Kisah Nyata Detik-Detik Mencekam: Saat Pesawat Gagal Mendarat dan Iman Jadi Sandaran

Rabu, 24 September 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Kisah Nyata –  Sahabatku, izinkan aku berbagi sebuah kisah nyata yang hingga kini masih terasa begitu menegangkan dalam ingatanku. Kejadian ini benar-benar membuatku menyadari betapa rapuhnya kita sebagai manusia, ciptaan Tuhan, di hadapan kuasa-Nya.

Malam itu aku berangkat dari Makassar menuju Jakarta dengan pesawat Batik Air 6269. Waktu menunjukkan pukul 22.50 WITA saat kami lepas landas. Perjalanan awalnya terasa normal. Namun, sekitar dua jam kemudian, tepat ketika ko-pilot menginformasikan bahwa pesawat bersiap untuk mendarat, sesuatu yang menakutkan terjadi—pesawat gagal mendarat karena cuaca buruk.

Suasana di dalam kabin mendadak mencekam. Dari tempat dudukku, aku melihat di sebelah kanan, dua orang tua tampak ketakutan. Sementara di sebelah kiri, seorang anak perempuan menangis sambil erat memeluk ibunya. Saat itu, tubuhku sendiri tiba-tiba merespons dengan cara yang tak bisa kukendalikan. Kedua kakiku bergetar begitu kuat, meskipun aku berusaha meyakinkan hati agar tetap tenang. Seakan tubuhku tahu, kami sedang berada dalam bahaya.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Akhirnya, pilot mengumumkan bahwa pesawat dialihkan ke Palembang. Rasa takut bercampur syukur pun menyelimuti batinku. Aku teringat, sebelum berangkat aku sempat membuat status WhatsApp: “Pesawat OTW, masih bernafas.” Ternyata, kalimat sederhana itu benar-benar memiliki makna mendalam.

Sahabatku, dari kejadian itu aku belajar bahwa hidup ini begitu rapuh. Kematian bisa datang kapan saja, tanpa diduga. Namun di balik rasa takut, aku juga menemukan hikmah: Allah memberi kita kesempatan untuk kembali memperbaiki diri.

Peristiwa ini bagiku adalah alarm kehidupan. Alarm untuk selalu mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, beribadah dengan sungguh-sungguh, memperbaiki akhlak, dan yang paling penting—berbuat baik kepada sesama. Sebab hidup ini hanya sementara, dan yang abadi adalah bekal iman serta amal kebaikan.

Mari, sahabatku, kita saling mengingatkan. Jangan saling menyakiti, tapi saling mendukung, saling membantu, dan saling mendoakan. Karena pada akhirnya, surga adalah janji yang indah bagi mereka yang mencintai Allah dan makhluk ciptaan-Nya.

Jakarta, 23 September 2024
Enno

Berita Terkait

Setelah Dua Dekade Vakum, SDN Soddara II Pasongsongan Sumenep Hidupkan Kembali Tradisi Perpisahan Lewat Pentas Seni Budaya
GERBANG KAMPUS BUKAN UNTUK YANG BERKUASA: Seruan Keras Tolak Surat Sakti, Titipan Pejabat, dan Uang dalam Seleksi Mahasiswa Baru
Satu Sosok Dua Amanah: Pimred Teropong Reformasi Sekaligus Ketua DPW PERADMI JatimTegaskan Komitmen Kawal Pers dan Hukum
PWRI Kebumen Gelar Pelatihan Jurnalistik Gratis untuk Umum
Tiga Kades di Situbondo Dinonaktifkan Usai Dugaan Korupsi Dana Desa Miliaran Rupiah, Pemkab Ambil Langkah Tegas
Umat Koting B 1 Sambut Patung Bunda Maria dengan Penuh Sukacita  
Pangdam XIV/Hsn Berbagi Kebahagiaan Bersama Anak-anak Panti Asuhan di Gowa
Gus Lilur: MBG Pasti Meroket Jika Tanpa Copet

Berita Terkait

Minggu, 31 Mei 2026 - 10:42 WIB

Setelah Dua Dekade Vakum, SDN Soddara II Pasongsongan Sumenep Hidupkan Kembali Tradisi Perpisahan Lewat Pentas Seni Budaya

Sabtu, 30 Mei 2026 - 19:36 WIB

GERBANG KAMPUS BUKAN UNTUK YANG BERKUASA: Seruan Keras Tolak Surat Sakti, Titipan Pejabat, dan Uang dalam Seleksi Mahasiswa Baru

Sabtu, 30 Mei 2026 - 10:44 WIB

Satu Sosok Dua Amanah: Pimred Teropong Reformasi Sekaligus Ketua DPW PERADMI JatimTegaskan Komitmen Kawal Pers dan Hukum

Jumat, 29 Mei 2026 - 10:22 WIB

PWRI Kebumen Gelar Pelatihan Jurnalistik Gratis untuk Umum

Kamis, 28 Mei 2026 - 23:45 WIB

Tiga Kades di Situbondo Dinonaktifkan Usai Dugaan Korupsi Dana Desa Miliaran Rupiah, Pemkab Ambil Langkah Tegas

Berita Terbaru