Sumenep — Di tengah perubahan sosial dan ekonomi yang bergerak cepat, sebuah warung nasi sederhana di Jalan Raya Gapura, Desa Bangkal, Kabupaten Sumenep, masih setia berdiri.
Warung Nasi Pak Ending, yang dikenal dengan menu khas nasi gule sapi kekelan, menjadi salah satu warisan kuliner yang bertahan lintas generasi dan zaman.
Sejak awal berdiri, harga seporsi nasi gule di warung ini mengalami perjalanan panjang, dari semula hanya sekitar Rp250 hingga kini berada di kisaran Rp20 ribu.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT

Berdasarkan keterangan Ubai Bani, salah satu pihak yang mengetahui sejarah warung tersebut, Warung Nasi Pak Ending telah berdiri sejak era penjajahan Belanda, puluhan tahun silam.
Pada masa itu, warung ini menjadi tempat singgah warga dan pekerja lokal yang membutuhkan hidangan hangat dengan harga terjangkau.
“Warung ini sudah ada sejak zaman Belanda. Dari dulu sampai sekarang tetap menjual nasi gule sapi,” ujar Ubai Bani kepada Detikzone.id, Minggu (28/12/2025).
Menu yang disajikan Warung Nasi Pak Ending dikenal sederhana namun lengkap. Dalam satu porsi nasi gule, pelanggan disuguhi daging sapi, empal, telur, serta kuah gule dengan racikan bumbu tradisional. Keaslian rasa menjadi ciri khas yang terus dipertahankan meski zaman terus berubah.
Secara fisik, warung ini tidak banyak mengalami perubahan mencolok. Bangunan sederhana dan suasana khas warung rakyat menjadi daya tarik tersendiri bagi pelanggan lama maupun pengunjung baru.
Warung tersebut seolah menjadi saksi bisu perjalanan sejarah Desa Bangkal dari masa ke masa.
Saat ini, pengelolaan Warung Nasi Pak Ending telah beralih ke generasi kedua. Meski demikian, nilai-nilai yang diwariskan pendiri warung tetap dijaga, terutama dalam hal resep dan pelayanan kepada pelanggan.
Ubai Bani juga menyebutkan bahwa dinamika zaman turut memengaruhi kondisi operasional warung.
Jika pada masa lalu warung ini mampu mempekerjakan hingga delapan orang karyawan, kini jumlah tenaga kerja tersisa empat orang. Penyesuaian tersebut dilakukan seiring perubahan kebutuhan dan kondisi usaha.
“Dulu karyawannya sampai delapan orang, sekarang tinggal empat,” jelasnya.
Meski menghadapi berbagai tantangan, Warung Nasi Pak Ending tetap bertahan dan menjadi bagian dari denyut kehidupan masyarakat Bangkal.
Keberadaannya bukan sekadar soal bisnis kuliner, tetapi juga tentang merawat ingatan kolektif dan menjaga tradisi rasa yang telah hidup puluhan tahun.
Di tengah gempuran usaha kuliner modern, Warung Nasi Pak Ending membuktikan bahwa ketekunan, konsistensi, serta kejujuran dalam menjaga kualitas mampu membuat sebuah usaha rakyat bertahan melampaui zaman.
Warung ini kini tidak hanya menyajikan makanan, tetapi juga menghadirkan cerita panjang tentang sejarah, kerja keras, dan keberlanjutan generasi.
Penulis : Redaksi







