BANDUNG— Enam tahun perjalanan Paguron Pencak Silat Putra Pusaka Sri Kencana Tapak Jalak menjadi momentum untuk kembali meneguhkan kecintaan terhadap seni tradisi dan budaya Sunda.
Milangkala ke-6 paguron tersebut digelar pada Sabtu (12/9/2026) di wilayah Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung. Kegiatan berlangsung dalam suasana guyub dan semarak dengan melibatkan masyarakat, paguyuban, serta sejumlah pelaku seni budaya.
Bagi masyarakat Sunda, pencak silat bukan sekadar seni bela diri. Di balik setiap gerak dan jurus terdapat nilai kehidupan, mulai dari tata krama, kedisiplinan, keberanian, persaudaraan hingga filosofi silih asah, silih asih, dan silih asuh.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Nilai-nilai itulah yang terus berupaya diwariskan Paguron Putra Pusaka Sri Kencana kepada generasi muda.
Di bawah kepemimpinan Kang Deni M. Ridwan, paguron tidak hanya menjadi tempat berlatih pencak silat, tetapi juga menjadi ruang untuk mengenalkan kembali akar budaya Sunda kepada generasi penerus.
Rangkaian Milangkala ke-6 juga tidak berhenti pada pertunjukan pencak silat. Sejumlah kesenian tradisional turut ditampilkan, di antaranya jaipongan, rampak kendang, musik tradisional, serta berbagai pertunjukan seni lainnya.
Kehadiran berbagai kesenian tersebut memperlihatkan bahwa pencak silat merupakan bagian dari ekosistem budaya Sunda yang lebih luas. Di dalamnya terdapat seni tari, musik, bahasa, tradisi, tata nilai, serta kehidupan sosial masyarakat.
Budaya Tidak Cukup Hanya Dijaga, Tetapi Harus Dihidupkan
Kang Deni M. Ridwan menegaskan bahwa budaya Sunda harus terus mendapatkan ruang agar tetap hidup di tengah perubahan zaman.
“Budaya Sunda perlu terus dikreasikan,” kata Kang Deni.
Menurutnya, pelestarian budaya tidak berarti hanya mempertahankan bentuk kesenian dari masa lalu. Budaya juga harus mampu berkembang dan beradaptasi dengan zaman tanpa kehilangan nilai serta identitas yang menjadi akar tradisinya.
Karena itu, generasi muda perlu diberikan kesempatan untuk mengenal sekaligus terlibat langsung dalam kegiatan kebudayaan.
Paguron menjadi salah satu ruang penting dalam proses tersebut. Di tempat inilah generasi muda tidak hanya belajar teknik pencak silat, tetapi juga belajar menghormati guru, menjaga persaudaraan, membangun kedisiplinan dan memahami tata krama.
Silat Menjadi Jalan Menanamkan Karakter
Di tengah derasnya perkembangan teknologi dan masuknya berbagai budaya populer, keberadaan seni tradisi di tengah masyarakat menjadi semakin penting.
Generasi muda tidak cukup hanya mengetahui bahwa pencak silat merupakan warisan budaya. Mereka perlu mengalami langsung proses belajar, berlatih, berkesenian, serta memahami nilai yang terkandung di balik setiap gerakan.
Pencak silat menjadi salah satu medium untuk membangun proses tersebut.
Latihan yang dilakukan secara rutin mengajarkan ketekunan dan disiplin. Hubungan antara murid dan guru menanamkan nilai penghormatan. Sementara kebersamaan antarpesilat membangun rasa persaudaraan.
Dengan demikian, pencak silat tidak hanya berbicara mengenai kemampuan bela diri, tetapi juga pembentukan karakter manusia.
Enam Tahun Menjadi Pengingat untuk Terus Melangkah
Milangkala ke-6 Putra Pusaka Sri Kencana Tapak Jalak pada akhirnya bukan sekadar perayaan bertambahnya usia sebuah paguron.
Lebih dari itu, momentum tersebut menjadi pengingat bahwa warisan budaya hanya akan tetap hidup apabila ada generasi yang bersedia mempelajari, mencintai dan meneruskannya.
Pelestarian budaya juga bukan berarti menolak perubahan. Tantangannya justru bagaimana tradisi tetap memiliki akar yang kuat, namun mampu berkembang mengikuti zaman.
Dari gerakan pencak silat, lantunan musik tradisional, hingga pertunjukan seni Sunda, tersimpan pesan bahwa budaya lokal masih memiliki ruang untuk tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan generasi masa kini.
Silih asah, silih asih, silih asuh. Dari paguron, merawat warisan leluhur, menanamkan karakter, dan menjaga jati diri Sunda.
Penulis : Rahman







