DBHCHT Dinilai Belum Berkeadilan, Owner CV Ayunda Pamekasan H. Bambang Budianto Minta Madura Tak Lagi Dianaktirikan

Jumat, 10 Juli 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Owner CV Ayunda Permata Sejahtera, Bambang Budianto, saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Musyawarah Daerah (Musda) FL2MI Koordinator Daerah Madura di Aula Laboratorium Universitas Madura, Pamekasan, menyampaikan pandangannya mengenai ketimpangan distribusi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dan pentingnya keberpihakan kepada petani tembakau serta industri rokok lokal.

Owner CV Ayunda Permata Sejahtera, Bambang Budianto, saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Musyawarah Daerah (Musda) FL2MI Koordinator Daerah Madura di Aula Laboratorium Universitas Madura, Pamekasan, menyampaikan pandangannya mengenai ketimpangan distribusi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) dan pentingnya keberpihakan kepada petani tembakau serta industri rokok lokal.

PAMEKASAN, Detikzone.id – Di balik triliunan rupiah penerimaan negara dari cukai hasil tembakau, masih tersimpan ironi yang dirasakan para petani di Pulau Madura. Daerah yang selama ini dikenal sebagai salah satu lumbung tembakau nasional dinilai belum menikmati hasil yang sepadan dari besarnya kontribusi tersebut.

Suara itu disampaikan Owner CV Ayunda Permata Sejahtera, H. Bambang Budianto, saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Musyawarah Daerah (Musda) Forum Lembaga Legislasi Mahasiswa Indonesia (FL2MI) Koordinator Daerah Madura di Aula Laboratorium Universitas Madura, Jumat (10/7/2026).

Di hadapan mahasiswa dan peserta seminar, Bambang menyoroti ketimpangan distribusi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT). Menurutnya, Madura telah memberikan kontribusi besar terhadap penerimaan negara, namun kesejahteraan petani tembakau dan pelaku industri rokok lokal masih jauh dari harapan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Ia memaparkan, penerimaan negara dari cukai hasil tembakau mencapai sekitar Rp72 triliun setiap tahun. Sementara itu, Pemerintah Provinsi Jawa Timur memperoleh alokasi DBHCHT sekitar Rp3,57 triliun pada 2025. Namun, menurutnya, porsi manfaat yang kembali dirasakan masyarakat Madura masih belum mencerminkan besarnya sumbangsih daerah tersebut.

“Madura merupakan salah satu penyumbang terbesar sektor tembakau di Indonesia. Namun kontribusi besar itu belum sebanding dengan kondisi sosial dan ekonomi yang dirasakan petani tembakau maupun pengusaha rokok lokal di Madura,” tegas H. Bambang.

Baginya, kondisi yang dialami petani saat ini merupakan ironi. Di satu sisi mereka menjadi bagian penting penyokong penerimaan negara, tetapi di sisi lain masih harus berjibaku dengan tingginya biaya produksi, harga pupuk, serta ketidakpastian harga jual saat musim panen tiba.

“Sangat miris melihat kondisi petani tembakau Madura. Mereka memberikan kontribusi besar kepada negara, tetapi masih harus berjuang menghadapi biaya produksi yang tinggi dan harga pasar yang tidak menentu,” ungkapnya.

H. Bambang menilai, sudah saatnya pemerintah pusat maupun daerah menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani tembakau dan pelaku industri rokok lokal. Menurutnya, sektor pertembakauan tidak boleh hanya dipandang sebagai penyumbang pendapatan negara, tetapi juga harus menjadi instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah penghasil.

“Saat panen pun petani masih berada dalam ketidakpastian. Karena itu, pemerintah perlu menghadirkan kebijakan yang lebih berpihak kepada petani tembakau dan pengusaha rokok lokal sehingga sektor ini benar-benar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat Madura,” tandasnya.

Melalui forum tersebut, Bambang berharap persoalan ketimpangan distribusi DBHCHT menjadi perhatian serius para pemangku kebijakan. Ia meyakini, ketika petani memperoleh perlindungan dan keberpihakan yang nyata, sektor tembakau tidak hanya menjadi penyumbang devisa negara, tetapi juga menjadi jalan menuju kesejahteraan masyarakat Madura.

Berita Terkait

Lotus Sumenep Tak Lagi Sekadar Tempat Kuliner, Kini Jadi Pusat Edukasi Bisnis Digital Lewat Sekolah Bisnis
Gus Qowim Buka Kediri Beauty Fest 2026, Dorong Industri Kecantikan dan UMKM Kreatif di Kota Kediri
Kesempatan Emas! DRT Exclusive Rekrut Salesman Motoris di Sumenep, Simak Syarat dan Benefitnya
Soft Opening, HM Cafe & Billiard Sumenep Diharapkan Jadi Khazanah Lahirnya Atlet Biliar dan Penggerak Ekonomi Daerah
Melalui Pendataan Berkala dan Akurat, Pemdes Tobai Tengah Sampang Hadirkan Bantuan yang Lebih Merata
Kampung Semarak DRT Hadir di Sumenep, Sajikan Hiburan Gratis, Bazar UMKM, dan Doorprize Meriah
BRI Sumenep Tegaskan Integritas dan Zero Tolerance Fraud di Tengah Upaya Jaga Kepercayaan Publik
Tak Hanya Menyehatkan, Soekarno Fun Run 2026 di Sumenep Jadi Penggerak Ekonomi Kerakyatan dan Pembawa Berkah

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 17:26 WIB

DBHCHT Dinilai Belum Berkeadilan, Owner CV Ayunda Pamekasan H. Bambang Budianto Minta Madura Tak Lagi Dianaktirikan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 15:01 WIB

Lotus Sumenep Tak Lagi Sekadar Tempat Kuliner, Kini Jadi Pusat Edukasi Bisnis Digital Lewat Sekolah Bisnis

Kamis, 2 Juli 2026 - 10:41 WIB

Gus Qowim Buka Kediri Beauty Fest 2026, Dorong Industri Kecantikan dan UMKM Kreatif di Kota Kediri

Rabu, 1 Juli 2026 - 21:02 WIB

Kesempatan Emas! DRT Exclusive Rekrut Salesman Motoris di Sumenep, Simak Syarat dan Benefitnya

Jumat, 26 Juni 2026 - 14:09 WIB

Soft Opening, HM Cafe & Billiard Sumenep Diharapkan Jadi Khazanah Lahirnya Atlet Biliar dan Penggerak Ekonomi Daerah

Berita Terbaru