Sekda Sumenep Harus Bagaimana?

Jumat, 23 Januari 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Oleh: Gus Dolla

Rekrutmen Calon Sekda Sumenep telah dibuka. Deretan ASN eselon dua mulai mendaftarkan diri. Siapa pun yang terpilih nanti, mutlak menjadi hak prerogatif Bupati; aspirasi publik sering kali hanya berakhir sebagai pepesan kosong.

Namun, melalui tulisan ini, ada harapan besar yang dititipkan: Calon Sekda terpilih harus mampu meringankan beban Bupati dan Wakil Bupati. Jabatan Sekda bukan sebatas posisi administratif, melainkan jantung penggerak pemerintah daerah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Sebagai dirigen birokrasi, Sekda wajib mengorkestrasi berbagai elemen agar roda pemerintahan berjalan selaras dan harmoni. Ia adalah Dirigen Administrasi, Jembatan Komunikasi, sekaligus Penyelesai Masalah.

Itulah mengapa figur Sekda harus mampu mengurai sumbatan sektoralisme. Ia harus meruntuhkan ego sektoral agar OPD tak lagi bekerja sendiri-sendiri. Sebab hingga kini, ego sektoral masih terasa kental. OPD kita ibarat kelompok musisi di satu panggung yang memainkan lagu berbeda dengan volume paling keras, karena merasa instrumennya adalah yang paling penting.

Mari membuka kembali lembaran lama—sebuah cerita yang mungkin belum pernah terdengar atau sengaja dilupakan. Cerita tentang ponggebe (pejabat/aparatur) Sumenep; tentang birokrasi yang tampak tenang, namun menyimpan bara.

Kisah ini bermula tahun 2001, saat otonomi daerah baru saja lahir. Kala itu, Sumenep menerima alokasi Dana Alokasi Umum (DAU) sebesar Rp 363,41 miliar—angka yang luar biasa besar untuk ukuran kabupaten kepulauan saat itu. Pemkab sempat kelimpungan, bukan karena kekurangan uang, justru karena kelebihan dana. Cara paling praktis menghabiskannya adalah infrastruktur. Proyek menjamur, dan jumlah CV jasa konstruksi melonjak hingga mendekati 1.000 perusahaan.

Sumenep berpesta pora. Rakyat mencicipi kue pembangunan, kontraktor bergembira, dan legislatif pun ikut kecipratan. Namun, ada yang tertinggal di pinggir meja: para ponggebe. Ada ketidakpuasan ASN terhadap sikap Sekda saat itu.

Rahasia yang disimpan rapat akhirnya bocor menjadi rasan-rasan dari warung kopi hingga ruang tamu. Isunya: gratifikasi. Kabarnya, ada “mahar” besar agar DAU Sumenep bisa membengkak melampaui kabupaten tetangga. Pertanyaan pun bergeser: dari mana uang miliaran untuk mahar itu dikumpulkan?

Di sinilah watak ponggebe Sumenep terlihat jelas. Senyap di luar, menggelora di dalam. Ibarat api dalam sekam; tenang di permukaan, tapi menyimpan konflik yang siap menyala. Dan benar saja, api itu akhirnya membakar, menyeret eks Sekda dalam pusaran hukum. Terungkap ada perintah transfer, alur pengumpulan dana, hingga miliaran rupiah yang ditarik dari satu OPD ke OPD lainnya. Rekening koran bicara, jejak uang tak bisa berdusta.

Cerita ini bukan sekadar nostalgia kelam. Ini adalah sinyal keras bahwa birokrasi Sumenep memiliki energi besar yang jika tak dikendalikan, bisa meledak. Di titik itulah peran Sekda menjadi krusial.

Sekda bukan sekadar jabatan administratif. Ia harus menjadi pemadam kebakaran, sekaligus pendeteksi asap pertama, karena “dapur” para ponggebe ada di tangannya.
Pesan singkat untuk Bupati Sumenep:

Pilihlah Sekda dengan pendekatan holistik. Bukan hanya pintar administrasi, tapi juga kuat secara moral, berani secara etika, dan matang secara kepemimpinan. Carilah figur yang minim reaktif namun solutif, agar mudah menjadi pemadam saat api konflik mulai muncul.

Sebab pada akhirnya, siapa pun yang Anda tunjuk, dampaknya akan kembali kepada Anda sendiri.

Berita Terkait

Sambut HUT RI ke-81, Gubernur Khofifah Gulirkan Program Pembebasan Pajak Daerah se-Jawa Timur
Menepis Sekat di Ruang Tengger,Musda KNPI Probolinggo Rapatkan Barisan Menuju Indonesia Emas
Merawat Ibu dalam Gelap,Kisah Ernawati Siswi SMKN yang Bertahan di Tengah Impitan Hidup
Empat Trofi Nasional untuk Sumenep, Bukti Keseriusan Bangun Generasi Bebas Stunting
Bukan Sekadar Kumpul Rutin, DWP BKPSDM Probolinggo Sulap Limbah Jadi Berkah, Rintis Tabungan Emas, dan Perkuat Kepedulian Sosial
Pantau Harga Pangan Setiap Hari, DKPP Pastikan Harga Stabil dan Pasokan Komoditas Tetap Aman
Martabat Wartawan Terusik, 14 Organisasi Pers Sampang Bersatu Desak Klarifikasi Prabowo
Harga Tembakau Tak Boleh Dipermainkan! Bupati Sumenep Pastikan Pembelian Wajib Sesuai Titik Impas, Perusahaan Nakal Siap Ditindak

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 15:23 WIB

Sambut HUT RI ke-81, Gubernur Khofifah Gulirkan Program Pembebasan Pajak Daerah se-Jawa Timur

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:59 WIB

Menepis Sekat di Ruang Tengger,Musda KNPI Probolinggo Rapatkan Barisan Menuju Indonesia Emas

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:51 WIB

Merawat Ibu dalam Gelap,Kisah Ernawati Siswi SMKN yang Bertahan di Tengah Impitan Hidup

Jumat, 31 Juli 2026 - 22:23 WIB

Empat Trofi Nasional untuk Sumenep, Bukti Keseriusan Bangun Generasi Bebas Stunting

Jumat, 31 Juli 2026 - 15:50 WIB

Bukan Sekadar Kumpul Rutin, DWP BKPSDM Probolinggo Sulap Limbah Jadi Berkah, Rintis Tabungan Emas, dan Perkuat Kepedulian Sosial

Berita Terbaru

NASIONAL

Lahan SAE Berbuah, Lapas Kendal Panen 8 Ton

Sabtu, 1 Agu 2026 - 14:32 WIB