Sumenep – Dunia pendidikan Kabupaten Sumenep tengah diliputi misteri dan kontroversi. Bagaimana tidak, Kepala Dinas Pendidikan, Agus Dwi Saputra, yang mengendalikan berbagai anggaran strategis, mendadak memilih diam dan titip mulut ketika dikonfirmasi terkait Belanja Modal Buku Umum Ilmu Pengetahuan Umum tahun anggaran 2025. Anggaran yang tercatat ratusan juta rupiah ini menjadi cibiran publik lantaran spesifikasi dan tujuannya yang tidak jelas, menyisakan banyak pertanyaan.
Berdasarkan dokumen yang dikantongi Detikzone, kasus ini bukanlah yang pertama. Selain belanja ratusan juta untuk buku, terdapat pula Belanja Hibah Barang APE PAUD senilai miliaran rupiah, yang juga menyimpan potensi masalah serius.
Namun yang paling membuat geleng geleng kepala adalah paket Belanja Modal Buku Umum Ilmu Pengetahuan Umum senilai ratusan juta rupiah. Adalah Belanja Modal Buku Umum Ilmu Pengetahuan Umum dengan spesifikasi 20 Jalan Keberuntungan dan 20 penyebab kerugian dalam pandangan Al-Qur’an ratusan juta rupiah yang tidak jelas diperuntukkan kemana.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Saat dikonfirmasi, Kadis Agus Dwi Saputra enggan buka suara. Bahkan hingga berita ini dipublikasikan, sosok cuek di lingkup pendidikan Sumenep itu tetap memilih tutup mulut, meninggalkan misteri yang semakin menebal.
Aktivis pendidikan Jatim, Ahmad menegaskan, anggaran pendidikan harus jelas arahnya, transparan, dan tepat sasaran.
“Belanja ratusan juta untuk buku dengan judul yang ambigu seperti ’20 Jalan Keberuntungan’ dan ’20 Penyebab Kerugian dalam Pandangan Al-Qur’an’ tentu memunculkan pertanyaan serius. Apakah buku ini memang relevan dengan kurikulum dan kebutuhan peserta didik, atau sekadar formalitas administratif? Pemerintah daerah harus bertanggung jawab memastikan setiap rupiah yang dialokasikan benar-benar mendukung peningkatan kualitas pendidikan,” ujarnya.
Ia menyebut, transparansi dan akuntabilitas adalah kunci. Jika publik dan guru tidak mengetahui kegunaan anggaran ini, maka akan muncul kecurigaan dan potensi penyalahgunaan. Pendidikan bukan tempat untuk eksperimen finansial yang tidak jelas manfaatnya bagi murid,” tandasnya.
Tim investigasi Detikzone.id, kini terus menelusuri jejak anggaran ini, mencari jawaban dari setiap lembar dokumen dan bukti yang ada.
Detikzone akan terus mengawal setiap langkah, membuka tabir, dan menyorot fakta yang mungkin tak ingin diperlihatkan.







