SUMENEP, Minggu, 21/6/2026, malam – Penampilan puluhan siswa-siswi SDN Pasongsongan I menjadi salah satu magnet utama dalam Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 yang digelar di kawasan Pelabuhan Pasongsongan, Kabupaten Sumenep.
Di tengah kemeriahan festival budaya yang dipadati ribuan pengunjung, para pelajar dari kelas 1 hingga kelas 6 itu tampil percaya diri membawakan dua sajian utama, yakni musik gamelan dan Tari Tongtong, yang dipentaskan secara bergantian di panggung festival.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Penampilan dimulai dengan alunan gamelan yang dimainkan langsung oleh para siswa. Denting nada-nada tradisional itu mengisi kawasan pelabuhan dan menghadirkan suasana khas budaya pesisir Madura yang kental. Para pemain tampil tenang dan kompak, menunjukkan penguasaan yang baik meski masih berada di usia sekolah dasar.
Setelah penampilan gamelan, suasana panggung kembali berubah menjadi lebih dinamis ketika kelompok Tari Tongtong tampil. Dengan gerakan energik dan penuh semangat, para penari berhasil menghidupkan suasana festival dan menarik perhatian ribuan pengunjung yang memadati area pelabuhan.
Pergantian penampilan antara gamelan dan Tari Tongtong ini justru menjadi daya tarik tersendiri. Ritme pertunjukan yang bergantian membuat penonton tetap terfokus pada panggung utama dan menikmati setiap sajian yang dibawakan para pelajar.
Kehadiran para siswa tersebut menjadi bukti bahwa semangat pelestarian budaya lokal terus tumbuh di kalangan generasi muda. Meski masih berusia belia, mereka mampu menunjukkan kemampuan terbaik di hadapan ribuan pasang mata yang menyaksikan jalannya festival.
Festival Paseser Pasongsongan tahun ini memang tampil berbeda. Selain menghadirkan penampilan kolosal 757 penari tongtong pelajar sebagai ikon utama acara, berbagai kegiatan budaya dan ekonomi kerakyatan turut mewarnai jalannya festival.
Namun di antara seluruh rangkaian pertunjukan, penampilan siswa SDN Pasongsongan I menjadi salah satu yang paling mendapat perhatian masyarakat karena menghadirkan dua unsur seni tradisional dalam satu panggung, meski disajikan secara bergantian.

Kepala SDN Pasongsongan I, Mariyatul Qiptiyah, mengaku bangga atas penampilan anak didiknya yang telah berlatih selama beberapa pekan sebelum tampil di panggung festival.
“Kami sangat bersyukur dan bangga. Anak-anak menunjukkan semangat yang luar biasa sejak latihan hingga pelaksanaan. Mereka berasal dari kelas 1 sampai kelas 6, tetapi mampu tampil kompak dan percaya diri,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keterlibatan siswa dalam Festival Paseser bukan sekadar untuk mengisi acara, tetapi merupakan bagian dari proses pendidikan karakter berbasis budaya.
“Anak-anak perlu mengenal budayanya sendiri sejak dini. Melalui kegiatan seperti ini, mereka belajar disiplin, kerja sama, tanggung jawab, dan rasa cinta terhadap warisan leluhur,” tambahnya.
Mariyatul juga menegaskan bahwa sekolah akan terus mendukung kegiatan seni dan budaya sebagai bagian dari pembelajaran di luar kelas.
“Kami ingin anak-anak bangga dengan budaya daerahnya. Jangan sampai mereka lebih mengenal budaya luar, sementara budaya sendiri justru ditinggalkan. Karena itu kami sangat mengapresiasi ruang yang diberikan melalui Festival Paseser ini,” tegasnya.
Sementara itu, Festival Paseser Pasongsongan Paseser Patongtongan 2026 mendapat apresiasi dari berbagai pihak karena dinilai berhasil memadukan pelestarian budaya dengan penguatan ekonomi masyarakat pesisir. Selain pertunjukan seni, festival juga diramaikan Festival Kor-Dekoran, Festival Pan-Sampanan, serta bazar UMKM yang menampilkan berbagai produk unggulan warga setempat.
Penampilan puluhan siswa-siswi SDN Pasongsongan I menjadi gambaran bahwa regenerasi pelaku seni budaya di Kabupaten Sumenep terus berjalan. Dari lantai kelas hingga panggung festival, generasi muda ini membuktikan bahwa tradisi akan tetap hidup selama masih ada yang menjaga, mempelajari, dan menampilkannya dengan penuh kebanggaan.
Penulis : Red








