Videotron Pemkab Probolinggo Habiskan Rp 4 M Hanya Menyala 6 Jam Sehari, Biaya Operasional Bikin Geleng Kepala

Kamis, 21 Agustus 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Vidiotron senilai Rp 4 miliar di Pemkab Probolinggo, yang hanya menyala 6 jam sehari. Megah tapi terbatas, layar raksasa ini kini menjadi simbol kontroversi borosnya anggaran publik, memicu sorotan keras dari masyarakat

Vidiotron senilai Rp 4 miliar di Pemkab Probolinggo, yang hanya menyala 6 jam sehari. Megah tapi terbatas, layar raksasa ini kini menjadi simbol kontroversi borosnya anggaran publik, memicu sorotan keras dari masyarakat

PROBOLINGGO, Detikzone.id – Sebuah perangkat publik seharga Rp 4 miliar kini menjadi sorotan panas di Kabupaten Probolinggo. Videotron milik Pemkab Probolinggo, yang digadang-gadang sebagai media informasi dan promosi daerah, ternyata hanya beroperasi 6 jam sehari, sementara biaya listrik tahunan yang harus dikeluarkan mencapai sekitar Rp 100 juta.

Pengadaan videotron ini awalnya direncanakan sebagai sarana informasi modern yang dapat dimanfaatkan selama 24 jam penuh. Namun, kenyataan berbicara lain. Karena daya listrik yang sangat tinggi, Pemkab Probolinggo memutuskan membatasi jam operasional: mulai pukul 08.00 – 10.00 WIB di pagi hari, dan pukul 20.00 – 22.00 WIB di malam hari.

Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik, dan Persandian (Diskominfo) Kab. Probolinggo, Ulfiningtyas, menjelaskan bahwa biaya listrik selama ini masih ditangani oleh Bagian Umum karena Diskominfo belum memiliki anggaran khusus.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

“Untuk saat ini, anggaran tagihan listrik vidiotron ada pada Bagian Umum. Tahun depan, Diskominfo akan mulai mengelolanya secara mandiri,” ujar Ulfi, mantan Camat Dringu, Kamis (21/08/2025).

Sementara itu, Kepala Bagian Umum Kab. Probolinggo, Yuwanita, menambahkan bahwa tagihan listrik per bulan berbeda-beda tergantung pemakaian. Rata-rata satu unit vidiotron menghabiskan sekitar Rp 2,3 juta per bulan, angka yang cukup fantastis mengingat perangkat ini hanya aktif 6 jam sehari.

Fenomena ini memicu pertanyaan publik: apakah investasi Rp 4 miliar ini sepadan dengan manfaat yang diterima? Efisiensi listrik menjadi alasan utama, namun pembatasan operasional yang ketat membuat fungsi videotron sebagai sarana informasi publik terlihat minimal.

Sejumlah warga dan pengamat menilai, keputusan ini menggambarkan ketidaksiapan Pemkab Probolinggo dalam mengelola aset mahal.

“Seharusnya, sebelum menggelontorkan Rp 4 miliar, kajian operasional dan biaya listrik sudah dilakukan. Ini terkesan mubazir,” ujar seorang warga yang enggan disebut namanya.

Videotron yang semula diharapkan menjadi ikon modernisasi komunikasi publik kini justru menjadi simbol kontroversi, dengan biaya tinggi tapi fungsi terbatas. Publik menanti langkah tegas Pemkab untuk memastikan perangkat ini benar-benar memberi manfaat maksimal bagi masyarakat, bukan sekadar proyek mewah yang hanya menyala sebentar.

Dengan situasi ini, tantangan besar bagi Pemkab Probolinggo adalah menyeimbangkan investasi teknologi dengan efisiensi biaya dan pemanfaatan optimal.  Sebab, Biaya listrik yang menggerus Rp 100 juta per tahun untuk alat yang hanya “menyala sebentar” jelas menimbulkan tanda tanya besar. Anggaran publik seharusnya digunakan untuk program yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat, bukan menjadi ajang pemborosan dan pajangan mahal.

Pengelolaan yang belum terkoordinasi, antara Diskominfo dan Bagian Umum, menunjukkan lemahnya perencanaan dan akuntabilitas. Publik berhak merasa kecewa, dana rakyat disia-siakan, sementara manfaat yang dijanjikan tak kunjung terlihat.

Hal tersebut menjadi simbol kegagalan manajemen dan pemborosan anggaran. Warga harus terus mengawasi, menuntut transparansi, dan menekan pemerintah agar investasi publik benar-benar memberi manfaat nyata, bukan sekadar proyek mahal untuk pencitraan semata.

 

Penulis : Moch Solihin

Berita Terkait

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura
Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura
Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026
Penyelidikan Ibu dan Balita Hilang di Madiun Didesak PH Dipercepat
Diskominfo Sumenep Sukses Dorong Kampanye Digital Lewat Gerakan “Nongtong Bareng” di Festival Musik Tong-Tong
JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik
Di Balik Festival Tong-Tong, Cak Fauzi Titip Pesan untuk Masa Depan Sumenep di Hari Jadi ke-757
Hari Jadi Sumenep ke-757, Cak Fauzi Dorong Gotong Royong Jadi Kekuatan Pembangunan

Berita Terkait

Minggu, 18 Oktober 2026 - 16:27 WIB

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:54 WIB

Bupati Sumenep: Festival Tong-Tong Bukan Sekadar Hiburan, tetapi Identitas Budaya Madura

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:45 WIB

Hari Jadi Sumenep Penuh Kemegahan Budaya, Kementerian Pariwisata Apresiasi Festival Tong-Tong yang Kembali Tembus KEN 2026

Minggu, 18 Oktober 2026 - 15:19 WIB

Penyelidikan Ibu dan Balita Hilang di Madiun Didesak PH Dipercepat

Minggu, 18 Oktober 2026 - 11:14 WIB

JJS DPRD Sumenep Jadi Simbol Kebersamaan, Cak Fauzi: Jangan Terpecah karena Politik

Berita Terbaru

PEMERINTAHAN

Bupati Tongtong Sumenep: Pemimpin Penjaga Warisan Budaya Madura

Minggu, 18 Okt 2026 - 16:27 WIB

TNI-POLRI

Polisi Ungkap Dugaan Kasus Sabu di Nonggunong Sumenep

Minggu, 18 Okt 2026 - 11:51 WIB