SUMENEP, 17 Agustus 2026 — Di tengah gegap gempita peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, langkah kecil untuk berbagi kembali dilakukan. Memasuki hari ke-77, Program Sedekah Setiap Hari Detikzone.id kembali menyasar warga yang membutuhkan, kali ini menyentuh dhuafa yang sedang sakit dan anak yatim di Kabupaten Sumenep.
Bagi Detikzone.id, momentum kemerdekaan tidak hanya dimaknai dengan upacara dan perayaan. Kemerdekaan juga menjadi pengingat bahwa masih ada masyarakat yang berjuang menghadapi keterbatasan, sakit, serta kehidupan tanpa orang tua.
Melalui semangat Jurnalisme Ihdinas Sirotol Mustaqim, kepedulian tersebut terus diupayakan agar tidak berhenti di balik meja redaksi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Hari ke-77 menjadi bagian dari perjalanan panjang program yang telah berjalan selama lebih dari dua bulan. Selama itu pula, berbagai kelompok masyarakat telah menjadi sasaran kepedulian, mulai dari lansia, janda lanjut usia, anak yatim, penyandang disabilitas, abang becak, pemulung, buruh harian hingga keluarga dhuafa.
Kini, perhatian kembali diarahkan kepada mereka yang sedang menghadapi sakit dan anak-anak yatim yang membutuhkan perhatian.
Bagi sebagian orang, bantuan yang diberikan mungkin terlihat sederhana. Namun bagi keluarga yang sedang menghadapi keterbatasan, sedikit uluran tangan dapat menjadi penguat untuk melewati hari yang tidak mudah.
Pimpinan Redaksi Detikzone.id, Igusty Madani, menegaskan bahwa berbagi tidak harus menunggu seseorang memiliki harta berlimpah.
“Jangan menunggu kaya untuk bersedekah. Jangan menunggu punya banyak untuk berbagi. Kalau kita memiliki sedikit dan sedikit itu bisa membantu orang lain, maka jangan takut untuk memberikannya.”
Menurutnya, 77 hari perjalanan Program Sedekah Setiap Hari bukan sekadar hitungan waktu. Di balik setiap hari terdapat pertemuan dengan masyarakat, cerita tentang kehidupan dan pelajaran bahwa kepedulian masih memiliki tempat di tengah berbagai persoalan.
Perjalanan tersebut juga tidak selalu berjalan tanpa kritik. Ada yang mendukung, namun ada pula yang mempertanyakan bahkan mencibir.
Namun, perbedaan pandangan itu tidak dijadikan alasan untuk menghentikan langkah.
“Kami tidak butuh panggung. Kami tidak sedang mencari tepuk tangan. Kami hanya ingin apa yang kami punya, meskipun tidak banyak, bisa menjadi manfaat bagi orang lain,” tegasnya.
Ia mengatakan, ukuran keberhasilan gerakan tersebut bukan pada seberapa besar perhatian yang diperoleh, melainkan seberapa jauh manfaatnya bisa dirasakan masyarakat.
Selain Program Sedekah Setiap Hari, Detikzone.id juga terus mengupayakan berbagai kegiatan sosial, di antaranya santunan anak yatim, bantuan pendidikan, bantuan biaya pengobatan, ambulans gratis, rumah singgah keluarga pasien, wakaf Al-Qur’an, pembangunan musala, pembagian sembako hingga bantuan bagi warga yang tertimpa musibah.
Program Rumah Makan Gratis bagi kaum dhuafa di Kabupaten Sumenep juga tengah dipersiapkan sebagai bagian dari ikhtiar sosial tersebut.
Perjalanan itu tidak berdiri sendiri. Dukungan keluarga dan orang-orang baik menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan berbagai gerakan kepedulian.
“Program ini bukan milik satu orang. Ini perjalanan kita bersama. Setiap dukungan dari keluarga dan orang-orang baik telah menjadi bagian dari kebaikan yang sampai kepada masyarakat,” ungkapnya.
Hari ke-77 telah dilalui. Namun, perjalanan belum berakhir.
Masih ada warga yang sakit dan membutuhkan perhatian. Masih ada anak yatim yang membutuhkan kepedulian. Masih ada keluarga dhuafa yang harus bertahan di tengah keterbatasan.
Selama masih ada kesempatan untuk berbagi, langkah itu akan terus diupayakan.
Sebab, bagi Detikzone.id, jurnalisme bukan hanya tentang apa yang ditulis, tetapi juga tentang apa yang bisa diperjuangkan untuk kemaslahatan sesama.
Semangat Jurnalisme Ihdinas Sirotol Mustaqim pun terus dijadikan ruh perjalanan—bukan untuk mencari pujian, melainkan agar di tengah derasnya kehidupan, masih ada langkah yang memilih untuk peduli.







