SEMARANG, Detikzone.id – Menjelang pergantian tahun, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyampaikan refleksi atas perjalanan ekonomi sepanjang 2025. Tahun ini menjadi momentum penting, karena meskipun menghadapi tekanan fiskal akibat penyusutan Transfer ke Daerah (TKD), denyut ekonomi tetap menunjukkan perkembangan positif.
Gubernur Ahmad Luthfi bersama Wakil Gubernur Taj Yasin meneguhkan komitmen untuk menggerakkan roda ekonomi melalui kolaborasi lintas pemangku kepentingan.
Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan perekonomian Jawa Tengah tumbuh 5,37 persen pada Triwulan III 2025 secara tahunan, melampaui rata-rata nasional yang berada di angka 5,04 persen.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Angka ini menjadi indikator bahwa daya saing ekonomi daerah terus menguat, sejalan dengan meningkatnya aktivitas produksi, perdagangan, serta konsumsi masyarakat.
Empat sektor masih menjadi penopang utama perekonomian daerah, yakni industri pengolahan dengan kontribusi tertinggi sebesar 33,43 persen, kemudian perdagangan 13,44 persen, pertanian 12,88 persen, dan konstruksi 11,82 persen.
Di sisi permintaan, konsumsi rumah tangga masih berperan besar dengan proporsi 60,64 persen, menandakan bahwa kehidupan ekonomi masyarakat tetap berjalan stabil di tengah situasi nasional yang bergerak dinamis.
Dalam evaluasi tahunan yang dilakukan di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi menegaskan bahwa pembangunan ekonomi tidak dapat bersandar pada APBD semata.
Ia menyebut bahwa peran APBD hanya sekitar 15 persen dalam mendorong pertumbuhan, sementara sisanya, sekitar 85 persen, berasal dari investasi yang masuk.
Karena itulah Pemerintah Provinsi terus mendorong model pemerintahan kolaboratif untuk memperluas peluang investasi, mempercepat layanan perizinan digital, serta menciptakan iklim usaha yang pasti dan aman.
Bukti keberhasilan strategi tersebut tergambar dari data Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Jawa Tengah.
Sepanjang Januari–September 2025, realisasi investasi mencapai Rp66,13 triliun dengan serapan tenaga kerja mencapai 326.462 orang.
Angka tersebut menempatkan Jateng sebagai salah satu wilayah dengan serapan pekerja tertinggi kedua di Pulau Jawa, menegaskan bahwa investasi tidak hanya hadir sebagai angka, tetapi juga memberikan dampak riil bagi masyarakat.
Capaian ekonomi daerah juga mendapat perhatian dan pengakuan di tingkat nasional. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dianugerahi predikat Pioneer of Economic Empowerment atau Pelopor Pemberdayaan Ekonomi dalam ajang Indonesia Kita Award yang digelar pada 10 November 2025 di Jakarta.
Penghargaan tersebut diterima langsung oleh Gubernur Ahmad Luthfi dan menjadi simbol keberhasilan kebijakan ekonomi yang diarahkan untuk memperkuat struktur ekonomi daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Hasil pembangunan ekonomi pun mulai terlihat pada indikator sosial. Berdasarkan data BPS Jawa Tengah, persentase penduduk miskin turun dari 9,58 persen pada September 2024 menjadi 9,48 persen pada Maret 2025.
Penurunan ini menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi mampu menyentuh masyarakat kelas bawah melalui pembukaan lapangan kerja dan berbagai program pemberdayaan.
Persiapan Menyambut 2026: Transformasi Menuju Ekonomi yang Lebih Adaptif
Menjelang 2026, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyiapkan sejumlah strategi untuk mempercepat pemulihan dan memperkuat ekonomi daerah.
Dalam forum Bisnis Indonesia Group (BIG) Conference, Asisten Ekonomi dan Pembangunan Sekda Jateng, Sujarwanto Dwiatmoko, menyampaikan bahwa transformasi struktural menjadi agenda kunci.
Ia menjelaskan bahwa sektor industri pengolahan tetap menjadi lokomotif pertumbuhan, sementara pertanian akan menjadi sektor stabilisator ketahanan pangan dan pengendali inflasi.
Tantangan-tantangan seperti fluktuasi harga pangan, perubahan global supply chain, hingga keterbatasan bahan baku menjadi alasan pentingnya modernisasi pertanian dan peningkatan produktivitas industri.
Untuk itu, Pemprov menyiapkan langkah strategis, di antaranya.memperluas kawasan ekonomi dan kawasan industri baru di kabupaten/kota, mempercepat investasi berbasis teknologi dan energi hijau, memperkuat digitalisasi produksi dan teknologi manufaktur.
Kemudian meningkatkan kualitas SDM melalui vokasi dan kemitraan pendidikan dengan dunia usaha, serta menguatkan hubungan antara pelaku industri dan sektor pertanian sebagai penopang rantai pasok daerah.
Dengan realisasi investasi yang menguat, pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat dari rata-rata nasional, serta strategi jangka menengah yang telah disiapkan, Jawa Tengah memasuki tahun 2026 dengan optimisme.
Harapannya, transformasi ekonomi yang dimulai sejak 2025 dapat berlanjut menjadi percepatan pembangunan yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Penulis : Mualim







