

Madura, kini berdiri di persimpangan: antara bertahan dalam sistem lama, atau melangkah menuju babak baru ekonomi rakyat yang lebih berdaulat.

Penulis : Red

Berita Terkait

Resto Lotus Sumenep Jadi Rumah Kebersamaan, Temu Kenal Formara Unair Rajut Solidaritas Taretan
DBHCHT Dinilai Belum Berkeadilan, Owner CV Ayunda Pamekasan H. Bambang Budianto Minta Madura Tak Lagi Dianaktirikan
Lotus Sumenep Tak Lagi Sekadar Tempat Kuliner, Kini Jadi Pusat Edukasi Bisnis Digital Lewat Sekolah Bisnis
Gus Qowim Buka Kediri Beauty Fest 2026, Dorong Industri Kecantikan dan UMKM Kreatif di Kota Kediri
Kesempatan Emas! DRT Exclusive Rekrut Salesman Motoris di Sumenep, Simak Syarat dan Benefitnya
Soft Opening, HM Cafe & Billiard Sumenep Diharapkan Jadi Khazanah Lahirnya Atlet Biliar dan Penggerak Ekonomi Daerah
Melalui Pendataan Berkala dan Akurat, Pemdes Tobai Tengah Sampang Hadirkan Bantuan yang Lebih Merata
Kampung Semarak DRT Hadir di Sumenep, Sajikan Hiburan Gratis, Bazar UMKM, dan Doorprize Meriah

Berita Terkait

Minggu, 19 Juli 2026 - 18:49 WIB

Resto Lotus Sumenep Jadi Rumah Kebersamaan, Temu Kenal Formara Unair Rajut Solidaritas Taretan

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:26 WIB

DBHCHT Dinilai Belum Berkeadilan, Owner CV Ayunda Pamekasan H. Bambang Budianto Minta Madura Tak Lagi Dianaktirikan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:01 WIB

Lotus Sumenep Tak Lagi Sekadar Tempat Kuliner, Kini Jadi Pusat Edukasi Bisnis Digital Lewat Sekolah Bisnis

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:41 WIB

Gus Qowim Buka Kediri Beauty Fest 2026, Dorong Industri Kecantikan dan UMKM Kreatif di Kota Kediri

Rabu, 1 Juli 2026 - 21:02 WIB

Kesempatan Emas! DRT Exclusive Rekrut Salesman Motoris di Sumenep, Simak Syarat dan Benefitnya

Berita Terbaru