Oleh: Silvester Moan Nurak, Pendamping Desa Kecamatan Mapitara
Maumere, DetikZone.id – Antusiasme warga Desa Natakoli Kecamatan Mapitara terhadap program ketahanan pangan Desa sangat tinggi. Saat ini beberapa kelompok tani sedang menyiapkan persiapan awal budidaya jagung.
Salah satunya, kelompok tani Popowolot yang sudah melakukan pembersihan lahan untuk penanaman jagung hibrida bisi 18, pada, Rabu, (20/8/2025). Lahan seluas 1 hektar ini terletak di dusun Umatawu, sekitar 2 kilometer arah timur dari jalan raya Bola Hale.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Program ketahanan pangan merupakan kebijakan pemerintah pusat guna mendukung ketercukupan pangan di Desa demi mewujudkan swasembada pangan. Pembiayaannya bersumber dari Dana Desa dan dikelola oleh Badan Usaha Milik Desa (BUM Desa)
Sesuai dengan _time schedule_, memasuki minggu ke-2 bulan Agustus 2025 dilakukan pembersihan lahan. Lalu, dilanjutkan pengolahan dan penanaman sampai di bulan September 2025.
Masa perawatan yang meliputi penyiangan, pemupukan dan pengendalian hama terjadi di akhir bulan September sampai dengan Desember 2025. Sedangkan, pemanenan diperkirakan di bulan Januari 2026.
Ketua Kelompok Tani Popowolot, Ignasius Warat, mengungkapkan, pola pengerjaan dilakukan secara gotongroyong oleh seluruh anggota kelompok tani yang berjumlah 12 orang, demi memastikan keberhasilan dan kelancaran proses pertanian.
“Kami lakukan secara gotongroyong, semua anggota yang berjumlah 12 orang telibat semua, demi memastikan keberhasilan dan kelancaran proses pertanian. Sehingga, target kami bisa diselesaikan dalam 3-5 hari ke depan”, ungkapnya.
Pada tahapan berikut, ia ingin mengajak kelompok tani yang lain untuk membangun kerjasama. Kegiatan yang sudah terjadwal di masing-masing kelompok tidak hanya dikerjakan oleh sesama anggota kelompoknya tetapi juga melibatkan anggota dari kelompok tani tani yang lain.
Karena menurutnya, dengan bekerjasama, pekerjaan yang berat akan terasa lebih ringan dan dapat selesai lebih cepat dibandingkan jika dilakukan sendiri-sendiri.
“Kalau bisa dari semua jadwal yang ada di masing-masing kelompok, kita kerjakan secara bersama-sama. Misalnya, hari ini di kelompok Popowolot, kelompok yang lain kita undang untuk kerja secara bersama-sama, demikian juga di kelompok lain”, bebernya.
Sementara itu, Petugas Penyuluh Lapangan (PPL) Pertanian, Martinus Meong, SP, menjelaskan, pihaknya akan memberikan pendampingan kepada petani menggunakan pendekatan semi Sekolah Lapang (Semi SL).
Menurutnya, melalui pendekatan ini para petani akan diberikan bimbingan secara langsung di lahan pertanian mulai dari tahapan pengolahan, perawatan sampai pada pemanenan dan pascapanen guna meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani secara partisipatif dan praktis.
“Membantu petani belajar, bereksperimen, memecahkan masalah, dan menerapkan teknologi yang tepat secara mandiri untuk usaha tani yang lebih efisien dan berkelanjutan”, jelasnya.
Pantauan *DetiZone* , terlihat para petani menggunakan parang memotong dan membabat semua rumput serta tanaman yang sudah selesai dipanen di dalam areal lahan. Rumput yang sudah dipotong kemudian dibakar.
Hadir dalam kegiatan, anggota kelompok tani Popowolot, pengurus BUM Desa Sina Rua Bersinar, PPL Pertanian dan Pendamping Desa.
*Infrastruktur Jalan Dan Air Masih Menjadi Hambatan*
Ketua Kelompok Tani Popowolot, Ignasius Warat, mengungkapkan, salah satu kendala utama yang dihadapi para petani di dusun Umatawu khususnya di daerah Popowolot adalah infrastruktur jalan dan air.
Menurutnya, kondisi jalan menuju lahan pertanian di sekitar Popowolot masih jalan tanah dengan topografi berbukit dan tekstur tanah yang berbatu kurang lebih sepanjang 2 kilometer. Hal ini sangat menyulitkan warga untuk menjangkau lahan dan mengangkut hasil pertaniannya.
“Jalan sudah ada hanya belum dirabat, kondisi ini sangat menyulitkan kami untuk menjangkau lahan apalagi mengangkut hasil pertanian dari kebun ke rumah atau ke pasar”, tuturnya.
Dikatakan, hasil pertanian hanya bisa diangkut dengan menggunakan tenaga manusia dengan cara dipikul. Sehingga, hasil pertanian yang dibawa dari kebun hanya sedikit.
“Hasil pertanian seperti Ubi jalar, Ubi kayu, jagung diangkut hanya menggunakan tenaga manusia dengan cara dipukul, sehingg hasil yang dibawa dari kebun ke rumah atau ke pasar hanya sedikit”, ujarnya.
Selain jalan, permasalahan lainnya adalah infrastruktur air. Dikatakan, pada dasarnya di wilayah kecamatan Mapitara termasuk di Popowolot banyak memiliki sumber mata air. Namun, tidak ditunjang dengan infrastruktur seperti perpipaan, bak penampung yang baik.
Air hanya dialirkan menggunakan bilah bambu. Kondisi ini menyebabkan rentan terjadinya kerusakan dan air gampang tercemar atau bahkan dicemari karena mengalir secara terbuka.
“Infrastruktur air belum memadai, hanya dialirkan menggunakan bilah bambu, gampang rusak. Selain itu, gampang tercemar atau dicemari karena kondisi air mengalir secara terbuka”, ungkapnya.
Ditambahkan, pemanfaatan sumber daya air selain untuk memenuhi kebutuhan air minum warga juga untuk kepentingan pertanian.
“Pemanfaatan sumber daya air bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan skr minum warga tetapi untuk kepentingan pertanian, misalnya penyiraman tanaman”, pungkasnya.







