SURABAYA — Menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah yang jatuh pada tahun 2026, suasana penuh khidmat dan haru menyelimuti berbagai lapisan masyarakat. Momen kemenangan ini kembali menjadi ruang untuk membersihkan hati, mempererat silaturahmi, serta memperkuat nilai-nilai pengabdian.
Di tengah suasana tersebut, Kabagbinkar Ro SDM Polda Jatim, AKBP Jazuli Dani Iriawan, menyampaikan ucapan “Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin.”
Ucapan tersebut menjadi refleksi dari perjalanan spiritual yang telah dilalui selama Ramadan. Idul Fitri bukan sekadar perayaan, melainkan titik balik untuk kembali kepada nilai keikhlasan, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai insan yang mengemban amanah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
AKBP Jazuli Dani Iriawan sendiri dikenal sebagai sosok perwira yang kini mengemban peran strategis dalam pembinaan karier personel di lingkungan Polda Jawa Timur. Jabatan Kabagbinkar yang diembannya memiliki peran penting dalam memastikan kualitas dan profesionalitas sumber daya manusia Polri terus berkembang.
Penunjukan dirinya pada posisi tersebut merupakan bagian dari dinamika organisasi Polri yang menempatkan perwira terbaik pada jabatan strategis, sejalan dengan kebutuhan institusi dan tuntutan pelayanan kepada masyarakat.
Idul Fitri sejatinya bukan hanya tentang kemenangan pribadi setelah menjalani ibadah Ramadan, tetapi juga tentang bagaimana nilai-nilai tersebut diterapkan dalam kehidupan dan pengabdian.
Dalam konteks pengabdian seorang perwira, momentum Lebaran menjadi pengingat bahwa setiap tanggung jawab adalah amanah yang harus dijalankan dengan integritas.
Keteladanan tidak hanya lahir dari jabatan, tetapi dari konsistensi dalam menjaga nilai dan kepercayaan.
Penempatan figur seperti AKBP Jazuli Dani Iriawan di posisi strategis menggambarkan pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam sebuah institusi besar seperti Polri. Di balik struktur organisasi, terdapat harapan agar setiap peran mampu membawa perubahan yang lebih baik.
Idul Fitri pun hadir sebagai penegas bahwa pengabdian sejati tidak hanya diukur dari capaian, tetapi dari seberapa besar manfaat yang bisa dirasakan. Dalam sunyi, nilai itu tumbuh menjadi fondasi bagi kepercayaan dan harapan yang terus dijaga.
Penulis : Redaksi








