SUMENEP – Pendidikan dan Latihan Dasar (Diklatsar) Brigade Penolong 13.29 Kwartir Cabang (Kwarcab) Gerakan Pramuka Sumenep resmi berakhir, Minggu (8/11/2026). Penutupan kegiatan yang berlangsung selama dua hari di Pantai Matahari, Desa Lobuk, Kecamatan Bluto, tersebut dilakukan langsung oleh Sekretaris Kwarcab Sumenep, Muhammad Romli.
Dalam sambutan penutupnya, Romli menegaskan bahwa anggota Brigade Penolong harus mampu menjadi pelopor gerakan sosial dan kemanusiaan. Menurutnya, tugas relawan tidak cukup hanya menguasai keterampilan penyelamatan dan penanggulangan bencana, tetapi juga harus memiliki kepekaan terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
Ia mengingatkan bahwa semangat pengabdian tersebut merupakan bagian dari pengamalan Dasa Darma Pramuka, khususnya darma kedua, Cinta Alam dan Kasih Sayang Sesama Manusia, serta darma kelima, Rela Menolong dan Tabah.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Menjadi anggota Brigade Penolong bukan hanya tentang kemampuan memberikan pertolongan ketika terjadi bencana. Lebih dari itu, kita harus memiliki kepekaan untuk melihat kesulitan orang lain, kepedulian untuk membantu, dan keberanian untuk bergerak. Jangan menunggu menjadi orang hebat untuk bisa bermanfaat, karena kepedulian kecil yang dilakukan dengan tulus dapat memberikan arti besar bagi kehidupan orang lain,” pesannya.
Romli juga menekankan bahwa pengabdian tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar. Membantu masyarakat, menjaga lingkungan, dan menggerakkan kepedulian di lingkungan sekitar merupakan bentuk nyata pengamalan nilai-nilai kepramukaan.
Ia turut mengingatkan bahwa Gerakan Pramuka merupakan organisasi pendidikan yang terbuka terhadap perkembangan zaman. Karena itu, pola pembinaannya harus tetap berlandaskan prinsip pendidikan kepramukaan, bukan pendekatan militer, dengan mengedepankan nilai kemanusiaan, kebersamaan, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi.
Tak hanya soal pengabdian, Romli juga mendorong para peserta untuk terus meningkatkan kapasitas diri. Menurutnya, tantangan zaman menuntut anggota Brigade Penolong memiliki wawasan dan keterampilan yang beragam.
“Belajarlah sebanyak mungkin dan berdiskusilah sebanyak mungkin. Jangan merasa cukup dengan satu kemampuan yang dimiliki. Kita harus terus belajar ilmu-ilmu baru, mampu bertahan, dan beradaptasi dengan berbagai perubahan. Dengan begitu, kalian akan menjadi pribadi yang hebat dan memiliki banyak pengetahuan,” ungkapnya.
Lebih jauh, ia mengajak anggota Brigade Penolong membangun personal branding yang positif. Media sosial, menurutnya, dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan edukasi kebencanaan, informasi positif, sekaligus mengajak masyarakat terlibat dalam berbagai kegiatan kemanusiaan.
Namun, ia mengingatkan agar aktivitas sosial tidak berhenti sebatas dokumentasi dan publikasi. Hal terpenting adalah memastikan setiap kegiatan benar-benar menghadirkan manfaat bagi masyarakat.
“Jangan hanya menjadi bagian dari sebuah organisasi, tetapi jadilah bagian dari perubahan. Di mana pun kalian berada, usahakan selalu ada kebaikan yang bisa diberikan. Sebab, pengabdian yang sesungguhnya bukan tentang seberapa besar kita dikenal, melainkan seberapa besar kehadiran kita dirasakan manfaatnya oleh orang lain,” tuturnya.
Penutupan Diklatsar tersebut sekaligus menandai berakhirnya pembekalan calon anggota Brigade Penolong 13.29 Kwarcab Sumenep. Selama dua hari, peserta mendapatkan berbagai materi dan praktik lapangan, mulai dari Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD), Fire Rescue, Water Rescue, Mitigasi Bencana, hingga Scout Digital Creative.
Melalui kegiatan tersebut, diharapkan lahir relawan-relawan Pramuka yang tidak hanya memiliki keterampilan dalam pertolongan dan penanggulangan bencana, tetapi juga berwawasan luas, adaptif, serta memiliki kepedulian sosial yang kuat.
Lebih dari sekadar menyandang atribut organisasi, anggota Brigade Penolong 13.29 diharapkan mampu membuktikan bahwa kehadiran relawan harus menjadi bagian dari solusi dan membawa manfaat nyata bagi masyarakat Kabupaten Sumenep.
Penulis : Red







