Merawat Ibu dalam Gelap,Kisah Ernawati Siswi SMKN yang Bertahan di Tengah Impitan Hidup

Sabtu, 1 Agustus 2026

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

PROBOLINGGO -(1/8/2026).Di balik dinding sebuah rumah sederhana di Dusun Sekargadung, Desa Sekarkare, Kecamatan Dringu, Kabupaten Probolinggo, tersimpan kisah perjuangan yang menguras air mata. Anada Ernawati, seorang remaja putri berusia 16 tahun, harus memikul beban hidup yang teramat berat di usia mudanya.Sejak sang ayah meninggal dunia akibat tekanan ekonomi yang kian mendesak, Ernawati resmi menyandang status anak yatim.

Kini, ia hanya tinggal berdua bersama ibunya, Paiti (55), yang hidup dalam keterbatasan fisik sebagai seorang tuna netra. Di tengah badai ekonomi yang menghimpit, uluran tangan sesama kini menjadi satu-satunya tumpuan harapan bagi mereka.Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing sepenuhnya, rutinitas Ernawati sudah dimulai. Siswi di salah satu SMKN di Probolinggo ini harus menyelesaikan seluruh pekerjaan rumah tangga terlebih dahulu. Memasak, membersihkan rumah, hingga merawat sang ibu yang hidup dalam kegelapan, ia lakukan sendiri sebelum melangkahkan kaki ke sekolah.

 

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Saat ditemui di kediamannya, Ernawati tak kuasa menahan haru ketika menceritakan kisah pilu kehidupannya. Untuk memenuhi kebutuhan perut sehari-hari, ia dan ibunya kerap mengandalkan belas kasihan dari saudara dan tetangga sekitar. Namun, bantuan tidak datang setiap hari.”Kalau (bantuan) sudah habis, saya terpaksa cari pinjaman ke sana-sini. Dari pinjaman itu kadang dapat, tapi kalau tidak dapat, terpaksa satu hari kami tidak makan,” ungkap Ernawati dengan suara bergetar.

 

Kemiskinan yang mencekik juga membuat keluarga kecil ini harus menunggak tagihan listrik hingga dua bulan lamanya. Bahkan, demi bisa terus menuntut ilmu dan meraih masa depan yang lebih baik, Ernawati rela pergi ke sekolah tanpa membawa uang saku sepeser pun.

Kisah Ernawati adalah potret nyata di sekitar kita, di mana kemiskinan bukan sekadar angka statistik, melainkan perjuangan untuk bertahan hidup dari hari ke hari. Di tengah impitan ekonomi yang kian menjerat, sudah saatnya ukuran tangan dan kepedulian kita bergerak untuk membantu sesama yang sedang mengetuk pintu langit demi sebuah harapan.

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura
Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura
Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026
Diskominfo Sumenep Sukses Dorong Kampanye Digital Lewat Gerakan “Nongtong Bareng” di Festival Musik Tong-Tong
JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik
Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757
Hari Jadi Sumenep ke-757, Cak Fauzi Dorong Gotong Royong Jadi Kekuatan Pembangunan
Fajar Baru Kamtibmas Probolinggo: Lepas AKBP Rico dengan Pendekatan Humanis, Sambut AKBP Lucky dengan Sinergi

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:14 WIB

JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:06 WIB

Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:27 WIB

TNI-POLRI

Polisi Ungkap Dugaan Kasus Sabu di Nonggunong Sumenep

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:51 WIB