Laut Madura Bergejolak: Ratusan Nelayan Kepung Kapal Petronas di Hari Ulang Tahun Presiden Prabowo

Jumat, 17 Oktober 2025

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

SAMPANG, Detikzone.id – Gelombang protes besar-besaran mengguncang perairan Kecamatan Ketapang, Kabupaten Sampang, Madura, tepat di hari ulang tahun ke-74 Presiden Prabowo Subianto, Jumat (17/10/2025).

Ratusan nelayan bersama ibu-ibu pesisir menggelar aksi demonstrasi di tengah laut, menolak keras kegiatan survei migas yang dilakukan perusahaan asal Malaysia, Petronas Carigali Indonesia, di area Sumur Barokah.

Dengan ratusan kapal yang berjejer di perairan, massa aksi mendatangi langsung kapal survei Petronas yang tengah beroperasi. Mereka membentangkan spanduk bertuliskan “Tolak Survei Migas Petronas, Laut Milik Nelayan!” sambil meneriakkan yel-yel perlawanan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Aksi ini menjadi potret kegeraman masyarakat pesisir yang selama ini merasa diabaikan. Aktivitas eksplorasi migas dinilai telah merusak jalur tangkap ikan dan mengancam keberlanjutan ekonomi nelayan lokal.

Tokoh nelayan Ketapang, Winarno, menegaskan bahwa aksi tersebut merupakan bentuk kekecewaan mendalam terhadap sikap perusahaan dan pemerintah yang tidak memberikan kejelasan kompensasi.

“Kami menolak keras survei dan eksplorasi Petronas. Kompensasi bagi nelayan tidak jelas, sementara aktivitas mereka sudah mengganggu jalur tangkap ikan,” tegas Winarno di tengah kerumunan nelayan yang memadati laut Ketapang.

Ia menegaskan, apabila Petronas tetap memaksakan survei, ratusan kapal nelayan siap melakukan aksi lanjutan yang lebih besar.

“Kalau kapal Petronas masih beroperasi, kami tidak akan diam. Seratus kapal siap mengusir mereka dari perairan Ketapang,” ujarnya lantang di atas perahu yang dikelilingi spanduk protes.

Aksi yang berlangsung di bawah terik matahari itu berjalan damai namun menegangkan. Beberapa kapal nelayan terlihat mengepung kapal survei Petronas, menandai puncak kemarahan masyarakat pesisir terhadap apa yang mereka sebut bentuk “pengabaian negara”.

Selain nelayan, para ibu-ibu pesisir juga turut serta dalam aksi tersebut. Mereka membawa banner bertuliskan “Laut untuk Anak Cucu Kami, Bukan untuk Asing!”, simbol dari kepedihan dan kekhawatiran akan hilangnya ruang hidup mereka.

Bagi warga Ketapang, laut bukan sekadar sumber penghasilan, melainkan warisan budaya dan ekonomi yang menjadi penopang kehidupan. Aktivitas survei migas dianggap mengancam keseimbangan ekosistem laut yang selama ini menjadi tumpuan hidup ribuan keluarga nelayan.

“Kalau laut kami rusak, siapa yang tanggung jawab? Kami hidup dari sini, bukan dari janji,” teriak salah satu peserta aksi.

Demonstrasi ini menjadi peringatan keras kepada pemerintah agar tidak menutup mata terhadap dampak sosial dan ekologis dari proyek-proyek migas di wilayah pesisir Madura.

Para nelayan menilai, keberadaan Petronas di perairan Indonesia mencerminkan lemahnya perlindungan negara terhadap masyarakat kecil di garis depan eksploitasi sumber daya alam.

Hingga berita ini diturunkan, ratusan nelayan masih bertahan mengepung kapal survei milik Petronas dan menuntut penghentian total aktivitasnya. Mereka bertekad, aksi akan terus berlanjut hingga pemerintah dan perusahaan memberikan kepastian hukum serta kompensasi yang adil bagi nelayan terdampak.

Penulis : Anam

Berita Terkait

Suami Pelapor Kritis Usai Kecelakaan, Kuasa Hukum Murniati Desak Kejelasan Laporan Dugaan Penipuan Rp68 Juta di Polsek Bajeng Gowa
Murni Bertanya atau Kelakar yang Lupa Sopan Santun? Komentar Bremy Achizar Soal Gus Thuba Tuai Kritik
Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan Dua Pria, Sabu dan Bong Disita
Buntut Komentar di Media Sosial, Pemilik Akun @BREMY Sampaikan Permintaan Maaf kepada Yakuza Maneges Kediri
Perkara Pencurian Motor Keeway di Kalidawir: Korban Sudah Terima Motor Kembali dan RJ di Kejaksaan, Mengapa Penahanan Masih Berlanjut?
Perhiasan Emas 150 Gram Hilang Misterius, Keluarga di Sumenep Lapor Polisi
Penyelidikan Ibu dan Balita Hilang di Madiun Didesak PH Dipercepat
Tagline “Polisi Bersama Masyarakat” Diuji, Idah Hamida Desak Kejelasan Kasus Rp8,95 Miliar di Polrestabes Makassar

Berita Terkait

Sabtu, 24 Oktober 2026 - 10:06 WIB

Suami Pelapor Kritis Usai Kecelakaan, Kuasa Hukum Murniati Desak Kejelasan Laporan Dugaan Penipuan Rp68 Juta di Polsek Bajeng Gowa

Jumat, 23 Oktober 2026 - 14:41 WIB

Murni Bertanya atau Kelakar yang Lupa Sopan Santun? Komentar Bremy Achizar Soal Gus Thuba Tuai Kritik

Kamis, 22 Oktober 2026 - 17:58 WIB

Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan Dua Pria, Sabu dan Bong Disita

Kamis, 22 Oktober 2026 - 07:34 WIB

Buntut Komentar di Media Sosial, Pemilik Akun @BREMY Sampaikan Permintaan Maaf kepada Yakuza Maneges Kediri

Rabu, 21 Oktober 2026 - 12:39 WIB

Perkara Pencurian Motor Keeway di Kalidawir: Korban Sudah Terima Motor Kembali dan RJ di Kejaksaan, Mengapa Penahanan Masih Berlanjut?

Berita Terbaru