SUMENEP – Aula Tuan Gubhe, Gedung Bahaudin Universitas Bahaudin (UNIBA), Rabu (28/1/2026), berubah menjadi ruang silaturahmi besar yang sarat makna. Ratusan tamu datang silih berganti menghadiri acara ngunduh mantu Ajay Ichwan Pamungkas, S.H., putra dari Haji Ubaid dan Ibu Helmiwati, dengan Siti Safaratul Aqidah, S.M., putri dari Muhammad Nurhasan dan Ibu Sahriyati.
Sejak pagi hingga siang, arus tamu tak pernah surut. Pejabat daerah, pengusaha, tokoh masyarakat, hingga para kepala desa se-Kabupaten Sumenep hadir memberikan ucapan selamat.
Kehadiran lintas kalangan tersebut menegaskan bahwa hajatan ini bukan sekadar peristiwa keluarga, melainkan momentum kebersamaan yang mempertemukan berbagai elemen masyarakat dalam satu ikatan silaturahmi.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
Di pelaminan, kedua mempelai tampil serasi dan tenang, bak Romeo dan Juliet dalam balutan nilai adat dan religi. Tatapan keduanya memancarkan kesiapan menapaki kehidupan rumah tangga, bukan semata berlandaskan cinta, tetapi juga tanggung jawab, kesetiaan, dan komitmen jangka panjang.
Dalam tradisi Madura, ngunduh mantu menjadi simbol penerimaan penuh mempelai perempuan ke dalam keluarga besar mempelai laki-laki.
Bagi masyarakat Madura, ngunduh mantu bukan sekadar resepsi lanjutan. Tradisi ini memuat pesan luhur tentang penghormatan, persaudaraan, dan rasa syukur dan menegaskan bahwa pernikahan adalah ikatan sosial yang menyatukan dua keluarga besar, sekaligus memperkuat jalinan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
H. Ubaid Abdul Hayat, ayah mempelai pria, tak menyembunyikan rasa haru atas terselenggaranya rangkaian acara tersebut. Ia menuturkan bahwa pernikahan adalah amanah besar yang harus dijaga dengan keimanan dan tanggung jawab.
“Pernikahan bukan hanya tentang kebahagiaan hari ini, tetapi amanah seumur hidup. Kami berharap mereka saling menjaga, saling menguatkan, dan menjadikan rumah tangga ini sebagai ladang ibadah,” ujarnya.
Pada kesempatan itu, H. Ubaid juga menyampaikan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir dan memberikan doa restu.
Ia mengapresiasi para pejabat daerah, tokoh masyarakat, para kepala desa se-Kabupaten Sumenep, sahabat, serta keluarga besar yang telah meluangkan waktu untuk menyemarakkan dan mendoakan kelancaran acara ngunduh mantu tersebut.
“Kehadiran semua adalah kehormatan besar bagi keluarga kami. Semoga silaturahmi ini terus terjaga dan membawa keberkahan bagi kita semua,” tuturnya.
Sebelumnya, Ajay Ichwan Pamungkas dan Siti Safaratul Aqidah telah melangsungkan akad nikah pada Senin (26/1/2026) di kediaman mempelai wanita. Prosesi akad berlangsung khidmat, menandai ikatan suci yang kemudian diteguhkan melalui tradisi ngunduh mantu dan pertemuan keluarga besar.
Rangkaian pernikahan ini menjadi pelajaran berharga, khususnya bagi generasi muda, bahwa pernikahan bukan hanya tentang pesta atau seremoni. Ia adalah perjumpaan antara agama, adat, dan tanggung jawab, sebuah perjalanan panjang yang dimulai dengan doa, silaturahmi, dan komitmen untuk tumbuh bersama.
Penulis : Redaksi







